Hujan abu vulkanik terjadi di wilayah Jabodetabek hingga Bandung imbas dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Pertanyaan masyarakat kemudian muncul: bolehkah menyalakan air conditioner (AC) saat hujan abu vulkanik?
Jawabannya, bisa ya dan tidak, tergantung dari tingkat ketebalan abu vulkanik tersebut.
Dilansir dari Inquirer.net, sebuah perusahaan AC, Conception Industrian Corporation (CIC) , menjelaskan bagaimana dampak hujan abu vulkanik pada penggunaan AC.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat hujan abu ringan, AC masih boleh digunakan, baik tipe split maupun window AC. Alasannya, AC menggunakan udara yang sudah berada di dalam ruangan, bukan mengambil udara luar untuk mendinginkan ruangan. Karena itu, hujan abu ringan tidak secara langsung mengganggu sistem AC.
Namun, saat hujan abu berlangsung berat, AC disarankan tidak digunakan. Abu vulkanik dapat menumpuk dan menyumbat kumparan kondensor (condenser coil) yang berada di unit outdoor. Jika terus digunakan, kondisi tersebut dapat menyebabkan kompresor mengalami overheating dan berpotensi mengganggu keseluruhan sistem AC.
Perusahaan tersebut juga menyarankan agar AC segera dibersihkan setelah hujan abu berhenti, baik hujan abunya ringan maupun berat. Debu dan abu dapat dibersihkan menggunakan vacuum cleaner. Tetapi, pemilik harus berhati-hati ketika membersihkan bagian luar unit AC split, terutama ketika menggunakan air, karena kumparan dan papan sirkuit yang basah dapat menyebabkan gangguan listrik.
Hal lain yang penting adalah menutup rapat ruangan agar abu tidak masuk ke dalam rumah. Karena AC bekerja dengan mendaur ulang udara yang ada di dalam ruangan, menjaga ruangan tetap tertutup membantu mencegah abu vulkanik masuk ke dalam rumah.
Seperti diketahui, sejumlah warga melaporkan terkena hujan abu vulkanik di rumahnya. Karena dampak ini juga, sejumlah sekolah memberlakukan pembelajaran jarak jauh dan perkantoran menerapkan work from home. Hujan abu vulkanik dari letusan Gunung Anak Krakatau terasa sampai Bandung.
