Hotel Sultan awal Juni lalu telah dieksekusi oleh negara dan saat ini tengah proses pengosongan gedung. Setelah 50 tahun dipakai sebagai hotel, lahan kawasan Blok 15 GBK ini rencananya akan dirombak menjadi ruang terbuka hijau.
Lantas, tutupnya Hotel Sultan apakah berdampak pada pasokan kamar dan permintaan akomodasi di kawasan Senayan?
Berdasarkan data dari Colliers, tutupnya Hotel Sultan menyumbang data kamar yang tutup di tahun ini, tetapi tidak berpengaruh pada pasokan kamar yang tersedia dan permintaan akomodasi di kawasan tersebut maupun Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto dampaknya memang ada, tetapi tidak begitu besar. Dampaknya adalah tidak ada pengganti lokasi akomodasi baru di dalam kawasan GBK sedekat Hotel Sultan dengan kamar besar dan ruang pertemuan yang luas. Alhasil tamu yang biasa menginap di sana harus mencari hotel baru.
"Dampaknya sih relatif terbatas gitu ya karena kalau secara umum pasar hotel di Jakarta itu masih punya kapasitas yang cukup besar untuk mengakomodir permintaan," kata Ferry dalam acara Virtual Media Briefing Q2 pada Rabu (8/7/2026).
Tamu-tamu masih mudah menemukan pilihan hotel lain di sekitar kawasan GBK. Selain itu, akses transportasi umum yang sudah terkoneksi juga memberikan alternatif untuk mencari hotel di luar kawasan Senayan.
"Jadi tamu-tamu itu walaupun ada keperluan misalnya di GBK nggak harus dia nginep di daerah Senayan gitu. Mereka juga bisa nginep di daerah yang agak lebih jauh sedikit dari GBK, misalnya di Palmerah atau Kuningan karena tadi ada kemudahan konektivitas ke arah sana," jelasnya.
Fenomena ini disebut dengan demand redistribution atau terjadi pergeseran permintaan dari yang sebelumnya berpusat di Hotel Sultan berpindah ke hotel-hotel lain di sekitar GBK dan Senayan.
Di sisi lain, jika melihat data jumlah pasokan kamar hotel di Jakarta ternyata masih cukup banyak dan tidak kekurangan. Hingga kuartal kedua, terdapat 668 kamar hotel tutup termasuk Hotel Sultan di dalamnya dan 48.500 unit kamar hotel yang tersedia. Tambahan kamar barunya sekitar 139 unit. Selain itu, dalam 3 tahun ke depan juga akan ada pertambahan lagi sebanyak 1.696 unit.
Sementara itu, kabar Hotel Sultan saat ini tengah dikosongkan oleh negara. barang-barang yang ada di Hotel Sultan tengah dipindahkan. Kuasa hukum Menteri Sekretaris Negara dan Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) Kharis Sucipto barang tersebut sedang proses dipindahkan ke gudang sebagai bagian dari tindakan eksekusi.
"Sesuai dengan berita acara eksekusi dan berita acara penyerahan barang dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat bahwa sampai dengan hari ini 24 Juni 2026 sedang berproses yaitu pemindahan barang penyimpanan di gudang," kata Kharis di Jl. Gatot Subroto, GBK, Jakarta Pusat, Rabu (24/6/2026).
Barang tersebut akan disimpan dengan baik selama 6 bulan sejak berita acara eksekusi dibacakan. PT Indobuildco dapat mengambil kembali barang tersebut selama jangka waktu yang sudah ditentukan. Namun, hingga saat ini pihak termohon eksekusi itu belum menghubungi Kementerian Sekretariat Negara atau PPKGBK untuk mengambil barang.
Lalu, menurut Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan Roeslani mengatakan ada potensi bangunan tersebut akan dirobohkan.
"Ya pada saat ini mungkin saya belum bisa mengatakan tapi rencana itu akan dijadikan suatu kawasan baru ya. Eventually iya (bakal dirobohkan)," ucap Rosan kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (22/6/2026).
(aqi/aqi)











































