Presiden Prabowo Subianto mengusulkan agar masyarakat kembali menggunakan atap rumah terbuat dari bahan alami seperti ijuk dan rumbia. Bahan ini menjadi alternatif dari material seng dan asbes yang dinilai punya risiko kesehatan.
Namun, apa sebenarnya atap ijuk dan rumbia? Berikut ini penjelasannya.
Atap Ijuk
Rumah tradisional dengan atap ijuk. Foto: Pexels/ Rismaaaaaa Imas |
Berdasarkan jurnal 'Penggunaan Ijuk Sebagai Material Atap Alami' karya Ida Bagus Andyka Prasetya Putrasusila, atap ijuk merupakan penutup rumah tradisional. Bahan ijuk berupa serat hitam dari dari pohon aren (Arenga pinnata).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serat ijuk dipilih karena memiliki daya tahan yang tinggi serat yang kuat, agak kaku namun tetap lentur, tidak mudah putus maupun rapuh, serta tahan terhadap kelembapan. Karakteristik itu membuat atap ijuk awet, tahan terhadap cuaca, dan cocok digunakan sebagai penutup bangunan.
Atap Rumbia
Ilustrasi bangunan dengan atap rumbia. Foto: ANTARA FOTO/FB Anggoro |
Berdasarkan jurnal Pemberdayaan Atap dari Rumbia untuk Peningkatan Perekonomian Masyarakat Desa Sei Tatas, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia oleh Rahmah et al., rumbia atau nipah adalah sejenis pohon yang banyak tumbuh di daerah tropis. Daun rumbia memiliki serat yang kuat dan lentur sehingga bisa digunakan sebagai bahan baku atap yang ramah lingkungan.
Apakah Atap Ijuk dan Rumbia Cocok buat Rumah Zaman Now?
Sementara itu, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta Teguh Aryanto mengatakan dulu semua rumah di Indonesia menggunakan atap dari ijuk dan rumbia. Namun sekarang hanya rumah-rumah di pedalaman yang masih menggunakan jenis atap tersebut.
"Pada masa dahulu, seluruh rumah di Nusantara, memakai atap berbahan dasar ijuk atau rumbia karena berbahan dasar alami," kata Teguh kepada detikProperti, Jumat (31/7/2026).
Ia menjelaskan atap ijuk dan rumbia terbuat dari bahan alami pepohonan. Bahan tersebut melalui proses pengeringan sehingga dapat dipakai sebagai atap.
Menurutnya, atap jenis ini secara teknis masih memungkinkan untuk diterapkan kembali. Namun atap tersebut sudah tidak praktis lagi untuk zaman yang modern ini. Apalagi sekarang sudah tidak ada industri pembuatan atap ijuk dan rumbia.
Masyarakat sudah disuguhkan banyak jenis atap dengan bahan yang lebih kuat dan tahan lama. Material atap saat ini menawarkan solusi dari kelemahan-kelemahan atap ijuk dan rumbia.
"Banyak kelemahan dari bahan tersebut (ijuk dan rumbia), seperti mudah terbakar, dan rentan akan kebocoran," ucapnya.
Sebelumnya diberitakan, Prabowo meminta masyarakat Indonesia berhenti menggunakan seng dan asbes sebagai atap. Sebagai gantinya Prabowo mendorong gentengisasi, bahkan dia menilai penggunaan ijuk dan rumbia jauh lebih baik dan sudah menjadi identitas rumah asli Indonesia.
"Aslinya bangsa Indonesia tidak memakai seng. Kalau perlu kita kembali pakai ijuk, kembali pakai rumbai, kalau tidak kita harus cari (alternatif). Rakyat kita dari dulu bisa bikin genteng kok, genteng bukan teknologi baru, rakyat kita dari dulu pakai genteng," kata Prabowo dalam acara Peresmian Revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (31/7/2026).
Ia menyebut atap seng dapat menimbulkan masalah kesehatan ketika berkarat. Dikhawatirkan penghuni rumah bisa terkena penyakit.
Sebagai catatan, berdasarkan penelusuran detikProperti, tidak ada jenis atap rumbai yang ada rumbia. Namun sisi atap ini seperti merumbai, sehingga penyebutan atap rumbia sering berubah menjadi rumbai.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini


