Pernah membayangkan dampak dari pengembangan hunian di sebuah kawasan? Tidak hanya tumbuh deretan rumah, namun juga ekonomi yang menggeliat karena lapangan kerja yang terbuka, toko yang kedatangan pelanggan baru, hingga jalan dan fasilitas publik yang ikut berkembang.
Tentu dampaknya tidak kecil. Badan Pusat Statistik RI (BPS) mencatat sektor konstruksi menyumbang 9,84 persen terhadap perekonomian Indonesia pada triwulan I 2025.
"Sementara itu, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman menyebut sektor perumahan berkaitan dengan sekitar 185 subsektor ekonomi," ujar Danantara, dalam keterangan tertulis, Rabu (12/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bagaimana pengembangan hunian dapat ikut menggerakkan ekonomi daerah?
1. Membuka Beragam Lapangan Kerja
Pembangunan hunian melibatkan arsitek, insinyur, mandor, tukang, teknisi, pengemudi, hingga petugas keamanan. Warga setempat pun dapat terlibat sejak proses pembangunan sampai kawasan mulai dihuni.
Semakin besar keterlibatan tenaga kerja lokal, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat sekitar.
2. Menggerakkan Usaha Bahan Bangunan
Setiap rumah membutuhkan semen, baja, batu bata, kaca, cat, kayu, dan berbagai perlengkapan lainnya. Kebutuhan ini menggerakkan produsen, distributor, toko bahan bangunan, serta jasa angkutan.
Jika bahan dan jasa dapat dipenuhi dari daerah sekitar, semakin banyak pula uang yang berputar di perekonomian lokal.
3. Menciptakan Pasar Baru bagi UMKM
Ketika penghuni mulai berdatangan, kebutuhan sehari-hari ikut meningkat. Warung makan, toko kelontong, laundry, bengkel, penitipan anak, hingga jasa kebersihan mendapatkan pelanggan baru.
Kawasan hunian akhirnya tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga tempat usaha kecil tumbuh dan berkembang.
4. Mendorong Hadirnya Infrastruktur
Sebuah kawasan hunian membutuhkan jalan, listrik, air bersih, internet, sanitasi, dan transportasi. Infrastruktur tersebut tidak hanya bermanfaat bagi penghuni perumahan, tetapi juga dapat meningkatkan konektivitas masyarakat di sekitarnya.
Akses yang semakin baik membuat mobilitas warga, distribusi barang, dan kegiatan usaha menjadi lebih lancar.
5. Membuat Aktivitas Ekonomi Terus Berputar
Keluarga yang tinggal di sebuah kawasan membutuhkan makanan, pendidikan, layanan kesehatan, transportasi, dan hiburan. Berbagai kebutuhan tersebut menciptakan aktivitas ekonomi yang berlangsung setiap hari, bahkan setelah pembangunan rumah selesai.
Semakin ramai kawasan dihuni, semakin besar pula peluang munculnya layanan dan usaha baru.
6. Menarik Investasi Berikutnya
Kawasan yang berkembang dapat menarik kehadiran sekolah, klinik, pasar, pusat perbelanjaan, serta berbagai penyedia jasa.
Fasilitas pun semakin lengkap dan peluang kerja baru ikut terbuka.
Namun, perkembangannya tetap perlu direncanakan agar tidak menimbulkan kepadatan atau membebani infrastruktur setempat.
7. Membentuk Pusat Pertumbuhan Baru
Hunian yang terhubung dengan kawasan industri, perdagangan, pendidikan, atau pariwisata dapat berkembang menjadi pusat aktivitas baru.
Masyarakat tidak hanya datang untuk bekerja, tetapi juga tinggal dan menjalani kehidupan di kawasan tersebut.
Dengan demikian, kegiatan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota, tetapi ikut tumbuh di wilayah-wilayah baru.
Agar manfaatnya semakin luas, pengembangan hunian membutuhkan kerja sama antara pengembang, perbankan, penyedia infrastruktur, serta pemerintah pusat dan daerah.
"Kolaborasi ini turut dihadirkan dalam Danantara Housing Expo 2026 yang menawarkan lebih dari 15.000 unit hunian di 96 lokasi dan 17 provinsi," ungkapnya.
Masyarakat dapat melihat pilihan rumah dari berbagai daerah sekaligus mempelajari alternatif pembiayaan dari bank-bank Himbara. Danantara Housing Expo 2026 akan berlangsung pada 27-30 Agustus 2026 di NICE, PIK 2.
Satu kawasan hunian bisa menjadi awal dari banyak hal, mulai dari pekerjaan baru, usaha yang semakin ramai, infrastruktur yang membaik, hingga lahirnya pusat aktivitas baru.
Ketika rumah-rumah mulai dibangun dan dihuni, ekonomi daerah pun ikut menemukan ruang untuk tumbuh.
(akd/ega)
