Sebagai kota metropolitan, Jakarta memiliki banyak sekali ruang kantor. Namun, semenjak Covid-19 sebagian besar ruang kantor diisi 'hantu' alias kosong tanpa penghuni karena minatnya turun drastis.
Hingga kini jumlahnya belum juga pulih. Berdasarkan data dari Colliers Indonesia, ruang kosong di area Central Business District (CBD) sekitar 1,76 juta meter persegi, terdiri dari gedung kelas A sekitar 51 persen, kelas B sekitar 24 persen, kelas C ada 18 persen, dan kelas premium hanya 7 persen.
Sementara itu, di luar CBD ada sekitar 1,23 juta meter persegi ruang kosong terdiri dari gedung kelas A sekitar 16 persen, kelas B sekitar 54 persen, dan kelas C ada 31 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto memperkirakan perlu 2-3 tahun lagi tingkat hunian kembali ke level prapandemi.
Lamanya pemulihan di sektor perkantoran ini membuat banyak pengembang memilih mengerem membangun ruang kantor baru. Mereka memilih mencari penyewa baru agar ruang kosong cepat terserap.
"Dengan terbatasnya pasok mendatang dan diharapkan mulai kembali menguatnya tingkat permintaan, celah antara pasok dan permintaan akan semakin menipis," kata Ferry dalam acara Virtual Media Briefing Q2 pada Rabu (8/7/2026).
Di satu sisi, perkantoran di gedung premium dan kelas A semakin banyak diincar penyewa, terutama di kawasan CBD. Gedung premium semakin pede menaikkan harga sewa hingga Rp 300-400 ribu per meter persegi. Sementara, gedung kelas A rata-rata masih berada di Rp 250 ribu per meter persegi.
Colliers Indonesia juga menemukan ada tren baru bahwa penyewa lebih memilih bangunan yang kualitasnya bagus, sudah siap digunakan, lokasinya terkoneksi dengan transportasi umum seperti KRL, LRT, MRT, atau Transjakarta, dan ada paket sewa yang fleksibel dan insentif yang menggiurkan.
"Paket harga yang kompetitif dan gedung baru berusia kurang dari 10 tahun. Green building jadi nilai tambah, terutama bagi perusahaan asing. Tidak kurang dari 50 gedung kantor di Jakarta telah tersertifikasi Green Building dalam 5 tahun terakhir," ungkap Ferry.
Saat ini sektor bisnis yang banyak memadati kantor-kantor di Jakarta, rata-rata berasal dari finansial, teknologi, kesehatan, dan kosmetik.
(aqi/das)










































