Belakangan ini ramai soal rumah-rumah di Komplek Taman Mangu Indah, Tangerang Selatan yang banyak dijual. Alasannya diduga karena wilayah itu sering kebanjiran.
Komplek tersebut terbagi menjadi dua, yaitu RW 012 dan RW 06, yang dipisahkan oleh Kali Ciputat. Untuk RW 012 masuk ke bagian Kelurahan Jurang Mangu Barat sementara RW 06 masuk Kelurahan Pondok Aren.
Dulu, apabila terjadi banjir biasanya lima tahun sekali atau banjir lima tahunan. Namun belakangan ini, banjir lebih sering terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut keterangan Ketua RT 02 RW 012 Komplek Taman Mangu Indah, Sugiyanto yang sudah tinggal di sana sejak 1996, memang ada perubahan pola banjir yang biasanya terjadi di perumahan itu. Dari yang tadinya fase lima tahunan kini menjadi lebih sering.
Dalam fase banjir lima tahunan ini, ketinggian air bisa mencapai pinggang orang dewasa untuk area di dekat kali. Untuk rumah yang berada di bagian belakang tidak terkena banjir karena posisinya yang cukup tinggi.
"Sekarang itu sudah nggak kenal (banjir) lima tahunan lagi. Kadang-kadang sebulan bisa banjir sampai tiga kali, empat kali gitu," tuturnya saat ditemui detikcom, Senin (11/5/2026).
Pemerintah setempat telah meninggikan tanggul air pada 2024. Namun, karena pengerjaannya dilakukan saat musim hujan dan belum selesai, tanggul tersebut tak mampu menampung debit air yang sangat tinggi apalagi di depan perumahan juga ada tanggul Pasar Ceger yang tak dapat menampung lebih banyak air. Akhirnya banjir tak terelakkan.
Pada 2025, sempat terjadi tanggul jebol dan tak bisa menahan derasnya aliran air. Hal ini juga menyebabkan banjir di perumahan tersebut, terutama di wilayah RW 012.
Selain karena tanggul jebol, Sugiyanto berpendapat bahwa minimnya daerah resapan air juga menjadi penyebab banjir. Saat ini, banyak proyek pembangunan rumah baik di wilayah sekitar maupun daerah hulu kali yang menyebabkan daerah resapan air menipis.
"Kalau menurut saya, kan dulu kan di hulu masih banyak tanah kosong. Jadi resapan tuh kan masih banyak. Sekarang sudah banyak perumahan, mau nggak mau resapan kan nggak ada," paparnya.
Selama ia tinggal di sana pun belum pernah dilakukan normalisasi kali, hanya ada peninggian tanggul kali. Ia pun berharap ke depan akan ada normalisasi kali agar aliran kali lebih lancar.
Saat ini, tanggul kali sudah ditinggikan hingga dua meter dan ada pompa air agar banjir bisa cepat surut. Setelah pompa air dan dan tanggul di tinggikan, genangan air hanya sampai betis orang dewasa saja dan banjir lebih cepat surut.
Selain masalah banjir, Sugiyanto mengaku betah tinggal di Taman Mangu Indah karena wilayahnya aman dan warganya rukun.
Senada, pengurus RW 06 Komplek Taman Mangu Indah mengatakan kalau di perumahan itu banjir, karena siklus lima tahunan saja. Tapi belakangan jadi sering terjadi.
Walau demikian, ketinggian banjir hanya sekitar mata kaki orang dewasa saja. Saat tanggul jebol beberapa waktu lalu yang membanjiri RW 012, di RW 06 hanya sampai betis orang dewasa. Hal itu karena di wilayahnya ada peninggian tanggul dan memasang folder air dari pemerintah setempat. Rencananya, peninggian tanggul akan dilanjutkan sekitar pertengahan 2026.
"(Alasan lain) tanggul ditinggiin biar anak-anak nggak main dekat tanggul, kan bahaya," tuturnya.
Selain itu, banjir ini juga diduga karena berkurangnya area resapan air karena pembangunan perumahan yang masih di sekitar daerah tersebut maupun hulu sungai.
"Di sekitar sini sudah banyak cluster juga jadi resapan berkurang," ujarnya.
(abr/das)
