Penghuni salah satu kawasan hunian terkaya di Amerika Serikat tengah terlibat konflik terkait masa depan sebidang lahan seluas sekitar 10 acre atau 4 hektare. Lahan tersebut saat ini masih digunakan sebagai terminal bahan bakar untuk kapal pesiar dan kapal kargo, namun pengembang berencana mengubahnya menjadi proyek kondominium mewah.
Dilansir dari New York Post, Rabu (3/6/2027), konflik terjadi di Fisher Island, Miami, yang dikenal sebagai wilayah terkaya di kota tersebut dan termasuk yang terkaya di Amerika Serikat. Terminal bahan bakar yang telah beroperasi hampir satu abad itu dinilai sejumlah warga sebagai pemandangan yang mengganggu sekaligus berpotensi menimbulkan risiko lingkungan.
Pada 2025, kelompok pengembang dan investor yang terdiri dari HRP Group dan Related Group membeli lahan tersebut senilai US$ 180 juta atau sekitar Rp 3,2 triliun (kurs Rp 17.900). Mereka kemudian menggagas pembangunan dua menara kondominium ultra mewah di lokasi itu. Harga unit hunian yang direncanakan bahkan bisa mencapai US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,63 triliun per unit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun rencana tersebut memicu kekhawatiran industri kapal pesiar. Terminal itu selama puluhan tahun memasok bahan bakar untuk kapal-kapal yang beroperasi di PortMiami, salah satu pelabuhan kapal pesiar tersibuk di dunia. Kekhawatiran kehilangan pasokan bahan bakar membuat pemerintah Miami-Dade turun tangan dan berupaya membeli lahan tersebut.
Perselisihan kemudian berkembang menjadi serangkaian gugatan hukum. Asosiasi komunitas Fisher Island dan klub eksklusif setempat menggugat pemerintah daerah untuk menghentikan upaya pengambilalihan lahan. Mereka mengklaim memiliki hak atas sebagian area tersebut dan hak veto terhadap transaksi properti tertentu.
Belakangan, kedua pihak juga menggugat pengembang HRP Group. Mereka menuduh adanya kesepakatan untuk menjual terminal tersebut kepada pemerintah Miami-Dade yang dinilai merugikan perjanjian awal pembangunan kawasan hunian. Menurut laporan yang dikutip New York Post, terdapat kesepakatan prinsip penjualan lahan senilai sekitar US$ 400 juta atau lebih dari Rp 6,5 triliun.
Meski negosiasi masih berlangsung, sebagian penghuni Fisher Island tetap menginginkan fasilitas penyimpanan bahan bakar tersebut dipindahkan.
Ketua Fisher Island Community Association, James Ferraro, menegaskan sikap warga terkait terminal tersebut. "Mereka harus pergi dengan satu cara atau cara lainnya," kata Ferraro seperti dikutip New York Post.
Konflik ini membuat lahan terakhir yang masih bisa dikembangkan di kawasan elite tersebut menjadi rebutan berbagai pihak, mulai dari warga kaya, pengembang properti, operator kapal pesiar hingga pemerintah daerah.
(das/das)










































