Malaysia punya mega proyek Forest City yang dibangun sejak 2016. Proyek ambisius ini ternyata berakhir menjadi 'kota hantu' karena saking sepi penghuni.
Dilansir dari BBC, mega proyek ini senilai US$ 100 miliar atau Rp 1.788 triliun (kurs Rp 17.880). Awalnya proyek ini dicanangkan menjadi 'surga impian bagi umat manusia'.
Forest City yang dibangun di atas pulau reklamasi menjadi zona keuangan yang dapat menampung 700.000 penduduk. Adapun luas lahan kompleks itu 14 km persegi atau 3.400 hektare.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kota ini digambarkan akan menjadi kawasan metropolitan yang ramah lingkungan. Di dalamnya akan dilengkapi dengan hotel mewah, lapangan golf, dan taman air yang cocok untuk masyarakat kelas atas. Ada pula area perkantoran dan apartemen tepi laut bergaya resor yang dinilai akan menarik banyak peminat.
"Pada tahun 2016 mereka menggambarkannya di sini sebagai kota emas; sangat, sangat indah," kata Jason Deng, seorang investor berusia 56 tahun yang termasuk orang pertama yang membeli di Forest City dan telah membeli lima unit di sana, seperti dikutip pada Jumat (14/8/2026).
Namun, mega proyek ini diragukan oleh pemerintah setempat. Enam bulan setelah pembangunannya dimulai, proyek ini disetop oleh pemerintah karena dugaan merusak lingkungan. Bahkan, pemerintah Singapura juga mengungkapkan keprihatinan terhadap dampak Forest City terhadap perbatasannya yang berdekatan dengan Malaysia.
Hambatan izin ini hanya batu kerikil karena pembangunan tetap bisa berjalan. Tantangan sesungguhnya adalah pandemi Covid-19 yang menyebar ke seluruh dunia. Pada masa ini, seluruh pembangunannya benar-benar terkendala. Banyak warga asing yang telah tinggal di Forest City memutuskan cabut.
Kemudian, perusahaan yang mengembangkan Forest City dihadapkan dengan laporan utang sebesar Rp 2.875 triliun. Proyek tersebut terancam tidak bisa dilanjutkan sama sekali. Meski begitu, mereka masih optimis bahwa 80 persen dari unit perumahan di Forest City telah terjual sehingga kota tetap bisa hidup. Namun, memangnya unit yang terjual di sana dibeli untuk dihuni? Bukankah saat ini banyak yang membeli apartemen untuk investasi?
Setelah Covid-19, kabarnya Forest City kembali diminati, tetapi jumlah penduduknya tidak sebanyak seperti yang ditargetkan di awal. Jumlahnya mungkin hanya 1 persen dari total unit yang tersedia. Hal ini yang menyebabkan mega proyek ini disebut kota hantu.
Setelah bertahun-tahun tak terdengar kabar apa pun dari kota hantu ini, polisi Malaysia mengabarkan pada pertengahan Juli 2026 ditemukan dugaan ada operasi sindikat mata uang kripto ini menjalankan penipuan investasi dan penipuan percintaan yang menargetkan korban di luar negeri.
Polisi Malaysia telah menangkap 335 orang dan menyita aset senilai sekitar satu juta ringgit atau Rp 4,3 miliar (kurs Rp 4.365) termasuk 313 komputer, 1.557 telepon seluler, 17 laptop, dan 10 modem.
Menurut polisi, para pelaku sindikat penipuan ini menempati 32 titik yang tersebar di 27 apartemen di lima lantai sebuah menara hunian, dan yang lainnya tersebar di antara lima bungalow.
Seorang penghuni sekaligus sales properti Forest City, Kevin (bukan nama asli), mengatakan Forest City kini menjadi tempat yang istimewa karena terkenal dengan reputasinya sebagai 'kota hantu'.
"Ketika kami berbicara dengan klien atau pelanggan, perusahaan mengajari kami untuk mengatakan 'kami sudah memiliki 23.000 penduduk yang tinggal di daerah ini'," kata Kevin.
Namun kenyataannya, Kevin menyebut jumlahnya penghuni sebenarnya kurang dari 5.000. Menurutnya, kawasan yang sepi ini membuat penipu memilih Forest City buat menjalankan operasi penipuan.
"Mereka punya privasi sendiri. Tidak ada yang datang ke sini," ucapnya.
