Henry Ford Pernah Bikin Kota di Hutan Amazon, Kini Mati karena Ulah Sendiri

Jejak Hidup di Kota Mati

Henry Ford Pernah Bikin Kota di Hutan Amazon, Kini Mati karena Ulah Sendiri

ilham fikriansyah - detikProperti
Selasa, 12 Mei 2026 06:47 WIB
FORDLANDIA, BRAZIL: A swimming pool on an abandoned house in Vila Americana, a luxury condominium created for Ford Motors executives to live in from 1928 in the utopian project of the city of
Kota mati Fordlandia di Brasil. Foto: The Washington Post via Getty Im/The Washington Post
Jakarta -

Mendirikan sebuah kota idealnya berada di lokasi yang strategis dan mudah dijangkau masyarakat. Namun, kota ini berdiri di tengah Hutan Amazon dan akhirnya berujung menjadi kota mati.

Kota tersebut adalah Fordlandia, sebuah kota satelit di Brasil yang dirancang memiliki fasilitas mumpuni, mulai dari rumah sakit, bioskop, hingga perumahan elite. Kota ini sengaja dirancang menjadi kota modern bak di Amerika Serikat (AS), tapi lokasinya di tengah hutan.

Penggagas kota ini adalah Henry Ford, pencipta merek mobil Ford Motor Company yang terkenal di seluruh dunia. Tujuan membangun kota ini hanya satu, demi mempermudah pengiriman karet untuk produksi ban mobil di pabrik utamanya di Dearborn, AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kala itu, perusahaan sulit mendapatkan karet sebagai bahan baku utama untuk memproduksi ban mobil. Pada 1920-an, karet dari Sri Lanka dimonopoli oleh Inggris sehingga biaya perakitan mobil Ford bisa melambung tinggi.

Ford kemudian mencari solusi untuk mendapatkan karet dengan harga terjangkau, yakni dari Brasil. Namun, proses pengiriman karet dari Brasil ke AS juga tidak mudah pada masa itu.

ADVERTISEMENT

Akhirnya Ford punya ide cemerlang. Daripada sekadar membangun pabrik pengolahan karet, lebih baik membangun kota satelit di tengah hutan. Langkah ini juga sesuai dengan visi Ford yang ingin membangun kota ideal dan modern di masanya.

Hutan Amazon Perlahan Berubah Menjadi Kota Modern

Kota Fordlandina pada zaman dahulu dilihat dari atas.Kota Fordlandia pada zaman dahulu dilihat dari atas. Foto: Wikimedia Commons/Public Domain/Ford Motor Company

Ford memilih wilayah di distrik Aveiro, Negara Bagian ParΓ‘, untuk mendirikan kota baru impiannya bernama Fordlandia. Hutan Amazon yang dipenuhi tanaman dan pepohonan mulai ditebang, tanahnya mulai diratakan, kemudian dibangun berbagai rumah penduduk, bar, hingga rumah sakit.

Tak hanya itu, fasilitas lainnya seperti sekolah, lapangan golf, dan lapangan tenis juga dibangun di Fordlandia. Di atas lahan seluas 14.200 km persegi, berdirilah sebuah kota yang diidamkan Ford.

Dilansir dari The Guardian, Ford menyebut pembangunan Fordlandia tidak serta merta untuk mengolah karet demi memenuhi produksi ban mobil. Ia berujar ingin membantu perekonomian warga sekitar agar lebih makmur.

"Kita tidak akan pergi ke Amerika Selatan hanya untuk menghasilkan uang, tetapi untuk membantu mengembangkan tanah yang indah dan subur di sana," kata Ford kepada media pada 1928.

Pembangunan Fordlandia baru dimulai pada 1929. Material bangunan baru tiba dari AS, lalu pembangunannya diawasi langsung oleh Einar Oxholm. Ia bertugas mengawasi proyek sekaligus merancang tata letak bangunan di Fordlandia.

Kota ini dirancang dengan kawasan terpisah, yakni untuk pegawai dari AS dan Brasil. Vila Americana yang diperuntukkan untuk warga AS memiliki pemandangan kota terbaik dan mendapatkan air bersih berkualitas, sedangkan para pekerja Brasil menggunakan air sumur yang kualitasnya dinilai keruh.

Pada akhir 1930-an, Fordlandia memiliki sebuah menara air yang menjadi simbol modernitas pada zaman itu. Berdiri juga pabrik kayu dan pelabuhan di dekat sungai untuk mengangkut hasil karet ke AS.

Kota impian Henry Ford sebenarnya sudah hampir selesai, tapi ternyata datang masalah besar dan menjadi titik awal kehancuran Fordlandia.

Kota Modern Fordlandia yang Akhirnya Runtuh

FORDLANDIA, BRAZIL: A swimming pool on an abandoned house in Vila Americana, a luxury condominium created for Ford Motors executives to live in from 1928 in the utopian project of the city of Fordlandia, kota mati di Hutan Amazon Brasil. Foto: The Washington Post via Getty Im/The Washington Post

Henry Ford ternyata hanya fokus membangun kota modern dengan segala fasilitas yang mumpuni. Ia lupa akan satu hal penting, yakni pohon karet untuk keperluan industri ban mobil.

Selama proyek Fordlandia berlangsung, banyak pohon yang ditebang demi mempermudah pembangunan rumah-rumah. Namun, vegetasi hutan yang terus disingkirkan tidak diiringi dengan upaya menanam pohon karet yang berkualitas.

Alhasil, sejumlah pohon karet yang sudah tumbuh malah terserang penyakit dan akhirnya mati. Kondisi ini membuat Ford mendatangkan ahli botani untuk memperbaiki vegetasi pohon karet agar tumbuh subur.

Usaha tersebut cukup berhasil, pohon karet mulai tumbuh dan menghasilkan karet yang berkualitas. Namun pasca Perang Dunia II, karet sintetis muncul untuk menggantikan karet alami. Banyak perusahaan ban mulai beralih ke karet sintetis karena lebih terjangkau dan punya kualitas baik.

Di sisi lain, lokasinya yang terpencil di tengah Hutan Amazon membuat akses dari dan menuju Fordlandia begitu sulit. Proses pengiriman karet juga berjalan lambat hingga memakan waktu berhari-hari.

Selain itu, sempat terjadi kericuhan pada 1930 karena perselisihan antar pekerja. Lalu, aturan di kota Fordlandia dinilai menyusahkan penduduk setempat sehingga membuat warga geram. Salah satunya larangan minum-minuman beralkohol di seluruh kota.

Takut mengalami kerugian besar di kemudian hari, Ford akhirnya meninggalkan Fordlandia dan mengembalikannya kepada Pemerintah Brasil. Menurut laporan Aljazeera, kota tersebut punya nilai sekitar US$ 20 juta atau Rp 348 miliar (kurs Rp 17.410).

Kini, Fordlandia berubah menjadi kota hantu di tengah Hutan Amazon. Pohon-pohon telah memakan bangunan tua yang rusak karena faktor alam. Namun, beberapa bangunan seperti menara air khas Ford, gudang, dan rumah-rumah pekerja masih berdiri, walau kondisinya sangat memprihatinkan.

Meski menjadi kota mati, Fordlandia masih dihuni sebagian penduduk kecil yang tinggal di sekitar area tersebut. Sayangnya, kota modern impian Henry Ford ini hanya berjaya selama beberapa tahun saja.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Nongkrong Seru di Foresthree Cafe, Bogor"
[Gambas:Video 20detik] (ilf/zlf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads