Kebanyakan konsumen yang menjadi korban apartemen mangkrak telah membeli unit sebelum proyek 100 persen rampung. Ada yang menyetorkan langsung kepada pengembang secara bertahap dan ada pula yang melalui Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) Indent.
KPA indent merupakan skema kredit yang mirip dengan cicilan rumah pada umumnya. Namun, KPA ini berjalan ketika rumah belum jadi. Biasanya KPA bisa dimulai ketika rumah sudah siap huni.
Konsep KPA indent ini memang menarik karena konsumen bisa menyicil hunian sembari menunggu serah terima. Namun, skema ini sangat rawan karena proyek mungkin saja mangkrak atau bermasalah di tengah jalan. Sementara, jika ingin berhenti pasti bank tidak akan mudah menyetujui. Alhasil kamu harus membayar cicilan agar skor kredit tidak jelek karena dianggap wanprestasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut pengamat properti sekaligus Direktur Global Asset Management Steve Sudijanto skema KPA Indent sebaiknya dihindari, apalagi membeli rumah dari pengembang swasta. Tidak ada jaminan uang tersebut kembali.
"Saya sarankan jangan beli KPA Indent. Kalau tidak selesai apartemennya atau tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan di brosur, yang jadi korban selalu konsumen. Harus mengadu kemana?" kata Steve saat dihubungi detikcom pada Kamis (24/9/2026).
Steve mengingatkan tidak apa-apa tidak kedapatan harga apartemen murah karena ujung-ujungnya tidak akan ada nilainya jika proyek tersebut mangkrak.
"Harga naik, nggak usah takut. Apartemen banyak kok. Nggak usah takut dengan KPA," pesannya.
Namun, jika skema tersebut diterapkan pada proyek rumah atau hunian vertikal garapan pemerintah, Steve merasa itu tidak akan jadi masalah. Pemerintah pasti akan mengusahakan proyek tersebut diselesaikan.
"Didukung pemerintah ya. Pemerintah yang bertanggung jawab kan. No problem, nggak masalah. Tapi kalau KPA Indent tidak didukung pemerintah, ya jangan. Saya mau beli kalau didukung pemerintah. KPA Inden yang didukung pemerintah pasti jadi," jelasnya.
KPA Indent ini sudah ditemukan pada beberapa proyek garapan BUMN. Salah satunya adalah pada penjualan apartemen LRT City. Beberapa konsumen mengaku membeli lewat KPA indent. Proyek tersebut memang bermasalah sudah beberapa bulan belakangan ini terhenti karena keuangan pengembang PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) bermasalah. Namun, Danantara langsung turun tangan berencana akan memberikan tambahan dana sebesar Rp 456 miliar untuk 12 proyek apartemen yang tengah dibangun ADCP.
Skema ini juga akan diterapkan pada penjualan rusun subsidi di Manggarai yang baru saja groundbreaking pada Agustus 2026 dan Rusun Subsidi Meikarta yang sudah mulai dibangun sejak Maret 2026.
