Lahan Sydney Terbatas, Bos Pengembang Asal RI Incar di Pinggiran

Lahan Sydney Terbatas, Bos Pengembang Asal RI Incar di Pinggiran

Danica Adhitiawarman - detikProperti
Senin, 07 Sep 2026 16:44 WIB
Ilustrasi perumahan.
Ilustrasi Perumahan. Foto: Capital Value International Group
Jakarta -

Pasokan lahan yang dapat dikembangkan menjadi rumah tapak semakin terbatas di kawasan Sydney, Australia. Investor dan pemburu rumah dari Indonesia mesti jeli mencari lokasi hunian di sana.

Akibat keterbatasan lahan itu, pengembangan rumah tapak baru bergeser ke daerah suburban Sydney, terutama ke arah barat, barat daya, dan selatan. Namun hampir seluruh kawasannya telah terbangun sehingga hanya sedikit sisa lahan yang bisa dibangun rumah.

Sementara itu, pemerintah memfokuskan pembangunan apartemen di wilayah timur dan pusat kota. Lalu wilayah barat dan sekitarnya dialokasikan untuk pusat kerja baru serta kawasan rumah tapak dan townhouse.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kelangkaan properti Sydney bukan hanya persoalan tingginya permintaan, tetapi juga keterbatasan geografis yang membuat kota ini sulit terus berkembang ke luar," ujar Director & CEO Capital Value International Group (CVIG) Chandra Leonardi, dikutip dari keterangan tertulis, Senin (7/9/2026).

Di samping itu, warga negara asing punya akses terbatas buat beli properti di Australia. Mereka hanya bisa mengakses properti baru dan proyek off-the-plan.

ADVERTISEMENT

"Karena itu, pertanyaan investasinya bukan sekadar 'Di mana Sydney akan berkembang?' melainkan, 'Berapa banyak lahan yang masih dapat dikembangkan di lokasi Sydney yang paling diinginkan-dan berapa banyak yang benar-benar dapat diakses oleh foreign buyers?' Di situlah nilai kelangkaan Sydney sebenarnya berada," kata Chandra.

Rumah tapak di Sydney pun sangat mahal sehingga orang mulai mencari hunian di daerah suburban. Salah satu kawasan yang belum banyak dibidik adalah Roselands di Barat Daya Sydney. Jaraknya hanya sekitar 20-30 menit berkendara dari Sydney central Business District (CBD).

Roselands merupakan kawasan yang didominasi lingkungan residensial dengan komunitas keluarga yang kuat. Kawasan itu cocok bagi pembeli yang mencari lingkungan yang lebih tenang tapi tetap dekat pusat kota.

Di sisi lain, sekitar 70 persen penduduk merupakan pemilik rumah dan hanya 30 persen penyewa. Data ini menunjukkan permintaan di Roselands bukan hanya berasal dari investor, tetapi dari keluarga yang menjadikan kawasan ini sebagai tempat tinggal jangka panjang.

Bagi investor, komposisi itu menjadi nilai plus karena pasar yang didominasi pemilik cenderung menciptakan basis permintaan yang lebih stabil. Saat semakin banyak orang membutuhkan rumah di sebuah kawasan tetapi semakin sedikit pemilik yang bersedia menjual, nilai aset pun meningkat.

Pasar properti Australia bukan cuma tentang lokasi dengan harga properti paling tinggi, tetapi juga potensi pertumbuhan nilai dalam jangka panjang.

"Bagi pembeli Indonesia, Roselands menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan di Sydney, yakni kesempatan memiliki properti landed di kawasan metropolitan dengan akses yang relatif dekat ke CBD, namun tetap memiliki karakter lingkungan keluarga yang sangat residential," ucap Chandra.



(dhw/dhw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads