Semenjak Covid-19, tarif sewa sektor perkantoran stagnan karena tingkat okupansi atau jumlah keterisian ruangnya masih rendah. Namun, ternyata ada segmen gedung yang bisa kembali melambung bahkan nilainya hampir mendekati tarif sebelum Covid-19, yakni gedung premium.
Ruang premium ini terdiri dari bangunannya terbaik dari segi lokasi, kualitas, akses hingga pasarnya berbeda dari kelas lainnya. Dalam kata lain kelas Premium ini ada di atas semua segmen gedung perkantoran.
Berdasarkan data dari Colliers, rata-rata tarif sewa Gedung premium telah menyamai periode pre-covid, yakni sekitar Rp 300-400 ribu per meter persegi. Bahkan ada yang sudah menyentuh Rp 500 ribu per meter persegi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi memang ada gedung yang mencapai Rp 500 ribu tapi ada gedung yang cuma mencapai Rp 270-280 ribu, tapi secara average itu antara Rp 300-400 ribu. Jadi udah mulai mendekati situasi harga gedung premium sebelum Covid," kata Bagus Adikusumo selaku Head of Office Services Colliers Indonesia dalam acara Virtual Media Briefing Q2 pada Rabu (8/7/2026).
Lokasi gedung-gedung di kebanyakan tersebar di Golden Triangle, yakni Sudirman Central Business District (SCBD).
"Gedung-gedung tersebut sekarang menjadi target para perusahaan multinasional yang ingin pindah gedung ke grade-grade gedung yang lebih baik seperti gedung premium. Better grade, better parking facility, better building condition," jelasnya.
Jumlah gedung premium ini tidak sebanyak gedung kelas A atau di bawahnya. Selain itu, gedung kelas premium juga rata-rata adalah gedung baru. Dengan tingkat okupansi cukup tinggi dan hanya menyisakan 7 persen ruang kosong.
"Kan ada gedung-gedung premium itu seperti Pacific Century Place ya kan, Sequis Tower. Terus ada Gedung Mori, Mori Tower yang di Sudirman," sebutnya.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan gedung-gedung di kelas A, B, dan C yang masih berusaha untuk kembali. Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto memperkirakan perlu 2-3 tahun lagi tingkat hunian kembali ke level prapandemi.
Ruang kosong di area Central Business District (CBD) sekitar 1,76 juta meter persegi, terdiri dari gedung kelas A sekitar 51 persen, kelas B sekitar 24 persen, kelas C 18 persen, dan kelas premium hanya 7 persen.
Sementara itu, di luar CBD ada sekitar 1,23 juta meter persegi terdiri dari gedung kelas A sekitar 16 persen, kelas B sekitar 54 persen, dan kelas C 31 persen.
"Sebagian besar ruang kosong berada di Sudirman. Total ruang kosong terbanyak berlokasi di Jakarta Selatan," ungkap Ferry.
Ada pun rata-rata tarif dasar perkantoran di kawasan CBD terbaru Rp 245.203 per meter persegi dan luar CBD Rp 197.735 per meter persegi.










































