Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menelepon Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung terkait serapan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah di Jakarta yang masih rendah.
Kementerian PKP telah menaikkan kuota rumah yang bisa direnovasi oleh pemerintah menjadi 10.000 unit. Namun, hingga Minggu (28/6/2026) rumah yang terkonfirmasi bisa direnovasi baru 809 unit. Rumah yang telah terkonfirmasi ini berarti telah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM).
"Pak Gubernur kalau boleh, penyerapannya baru 809 orang, masih sedikit, jadi sayang program ini (kuotanya sudah dinaikkan)," kata Ara kepada Pramono via telepon pada Minggu (28/6/2026) saat kunjungan ke Kecamatan Menteng, Kelurahan Kebon Sirih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah mengatakan hal tersebut, Ara mempersilahkan Lurah Kebon Sirih, Heni, untuk menjelaskan kondisi RW 8 yang warganya kesulitan mendapat bantuan bedah rumah karena kendala alas hak tanah.
"Untuk di Kebon Sirih beberapa sudah kami ajukan. Dari 137 rumah yang sudah kami ajukan dan yang berhasil lolos verifikasi 10 rumah karena ada beberapa alas hak yang tidak ada," jelas Heni.
"Berdasarkan informasi dari Kementerian Perumahan saya lurah bisa mengeluarkan surat keterangan untuk membantu para penerima calon dan saya bersedia membuat surat keterangan untuk calon penerima bantuan seperti itu, Pak," tambah Heni.
Direktur Jenderal Kawasan Permukiman di Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman Fitrah Nur ikut menambahkan surat keterangan yang disampaikan Heni tadi berdasarkan Pergub 207 Tahun 2016. Mengenai hal tersebut, Pramono meminta waktu untuk dibahas lebih dulu.
Pramono mengatakan jika ada cara untuk membantu, ia akan mendukung hal tersebut. Ia menyarankan kalau bisa penyaluran program ini dilakukan bertahap.
"Bu Lurah, mending dibuat berjenjang aja," usul Pramono dalam sambungan telepon itu.
Di akhir, ia berjanji Pemprov DKI Jakarta akan terus membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) mendapatkan bantuan bedah rumah.
"Bedah rumah ini bagus, bantu rakyat," kata Pramono.
Ada pun, jumlah MBR di RW 008 ada 137 orang, tetapi hanya 10 orang yang bisa menerima bantuan bedah rumah, di mana 7 orang memiliki SHM dan 3 lainnya hanya memiliki AJB.
Renovasi direncanakan dimulai pada 30 Juni 2026 dan ditargetkan selesai pada 30 September 2026.
Berdasarkan pantauan detikcom di lokasi, dua rumah yang akan dibedah oleh pemerintah berada di gang sempit. Rumah tersebut hanya ada 1 lantai yang terdiri dari ruang TV, kamar tanpa pintu, dan dapur. Kondisinya memang sudah tidak layak, tidak memiliki plafon, dan gentengnya sudah hancur.
Salah satu warga yang mendapat bantuan, Supendi (66) sudah tidak bisa bekerja karena sakit. Tulang punggung keluarga dipegang oleh istrinya, Nur Aini (60) yang berdagang di belakang rumah mereka dengan penghasilan Rp 1 juta per bulan.
Nur Aini mengungkapkan senang akhirnya rumahnya mendapat bantuan. Rumahnya sudah tidak memiliki genteng, saat hujan atapnya sering bocor sehingga ia tidak berani untuk tidur di kamar lagi dan memilih tidur di ruang TV.
"Kadang-kadang tidur ketiban plafon. Saya nggak tidur di dalem, tidur di luar. Yah namanya ngga usaha apa-apa. Mau betulan uang ga punya, kerja nggak, yah gimana, yaudah dibantu aja pake banner," tutur Nur Aini kepada detikcom.
(aqi/abr)











































