Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) mengusulkan membangun rumah bertingkat di atas sungai. Langkah ini untuk mengatasi masalah harga tanah yang mahal.
Pertanyaannya bisakah bangunan dibuat di atas sungai? Berikut ini penjelasan arsitek.
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta Teguh Aryanto mengatakan secara teknis bangunan dapat dirancang untuk berdiri di atas berbagai kondisi lingkungan, termasuk sungai. Namun, pembangunan hunian di atas sungai sebenarnya berisiko.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pembangunan rumah susun di atas sungai memiliki tingkat kompleksitas dan risiko yang relatif tinggi," kata Teguh kepada detikProperti, Senin (31/8/2026)
Salah satu risiko utama adalah erosi dan gerusan dasar sungai yang dapat terjadi akibat perubahan pola dan kecepatan aliran air. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas sistem fondasi dan struktur bangunan.
Risiko tersebut semakin tinggi ketika ada peningkatan debit air akibat hujan ekstrem atau banjir. Untuk itu, aspek keselamatan penghuni harus menjadi pertimbangan utama karena kegagalan struktur pada bangunan hunian berpotensi menimbulkan konsekuensi yang sangat serius.
Selain risiko teknis, pembangunan di atas sungai juga memiliki konsekuensi terhadap fungsi hidrologis dan ekologis sungai. Oleh karena itu, konsep tersebut perlu mempertimbangkan aspek urban and environmental feasibility juga.
Di samping itu, secara umum pembangunan rumah susun di atas badan sungai diperkirakan memiliki biaya konstruksi yang lebih tinggi dibandingkan pembangunan pada tapak daratan yang kondisi geotekniknya lebih terkendali.
"Kebutuhan terhadap sistem struktur dan fondasi yang lebih kompleks, termasuk kemungkinan penggunaan fondasi dalam serta struktur dengan bentang yang lebih panjang. Upaya meminimalkan jumlah kolom atau elemen struktur yang berada di dalam badan sungai juga akan meningkatkan kompleksitas desain dan konstruksi," jelasnya.
Dari sisi struktur, pembangunan pada bentang sungai yang relatif lebar akan membutuhkan sistem struktur dengan bentang yang panjang. Jumlah kolom atau elemen struktur yang ditempatkan di dalam badan sungai perlu diminimalkan agar tidak mengganggu pola serta kapasitas aliran air.
Selain aspek teknis, tantangan lainnya adalah memastikan bahwa keberadaan bangunan tidak mengganggu fungsi hidrologis sungai. Apalagi saat terjadi peningkatan debit akibat hujan ekstrem.
Pemanfaatan ruang di atas sungai lebih memiliki justifikasi kalau digunakan untuk infrastruktur yang memang memiliki keterkaitan langsung dengan fungsi sungai, seperti jembatan, pintu air, atau infrastruktur pengendalian dan pengelolaan sumber daya air lainnya.
"Untuk fungsi hunian, keuntungan berupa tambahan ruang atau efisiensi pemanfaatan lahan perlu dibandingkan dengan konsekuensi yang muncul, baik dari sisi struktur, biaya konstruksi, keselamatan, pemeliharaan, maupun potensi gangguan terhadap fungsi hidrologis dan ekologis sungai," jelasnya.
Teguh pun menambahkan setiap gagasan pembangunan harus sesuai aturan perundang-undangan, tata ruang, keselamatan bangunan, serta keberlanjutan lingkungan yang berlaku. Adapun pembangunan bangunan hunian di atas badan sungai tidak diperkenankan dalam kerangka pengaturan yang berlaku saat ini.
"Apabila di kemudian hari terdapat gagasan untuk mengkaji kembali ketentuan tersebut, maka prosesnya harus dilakukan secara komprehensif, berbasis data, dan menggunakan pendekatan multidisiplin," tuturnya.
Jika ingin membangun di atas sungai karena alasan keterbatasan lahan, Teguh lebih menyarankan untuk mengoptimalkan lahan dan infrastruktur perkotaan yang telah tersedia. Salah satunya adalah pemanfaatan ruang secara vertikal dan multifungsi, yaitu menggabungkan fungsi hunian dengan fasilitas publik atau infrastruktur kota yang sudah ada, seperti kantor kecamatan, terminal, dan pasar.
Ketersediaan lahan di kota metropolitan seperti Jakarta merupakan tantangan dalam penyediaan hunian. Namun, keterbatasan tersebut tidak serta merta harus ditangani dengan memanfaatkan ruang yang memiliki fungsi hidrologis dan ekologis seperti sungai.
(dhw/das)
