Proyek apartemen LRT City bakal mendapatkan suntikan dana sebesar Rp 456 miliar dari Danantara. Tambahan pendanaan ini dinilai penting untuk kelanjutan proyek, tetapi juga memunculkan pertanyaan, apakah dana tersebut benar-benar cukup membereskan 2.400 unit yang mangkrak?
Pengamat properti sekaligus Direktur PT Global Asset Management Steve Sudijanto mempertanyakan besaran dana itu cukup atau tidak untuk menyelesaikan proyek LRT. Menurutnya, nominal dana harus diperhitungkan kecukupan untuk mengurus mulai dari perizinan, pembangunan, sampai pengelolaan apartemen.
"Cukup nggak duitnya? Kalau nggak cukup ya coba dihitung lagi karena harus sampai menyelesaikan testing and commissioning, terus mengoperasikan selama 12 bulan dulu sebelum PPRS (Perhimpunan Penghuni Rumah Susun) atau asosiasi penghuninya dibentuk, kan itu butuh dana," kata Steve kepada detikProperti, Jumat (28/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menekankan jangan sampai dana itu sampai kurang. Sebab, jika tidak justru menimbulkan masalah baru seperti ketidaknyamanan bagi penghuni serta kualitas bangunan menurun.
Jika dana terbatas, pembangunan akan sulit selesai dan hasilnya tidak dapat dipertahankan. Misalnya lift tidak berfungsi dengan sempurna, penerangan tidak penuh, fasilitas tidak berfungsi, warna cat pudar, jaringan komunikasi terganggu, hingga keamanannya tidak terjamin.
"Kalau kita mau menyelesaikan masalah itu jangan nanggung. Mendingan nggak usah daripada nanti berhenti lagi, daripada nggak sempurna penyelesaiannya," ujarnya.
Di samping itu, menurutnya proyek ini perlu dibantu oleh pemerintah agar berjalan. Sebab, konsep hunian transit oriented development (TOD) itu prospektif, banyak masyarakat mencari hunian di kota satelit serta beralih menggunakan transportasi massal.
"Transit oriented development itu adalah the future type of living karena dulu kalau kita melihat statistiknya, orang membeli rumah di kota terus (sekarang) membeli rumah di pinggiran kota satelit," ucap Steve.
Peran pemerintah melalui Danantara dinilai perlu untuk menyelamatkan proyek yang sudah menyangkut banyak masyarakat umum. Mengingat, PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) adalah anak usaha PT Adhi Karya (Persero) Tbk. yang merupakan perusahaan BUMN. Untuk itu, mau tidak mau Danantara harus menyuntik dana buat penyelesaian proyek.
"Menurut saya ini memang salah satu proyek yang memang harus di-rescue, yang harus dilanjutkan oleh Danantara sebagai 'Bapaknya' (pengembang), sebagai government body investment-nya," tuturnya.
Terpisah, pengamat properti sekaligus CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengingatkan agar bantuan dana tersebut diawasi secara ketat untuk mencegah potensi penyelewengan.
"Jangan sampai terjadi kesalahan tata kelola lagi seperti saat ini. Pengawasan harus juga melibatkan Danantara dan pihak yang berkompeten sehingga dapat berjalan lancar," ucap Ali.
Cukup atau tidaknya dana Rp 456 miliar sangat bergantung pada progres proyek saat ini. Oleh karena itu, audit konstruksi perlu dilakukan buat memastikan kebutuhan pendanaan secara lebih akurat. Jika penyaluran dana dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan proyek, Ali menilai proyek tersebut seharusnya dapat diselesaikan.
Kemudian, perlu audit pasar secara mendalam untuk lokasi apartemen. Beberapa titik proyek diperkirakan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar terkait konsep, luasan, termasuk penentuan harga.
"Dalam kondisi ini menurut saya harus dibantu (pemerintah) karena meskipun ada miss management sebelumnya, namun pasarnya juga besar sehingga akan terserap dengan baik. Namun, perlu diaudit studi mendalam supaya nanti lebih tepat harga dan tepat sasaran," jelas Ali.
Proyek ini juga dinilai layak dibantu. Pasalnya, lokasi hunian yang terintegrasi TOD akan sangat dibutuhkan untuk para kaum komuter.
"Tidak banyak proyek apartemen yang terintegrasi dengan TOD yang sangat dibutuhkan terkait efisiensi dan efektifitas jarak dan waktu tempat penghuni ke tempat kerja," tuturnya.
Sebelumnya diberitakan, Danantara akan membantu penyelesaian proyek Apartemen LRT City yang mandek. Mereka akan menyuntikkan dana ke proyek tersebut.
COO BPI Danantara Dony Oskaria berjanji akan menyelesaikan polemik proyek LRT City. Ia menegaskan tidak boleh ada orang yang merugi.
"Yakinlah sama saya, pasti itu akan saya bereskan tadi. Saya sudah ketemu dengan mereka, kita akan selesaikan kurang lebih untuk menyelesaikan 2 ribu sekian (unit) saudara-saudara kita yang sudah bayar, saya membutuhkan penyelesaian itu Rp 456 miliar. Itu akan kita lakukan," ucap Dony di NICE PIK2, Tangerang, Banten, Kamis (27/8/2026).
