Kawasan Maja, Kabupaten Lebak, Banten, mulai menunjukkan perubahan sebagai kawasan hunian bagi masyarakat yang bekerja di Jakarta dan wilayah sekitarnya. Salah satu faktor yang ikut mendorong minat tersebut adalah akses transportasi, terutama keberadaan KRL yang menghubungkan Maja dengan sejumlah wilayah di Jabodetabek.
Gambaran itu terlihat dari aktivitas akad kredit yang digelar pengembang Permata Mutiara Maja, PT Bukitnusa Indahperkasa. Sebanyak 56 konsumen dari Cluster Montana dan Cluster Beryl mengikuti akad kredit dalam kegiatan tersebut. Harga rumah yang diakadkan berada di rentang mulai Rp166 juta hingga Rp300 juta.
Marketing and Sales Director PT Bukitnusa Indahperkasa Cornelius Widjaja mengatakan, permintaan rumah di kawasan tersebut masih cukup terlihat, khususnya dari masyarakat yang mencari hunian dengan harga yang relatif terjangkau dan akses transportasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tingginya penyerapan rumah di Permata Mutiara Maja menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang terjangkau, berkualitas, dan memiliki akses transportasi yang baik masih sangat besar," ujar Cornelius dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).
Menurut Cornelius, konsumen yang membeli rumah di kawasan tersebut mayoritas berasal dari Jakarta dan wilayah sekitarnya. Banyak di antaranya merupakan pekerja kantoran dan keluarga muda. Faktor perjalanan menuju tempat kerja menjadi salah satu pertimbangan ketika memilih rumah di Maja.
"Saat ini jumlah pemesan cukup meningkat karena para pekerja dari Jakarta dan sekitarnya mencari rumah yang mudah dijangkau dengan KRL. Ini menjadi salah satu faktor yang membuat kawasan Maja semakin menarik sebagai pilihan tempat tinggal," jelas Cornelius.
Dari sisi pembiayaan, KPR masih menjadi pilihan utama konsumen. Sekitar 98% pembeli Permata Mutiara Maja menggunakan fasilitas KPR untuk memiliki rumah. Pilihan hunian yang tersedia mencakup rumah subsidi tipe 27/60 dan rumah komersial dengan beberapa pilihan tipe. Harganya berada di kisaran Rp166 juta hingga Rp500 jutaan.
Menariknya, permintaan tidak hanya datang dari segmen rumah subsidi. Pengembang juga mulai memperbesar pasar rumah komersial.
"Kami melihat potensi pasar perumahan di kawasan Maja masih sangat besar. Selain tetap menjadi pilihan utama untuk rumah subsidi, saat ini kami juga mulai mengembangkan pasar rumah komersial yang mendapat respons positif dari masyarakat," ungkap Cornelius.
Di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi sejumlah tantangan, perusahaan menargetkan penjualan 1.400 unit rumah sepanjang 2026. Hingga saat ini, realisasinya disebut telah mencapai lebih dari 90% dari target tersebut.
"Memang ada pengaruh dari kondisi ekonomi, tetapi tidak terlalu signifikan. Strategi kami adalah terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai betapa penting dan berharganya memiliki hunian sendiri," tutur Cornelius.
Dari sisi kawasan, Permata Mutiara Maja dikembangkan di atas lahan sekitar 200 hektare. Sekitar 90 hektare di antaranya telah dikembangkan dan menampung sekitar 7.000 unit rumah. Dari jumlah tersebut, sekitar 5.500 kepala keluarga telah menghuni kawasan tersebut.
