Pengembangan kawasan terpadu di Surabaya Timur mulai memasuki tahap konstruksi. Proyek seluas 23 hektare ini nantinya tidak hanya berisi hunian, tetapi juga kawasan bisnis, hotel, fasilitas pendidikan hingga rumah sakit.
Pembangunan kawasan tersebut resmi dimulai melalui groundbreaking yang digelar pada hari ini Rabu (30/9/2026). Proyek ini sebelumnya diperkenalkan pada Mei 2026 dan kini mulai masuk tahap pembangunan fisik.
Kawasan tersebut dirancang dengan konsep edu hub yang menggabungkan sejumlah fungsi dalam satu area. Di dalamnya akan terdapat hunian berbentuk communal house (COHO), business hub, event space, hotel, showroom, fasilitas publik, serta rencana rumah sakit dan sekolah internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembangunan tahap pertama akan difokuskan pada infrastruktur kawasan dan tower COHO Smart. Tahap ini ditargetkan rampung pada 2029. Direktur Urbanova Tatang Sukmana mengatakan groundbreaking menjadi penanda bahwa proyek tersebut mulai direalisasikan secara fisik.
"Groundbreaking ini merupakan bukti bahwa Urbanova bukan sekadar konsep, melainkan proyek yang benar-benar dibangun. Dalam waktu relatif singkat, komitmen tersebut telah diterjemahkan menjadi langkah-langkah pembangunan yang nyata, dari visi menuju eksekusi," ujar Tatang di lokasi groundbreaking, Surabaya Timur, Rabu (30/9/2026).
Pemilihan Surabaya Timur sebagai lokasi pengembangan kawasan tidak terlepas dari ekosistem pendidikan dan industri yang telah berkembang di wilayah tersebut.
Menurut Tatang, kawasan proyek dikelilingi sejumlah kampus dan kawasan industri. Kondisi tersebut dinilai memberikan basis pasar bagi pengembangan hunian maupun fasilitas komersial.
"Data menunjukkan kawasan ini dikelilingi kampus dan kawasan industri. Dengan demikian, Urbanova memiliki pasar potensial yang kuat, yaitu lebih dari 64.000 mahasiswa dan pekerja di kawasan industri SIER," katanya.
Konsep yang ditawarkan kemudian diarahkan untuk mengintegrasikan berbagai aktivitas tersebut dalam satu kawasan, mulai dari tempat tinggal, bekerja, belajar hingga kebutuhan rekreasi dan layanan masyarakat.
Tatang menyebut proyek ini membawa filosofi From Ground to Gold. Konsep tersebut menggambarkan upaya mengubah lahan yang sebelumnya belum memberikan nilai optimal menjadi kawasan dengan nilai ekonomi dan sosial yang lebih tinggi.
"Dulunya kawasan ini belum produktif. Kami berkomitmen untuk meningkatkan nilainya sehingga menjadi 'emas'-memiliki nilai ekonomi tinggi," ujarnya.
Tatang mengungkapkan kawasan tersebut memiliki sejarah pengembangan yang cukup panjang. Sebelum dikembangkan saat ini, pernah ada rencana dari pihak lain untuk mengembangkan kawasan tersebut, tetapi tidak terealisasi.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan strategi pembangunan proyek.
Menurutnya, proyek properti tidak cukup hanya mengandalkan konsep dan potensi pasar. Kepastian pembangunan juga membutuhkan kesiapan modal, mitra konstruksi, perencanaan serta kemampuan eksekusi.
Dalam proyek ini, PT DMS Propertindo Tbk menggandeng China Light Industry International Engineering Co., Ltd. (CLIEC) melalui skema turnkey. Kerja sama tersebut mencakup perencanaan teknis, engineering, pengadaan, konstruksi hingga penyelesaian proyek.
Groundbreaking dilakukan sekitar 50 hari setelah kedua perusahaan menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 11 Agustus 2026.
"Masuknya CLIEC harus dilihat sebagai bagian dari strategi Urbanova untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai rencana. Perlu digarisbawahi, keamanan dan kenyamanan konsumen adalah yang kami utamakan. Pembangunan tahap awal dibiayai sepenuhnya oleh CLIEC sehingga tidak bergantung pada uang muka konsumen," jelas Tatang.
CLIEC merupakan perusahaan yang bergerak di bidang desain dan manajemen konstruksi. Perusahaan tersebut telah berdiri sejak 1953 dan disebut telah mengerjakan lebih dari 9.000 proyek di lebih dari 20 negara.
Sementara itu, DMS Propertindo sebelumnya menyampaikan rencana belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 3 triliun untuk pengembangan kawasan tersebut.
Kerja sama kedua pihak diharapkan dapat mendukung pembangunan dari sisi teknis, kualitas konstruksi, efisiensi hingga ketepatan waktu penyelesaian proyek.
(das/das)
