Nilai tanah di Sudirman Central Business District (SCBD) yang tembus Rp 200 juta per meter persegi ternyata tidak ada apa-apanya dengan nilai rumah di Monako yang tembus lebih dari Rp 1 miliar per meter persegi.
Dilansir Mansion Global, menurut laporan Knight Frank 2026, modal US$ 1 juta atau setara dengan Rp 17 miliar (kurs Rp 17.432) hanya bisa membeli rumah seluas 16 meter persegi atau Rp 1,06 miliar per meter persegi. Nilainya mengalahkan transaksi tertinggi di Hong Kong dan Inggris.
Ada pun, luas rumah 16 meter persegi setara dengan luas kamar hotel standar atau seluas ukuran tempat parkir atau carport rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun harganya sangat mahal, banyak yang tertarik membeli rumah di Monako, bahkan miliarder luar negeri sekalipun. Salah satunya adalah orang terkaya di Ukraina Rinat Akhmetov yang membeli apartemen senilai US$ 551,7 juta atau Rp 9,6 triliun yang berada di gedung Le Renzo, Monako pada 2024.
Luas apartemen 5 lantai ini sekitar 2.508 meter persegi, dilengkapi balkon, teras, kolam renang pribadi, dan pemandangan Laut Mediterania.
Rinat Akhmetov bukan satu-satunya orang yang mampu membeli rumah di Monako, ada pembalap-pembalap F1, seperti Lewis Hamilton dan Max Verstappen.
Dilansir Robb Report, rumah Lewis Hamilton di Fontvieille, Monako ditaksir sekitar US$ 15 juta atau setara dengan Rp 261 miliar. Banyak yang mengatakan rumah ini adalah rumah utamanya.
Di dalamnya memiliki beragam fasilitas, mulai dari teras berjemur, ruang sauna, kamar tidur, dapur, hingga kamar mandi.
Max Verstappen juga memiliki rumah di Monako sejak 2015. Nilainya US$ 17 juta atau sekarang setara dengan Rp 296 miliar. Sayangnya, tidak ada informasi tambahan mengenai spesifikasi rumahnya.
Alasan Banyak Orang Kaya Beli Rumah di Monako
Dilansir Business Insider, alasan banyak selebriti, pembalap, aktor, hingga pengusaha memilih tinggal di Monako adalah di negara ini tidak dikenakan pajak penghasilan.
Lokasi Monako juga menguntungkan, dekat dengan Prancis dan Italia, dua negara yang kerap menjadi tujuan orang-orang kelas atas.
Dari segi budaya juga tidak jauh berbeda dengan Prancis. Bahkan bahasa yang digunakan adalah bahasa Prancis, di samping bahasa Inggris.
Alasan selanjutnya yang menjadi alasan utama banyak pembalap F1 menetap di sini adalah karena kota ini termasuk tuan rumah Grand Prix F1.
(aqi/das)










































