Pemanas air kini mulai menjadi salah satu perlengkapan yang dipertimbangkan saat membangun atau merenovasi rumah. Namun, penggunaan perangkat ini juga perlu diperhitungkan karena dapat menambah konsumsi energi rumah tangga.
Besarnya kebutuhan energi untuk memanaskan air bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari jumlah penghuni, frekuensi penggunaan, kapasitas pemanas hingga teknologi yang digunakan.
Untuk keluarga dengan empat orang, misalnya, kebutuhan air panas tentu berbeda dengan rumah yang hanya dihuni satu atau dua orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, pemilihan sistem pemanas air sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan harga perangkat, tetapi juga pola pemakaian dan biaya energi dalam jangka panjang.
Direktur Utama Inti Solar Yoseph Chandra mengatakan pemanas air saat ini mulai dipandang sebagai bagian dari utilitas rumah, bukan sekadar perlengkapan tambahan.
"Pemanas air saat ini sudah jadi utilitas utama bagi properti bukan lagi sekadar tambahan atau pelengkap," kata Yoseph saat menerima penghargaan Properti Indonesia Award (PIA) 2026 di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Secara umum, pemilik rumah memiliki beberapa pilihan teknologi untuk memenuhi kebutuhan air panas. Salah satunya adalah pemanas air listrik yang relatif mudah ditemukan dan digunakan.
Namun, penggunaan listrik menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan, terutama bagi keluarga yang menggunakan air panas secara rutin.
Alternatif lainnya adalah solar water heater yang memanfaatkan energi matahari untuk memanaskan air.
Menurut Yoseph, teknologi tersebut dapat menjadi salah satu pilihan bagi rumah di Indonesia karena kondisi iklim yang mendapat paparan sinar matahari cukup sepanjang tahun.
Inti Solar sendiri mengembangkan pemanas air tenaga surya yang dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga maupun properti dengan kebutuhan air panas dalam jumlah lebih besar.
Untuk rumah dengan empat penghuni dan pola penggunaan air panas rutin, misalnya, Inti Solar merekomendasikan sistem dengan kapasitas sekitar 100 liter.
Sementara itu, tersedia pula sistem dengan kapasitas hingga 300 liter untuk kebutuhan yang lebih besar.
Selain tenaga surya, teknologi lain yang mulai dikembangkan untuk kebutuhan pemanasan air adalah heat pump water heater.
Berbeda dengan pemanas listrik konvensional yang menghasilkan panas menggunakan elemen pemanas, sistem heat pump memanfaatkan panas dari udara sekitar untuk memanaskan air.
Teknologi tersebut juga dapat menjadi alternatif bagi properti yang membutuhkan air panas dalam jumlah besar.
"Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah sebuah properti membutuhkan pemanas air, tetapi sistem pemanas air seperti apa yang paling efisien dan paling sesuai untuk properti tersebut?" ujar Yoseph.
Bagi pemilik rumah yang masih berada dalam tahap pembangunan, sistem pemanas air juga dapat dipertimbangkan sejak awal.
Pasalnya, pemasangan pemanas air tidak hanya berkaitan dengan perangkatnya. Posisi tangki, jalur pipa, kapasitas sistem, hingga kebutuhan listrik dan sumber energi perlu disesuaikan dengan desain rumah.
Perencanaan sejak awal dapat membuat instalasi lebih mudah dilakukan dan mengurangi kebutuhan perubahan jalur pipa atau utilitas setelah rumah selesai dibangun.
Sementara bagi pemilik rumah yang sudah jadi, pilihan sistem dapat disesuaikan dengan kondisi instalasi yang tersedia.
Yoseph mengatakan perkembangan teknologi pemanas air ke depan tidak hanya mengarah pada penggunaan energi yang lebih efisien, tetapi juga sistem yang dapat terhubung secara digital.
Beberapa produk pemanas air Inti Solar, misalnya, telah dilengkapi pengendali berbasis Wi-Fi sehingga suhu air dapat dipantau melalui smartphone. Sistem tersebut juga memungkinkan pengguna mengaktifkan pemanas listrik cadangan ketika diperlukan.
Dengan semakin banyaknya pilihan teknologi, pemilik rumah pada akhirnya perlu menghitung kebutuhan air panas, jumlah penghuni, pola penggunaan, kondisi rumah, serta biaya energi sebelum menentukan jenis pemanas air.
