Saat ini semakin banyak orang Indonesia yang berkecimpung di sektor properti luar negeri. Hal ini menandakan bisnis properti cukup berkembang di setiap negara dan sektor yang menjanjikan untuk berkecimpung di dalamnya.
Chandra Leonardi merupakan salah satu pengembang yang kini terjun ke sektor perumahan premium di salah satu kota besar di Australia, yakni Sydney. Lewat perusahaan yang didirikannya, Capital Value International Group (CVIG) pada 2013, Chandra kini sudah mendirikan beberapa proyek perumahan premium di Sydney.
Proyek terbarunya berlokasi di Roselands yang jaraknya sekitar 20-30 menit berkendara dari Central Business District (CBD) Sydney. Dikembangkan di atas lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi, proyek ini merupakan kompleks hunian strata title yang ditawarkan Rp 30 miliar per unit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara keseluruhan, proyek ini memiliki nilai pengembangan sekitar Rp 225 miliar, mencerminkan tingginya permintaan terhadap hunian premium di Sydney.
Dalam pembangunannya, CVIG menggandeng M.A.R.S Architecture & Interior Design Australia, firma arsitektur yang dikenal luas melalui berbagai proyek hunian mewah dan bangunan komersial di Australia.
"Nilai sebuah properti tidak hanya ditentukan oleh lokasinya. Kepemilikan (land component) besar tanah, kualitas lifestyle, dan akses ke major roads menjadi faktor utama yang menentukan nilai investasi di masa depan. Karena itu kami bekerja sama dengan arsitek terbaik Australia agar setiap proyek mampu memberikan nilai yang bertumbuh sehat dalam jangka panjang," jelas Chandra di Jakarta pada Senin (10/8/2026).
Ia sebenarnya masih terhitung baru terjun ke sektor properti premium, yakni 2017. Namun, jam terbangnya di bidang jual beli properti sudah lebih dari 1 dekade, yakni sejak 2013. Ia memulai kariernya dengan menjadi agen properti.
"Kami memulai perjalanan ini tanpa nama besar, tanpa rekam jejak, dan dengan sumber daya yang sangat terbatas. Setiap tantangan justru menjadi proses pembelajaran yang membentuk cara kami membangun bisnis. Dari pengalaman itulah kami memahami bahwa integritas dan tanggung jawab kepada setiap klien merupakan fondasi utama untuk membangun kepercayaan dalam jangka panjang," tutur Chandra.
Menurutnya, perjalanan tersebut turut membentuk karakter perusahaan yang kini menjadi landasan dalam menjalankan bisnis.
Menjalankan bisnis properti di Australia penuh tantangan. Bukan hanya soal modal, perizinan pun membutuhkan usaha dan waktu hingga lebih dari satu tahun. Bahkan ia juga sampai mengambil jalur hukum untuk mendapatkan izin dari pemerintah daerah sekitar, terutama soal detail bangunan, mulai dari jalan masuk rumah dan kendaraan, ketinggian tanah, dan lain-lain. Belum lagi izin dari warga lokal sekitar.
Rumah yang dibangun Capital Value International Group (CVIG) di Roselands, Sydney, Australia. Foto: Capital Value International Group (CVIG) |
Namun, semua perizinan berhasil dilewati dan pada proyek terbarunya sudah terbangun 7 unit rumah premium 2 lantai seluas 277 meter persegi. Pada awalnya ia ingin menyewakan semua unit di sana, tetapi saat ini CVIG berencana menjual 4 unit seharga Rp 30 miliar tadi. Sementara 3 unit lainnya tetap dipertahankan untuk disewakan.
Salah satu pasar yang disasar CVIG adalah Indonesia. Ia melihat minat investor dari sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, India, Jepang, dan Vietnam menunjukkan tren peningkatan seiring. Menurut Chandra, perubahan tersebut membuka peluang yang semakin besar bagi investor Indonesia.
"Pergeseran peta investasi tersebut membuka peluang yang semakin besar bagi investor Indonesia untuk mengisi ruang yang sebelumnya didominasi pembeli asal China, khususnya pada segmen hunian premium di Sydney yang tetap didukung oleh fundamental ekonomi dan keterbatasan pasokan perumahan," ujarnya.

