Di Australia Ada Jasa Bongkar Asbes Rumah, Bayar Rp 500 Juta!

Di Australia Ada Jasa Bongkar Asbes Rumah, Bayar Rp 500 Juta!

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Senin, 10 Agu 2026 17:00 WIB
Atap asbes via strandek
Foto: Atap asbes via strandek
Jakarta -

Pemakaian asbes sebagai atap sudah sejak lama menjadi pro kontra. Di Indonesia pemakaiannya masih cukup banyak, tetapi baru-baru ini Presiden Prabowo Subianto telah mengajak masyarakat untuk beralih ke genteng yang jauh lebih aman dan adem.

Larangan ini berkaitan dengan keselamatan penghuni rumah. Hal ini dikarenakan asbes mengeluarkan serat super halus yang apabila dihirup bisa mengendap di paru-paru dan mengganggu kesehatan.

Sebenarnya sudah banyak negara yang melarang pemakaian asbes, salah satunya adalah Australia. Di sana kabarnya tidak ada rumah yang memakai atap atau apa pun yang terbuat dari asbes. Alasannya juga karena kesehatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi kalau sampai ada harus pake asbestos removal company. Beresin, make sure, nggak ada lagi. Memang begitu standarnya," kata Chandra Leonardi selaku pengembang rumah tapak di Australia sekaligus Chief Executive Officer Capital Value International Group (CVIG), di Jakarta pada Senin (10/8/2026).

Jasa pembongkaran dan penghancuran material berbahan asbes akan datang ke rumah-rumah warga dengan pakaian tertutup, seperti jubah astronaut. Pemilik rumah harus membayar sekitar 40-50 ribu dolar Australia atau setara Rp 502-627 juta (kurs Rp 12.551) untuk layanan tersebut.

ADVERTISEMENT

"Yang bikin kaget biasanya, di proyek kita pas lagi dikeruk, tanahnya ada asbestosnya. Nah asbestos itu sangat strict, sangat strict. Kita harus hire orang yang memang khusus untuk asbestos buat remove semua asbestosnya," katanya.

Kenapa Asbes Tidak Disarankan untuk Dipakai?

Dilansir dari World Health Organization (WHO), asbes adalah kelompok serat mineral yang terbentuk secara alami. Terdapat enam jenis utama asbes, dan jenis yang paling banyak digunakan saat ini adalah krisotil (asbes putih). Bahan ini banyak digunakan karena sifat materialnya yang kuat dan tahan panas.

Keenam jenis utama asbes tersebut telah dinilai oleh WHO sebagai bahan yang bersifat karsinogenik bagi manusia. Paparan terhadap asbes, termasuk krisotil, menyebabkan kanker paru-paru, laring, dan ovarium, serta mesothelioma (kanker pada lapisan pleura dan peritoneum). Terdapat pula bukti ilmiah yang jelas bahwa asbes menyebabkan penyakit pernapasan kronis seperti asbestosis (fibrosis paru) serta dampak buruk lainnya terhadap paru-paru.

Pusat Kajian dan Terapan Keselamatan Kesehatan Kerja (PKTK3) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) pernah melakukan uji coba efek asbes pada 2025. Menurut Guru Besar Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Doni Hikmat Ramdhan, membenarkan bahwa asbes memang bersifat karsinogen. Hal ini terjadi apabila serat yang terhirup tidak dapat dimusnahkan dalam jangka waktu lama, lebih dari setahun.

Namun, mengenai klaim WHO perihal pemakaian asbes dapat memicu penyakit asbestosis, sejenis penyakit paru-paru dan kanker, Doni mengatakan dalam beberapa eksperimen yang pernah ia lakukan belum ditemukan kasus tersebut.

"Saya sebagai akademisi atau ilmuwan agak harus hati-hati juga ya bahwa itu berbahaya atau tidak. Kita terus mencari, memastikan (asbestosis). Yang saya tahu, saya mengkaji yang itu, nggak menemukan. Belum, belum. Kita wallahualam ya," kata Doni di FKM UI, pada September 2025.

Sebelumnya ia telah melakukan eksperimental pada 2019 di permukiman padat Karet Tengsin dan pekerja pabrik yang memproduksi lembar semen bergelombang (asbes). Mereka mencari tahu apakah ada efek dari paparan asbes lewat udara. Hasilnya adalah kondisi serat chrysotile di udara masih di bawah nilai ambang batas (NAB) yang ditetapkan pemerintah di RI, yakni 0,1 fiber per cc.

Jika melihat dari efek kesehatan, hasilnya menunjukkan tidak ada yang mengarah ke penyakit asbestosis. Mereka memang mendapati beberapa orang mengalami penyakit pernapasan, tetapi penyebabnya bukan dari asbes, melainkan pengaruh dari gaya hidup.

"Jadi, untuk menegakkan bahwa itu asbestosis, agak susah. Kalaupun ditemukan satu kasus, dua kasus, itu kalau dari segi riset epidemiologi, itu agak susah, ya. Kenapa? Dia kan kasusnya yang sakit cuma satu atau dua. Nah, kalau seperti itu, apakah debu asbesnya pilih-pilih? Apakah artinya faktor hanya acak saja atau memang sistematis? Kalau dari penelitiannya di masyarakat, kita harus memperhatikan antara pajangan dan efeknya apakah berkaitan atau tidak," jelasnya.

Di sisi lain, berdasarkan catatan detikcom terbaru, Prabowo mengatakan atap rumah dari bahan seng dan asbes tidak baik untuk kesehatan penghuni. Menurutnya banyak orang sakit tanpa disadari karena bahan tersebut.

"Begitu banyak nanti penyakit paru-paru tanpa kita sadari. Orang-orang muda sudah kena kanker paru-paru padahal dia nggak ngerokok. Dari mana? dari karat, dari asbes, dari macam-macam, kimiawi," ujar Prabowo dalam acara Peresmian Revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (31/7/2026).

Prabowo menyebut atap seng cepat berkarat. Karat itulah yang memicu penyakit menurutnya.



(aqi/zlf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads