Dua apartemen mewah berkonsep penthouse yang dikabarkan milik pimpinan Iran Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei tengah dijual. Keberadaan apartemen ini sempat jadi bahan pembicaraan setelah Mojtaba diangkat sebagai pemimpin.
Dilansir dari Sunday Times, apartemen-apartemen tersebut dijual setelah bankir Iran Ali Ansari yang dituduh sebagai kaki tangan Khamenei, dikenai sanksi. Ansari kabarnya gagal membayar utang3 sehingga pemerintah Inggris memutuskan properti-properti tersebut harus dijual.
Salah satu apartemen dibeli seharga US$ 25,6 juta atau Rp 449 miliar (kurs Rp 17.562) pada tahun 2016. Unit tersebut sekarang dijual lebih murah, sekitar US$ 16,2 juta atau Rp 284 miliar. Apartemen kedua dibeli pada tahun 2014 seharga US$ 22,6 juta atau Rp 396 miliar, tetapi harga jual saat ini tidak diketahui karena tidak ada pencatatan publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lokasinya apartemen ini juga menjadi sorotan. Pasalnya lokasinya hanya sekitar 50 meter dari Kedutaan Besar Israel di Inggris. Dari unit tersebut, penghuninya bisa melihat pemandangan bagian belakang gedung kedutaan. Letaknya di lantai enam dan tujuh sebuah gedung di jalan yang sama dengan kedutaan, Palace Green di Kensington.
Sejak awal kedua apartemen tersebut tidak didaftarkan atas nama pemimpin Iran. Seluruh pembeliannya melalui berbagai perantara pada tahun 2014 dan 2016.
Kenapa Ansari terseret dalam kepemilikannya? Hasil dari investigasi Bloomberg yang dikutip oleh media Inggris awal tahun ini mengatakan beberapa aset Mojtaba Khamenei ini larinya ke Ansari dan beberapa lapisan perusahaan cangkang.
Ansari juga terjerat masalah hukum di Inggris dan Amerika. Ia dikenakan sanksi oleh Inggris pada Oktober 2025 atas dugaan keterlibatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Otoritas Inggris menyebutnya sebagai "bankir dan pengusaha Iran yang korup" yang "memfasilitasi dan memberikan dukungan kepada aktivitas permusuhan".
Departemen Keuangan Amerika Serikat menuduh Ansari menggunakan properti dan aset komersial di luar negeri untuk menguntungkan Khamenei, elit Iran lainnya, dan IRGC.
Ansari membantah memiliki hubungan finansial atau pribadi dengan Khamenei atau IRGC. Ia juga menolak sanksi yang dikenakan terhadapnya.
Dilansir dari Times of Israel, media tersebut mengatakan kepemilikan properti yang dekat dengan gedung Kedutaan Besar Israel telah menarik perhatian hingga Inggris melakukan penyelidikan atas dugaan operasi Iran di Sana.
Pakar terorisme dan keamanan Roger Macmillan mengatakan kepada Daily Mail pada bulan Maret 2026 bahwa apartemen tersebut dapat digunakan untuk memantau dan memotret staf dan pengunjung kedutaan, memungkinkan perekaman audio percakapan di luar ruangan dari personel kedutaan, serta memfasilitasi pemantauan getaran jendela dengan bantuan laser untuk mengekstrak suara dari dalam.
Jarak yang dekat itu juga memungkinkan peretasan jaringan nirkabel kedutaan untuk memantau lalu lintas internet.
Di bulan yang sama Mojtaba Khamenei naik menjadi pemimpin baru. Pengadilan Inggris menghadirkan dua pria yang diduga sebagai mata-mata Iran untuk mengawasi Kedutaan Besar Israel, konsulat Israel, dan lembaga-lembaga Yahudi di London. Namun, dalam laporan tersebut tidak disebutkan apakah benar dua pria tersebut mata-mata atau bukan.
