Belum lama ini pengembang menyatakan ada penurunan realisasi rumah subsidi pada Semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menanggapi itu, Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho mengatakan penyaluran rumah subsidi memang menghadapi tantangan dari sisi suplai tahun ini.
Ia menyebutkan tantangan pengembang rumah subsidi salah satunya harga bahan bangunan yang meningkat. Bahan bangunan yang mengalami kenaikan di antaranya besi, spandek, keramik, hingga semen.
"Kalau saya sih dari sisi demand sebenarnya masih nggak ada masalah. Nah emang dari sisi suplai ada tantangan nih. Sudah disampaikan juga kami kepada Kementerian (PKP), Pak Menteri (PKP Maruarar Sirait) adanya eskalasi kenaikan harga-harga bahan material," kata Heru dalam Konferensi Pers Pra Event Akad Massal 62.000 KPR Sejahtera FLPP dan Akad Massal KUR Perumahan, di Kantor BP Tapera, Jakarta Pusat, Jumat (24/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, ada masalah tanah untuk membangun rumah subsidi berkaitan dengan perizinan. Peraturan yang melarang lahan sawah dibangun perumahan menghambat suplai rumah subsidi.
Dalam paparannya, BP Tapera mencatatkan realisasi rumah subsidi di angka 111.537 unit per 23 Juli 2026. Adapun pada Semester I 2026 menunjukkan angka 91.522 unit rumah tapak.
Sementara Semester I 2025, penyaluran KPR FLPP tercatat mencapai 120.976 unit, berdasarkan situs resmi BP Tapera.
Meski demikian, Heru tetap optimistis target penyaluran 350.000 rumah subsidi dapat tercapai. Sebab, tantangan-tantangan tersebut akan diupayakan oleh pemerintah.
"Kita tetap optimistis karena dukungan dari pengampu kebijakan level kementerian, level menteri sangat luar biasa," ucapnya.
Kementerian PKP dan BP Tapera akan membuat kajian untuk mempelajari masalah harga material, lalu akan dicarikan solusi. Salah satunya dengan melibatkan Badan Pusat Statistik untuk dalam pembahasannya.
Lalu, Kementerian PKP juga berkoordinasi dengan Kementerian ATR/BPN dan Kementerian Dalam Negeri untuk mengatasi masalah perizinan.
Sementara dari sisi demand, Heru mengatakan tidak ada masalah. Masyarakat masih berminat membeli rumah subsidi, apalagi karena sudah ada relaksasi SLIK OJK.
Sebelumnya diberitakan, Ketua Umum DPP Apersi Deddy Indrasetiawan mengungkapkan realisasi rumah subsidi pada semester I 2026 mengalami penurunan 24 persen dibanding semester I-2025. Beberapa faktor penyebabnya adalah masalah perizinan, kenaikan harga material bangunan, hingga terbentur aturan LSD.
"Pencapaian target rumah subsidi year-on-year secara semester pertama dibanding tahun lalu kan turun 24 persen. Itu pasti salah satunya terkait ketersediaan lahan," Deddy di sela-sela acara pelantikan pengurus Apersi masa bakti 2026-2031 di The Ritz Carlton, Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026).
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(dhw/das)
