Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,29 persen pada kuartal II 2026. Lantas, apakah ada pengaruhnya pada sektor properti?
Menurut Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat pada kondisi saat ini sektor properti pasti mengikuti, tetapi tidak semua sektor yang terdongkrak.
"Memang GDP growth ini seperti mirroring, seperti kaca untuk kita melihat sektor-sektor apa yang masih bergerak di antaranya property. Namun, memang tidak seluruh sektor ekonomi ini akan berjalan in line dengan economy growth ya," kata Syarifah dalam Online Press Conference Jakarta Property Highlights H1 2026, pada Kamis (6/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melihat sektor perumahan merupakan salah satu yang terdampak positif. Namun, peluang ini juga perlu didukung dengan taktik yang tepat. Pasalnya dinamika pasar properti saat ini berubah cukup cepat.
Setiap pelaku properti harus tahu betul siapa pasarnya. Apa yang konsumen butuhkan. Berapa nilai rumah yang bisa mereka jangkau dan sistem pembiayaan seperti apa yang bisa mempermudah konsumen untuk membeli rumah.
"Kita tidak bisa mengaplikasikan konsep-konsep produk lama di masa kini. Karena dinamika profil marketnya saat ini saya rasa sudah bergerak demikian cepat, tidak hanya setelah Covid-19, pemulihan masih berlangsung. Kemudian kondisi geopolitik global dan kenaikan fuel (bahan bakar) saat itu yang juga memberikan efek. Saya rasa akumulasi dampak-dampak tersebut memberikan kondisi di mana kita harus reformulasi lagi produk-produk yang akan kita launching ke pasar," jelasnya.
Selain itu daya beli yang lesu imbas semua komoditas yang naik juga masih terasa hingga saat ini. Dulu rumah Rp 800 juta hingga Rp 1 miliar masih bisa dijangkau oleh kelas menengah. Kini kelas menengah mencarinya rumah mulai dari Rp 500 juta ke bawah.
"Kita perlu melihat juga bahwa belakangan nilai atau value of money ini kan memang seperti rasanya terdepresiasi," ujarnya.
Lalu dari sektor properti komersial, industri dan logistik tetap memimpin. Bahkan sebelum adanya data pertumbuhan ekonomi menjadi 5,2 persen, kedua sektor ini ramai diincar investor dan cukup cuan.
"Saya lihat industrial akan terus bergulir karena itu masih terkait dengan domestic demand kita, kebutuhan rumah tangga, FMCD dan seterusnya, dan relate dengan sektor industri dan juga sektor retail. Retail masih tetap akan bergulir dengan komoditas-komoditas yang lebih spesifik. Tentunya terkait dengan staple food dan juga terkait dengan lifestyle yang bergulir saat ini," ungkapnya.
(aqi/das)
