Di perbatasan antara India dan Myanmar (dulunya bernama Burma) ada sebuah rumah yang menarik perhatian. Rumah ini terletak di dua negara sekaligus.
Rumah ini memiliki keistimewaan bisa lintas negara tanpa perlu cek passport atau lewat pengecekan yang ketat. Tinggal jalan beberapa langkah sudah berdiri di negara lain, berasa keluar negeri tiap hari.
Lokasi rumah ini ada di Longwa, sebuah desa di Nagaland, kawasan perbukitan terpencil di timur laut India. Dilansir Hindustan Times, rumah ini milik seorang Angh, kepala suku atau raja turun-temurun dari suku Konyak Naga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilihat detikcom dari video di Instagram yang dibagikan oleh Swati dan Prateek, @swatiandprateek, perbatasan rumah itu membagi rumah menjadi dua area. Dapur berada di Myanmar, sementara meja makan dan ruang tamunya ada di India.
"Raja di sini tinggal di dua negara sekaligus. Dapurnya di Burma, dan ruang makannya di India. Dia makan di satu negara dan tidur di negara lain," ujarnya, seperti dikutip detikcom pada Selasa (28/4/2026).
Rumah di perbatasan Myanmar dan India Foto: via India Today |
Area dapur, tempat makan, dan area berkumpul lainnya tidak ada dinding pembatas. Ketika masuk, hanya ada area lapang dari ujung ke ujung. Namun, tetap ada kamar di ujung bagian yang lain.
Rumah ini terbuat dari struktur kayu besar dan tumpukan batu bata dan batu besar. Struktur kayu menyangga langit-langit tinggi dan area komunal terbuka. Pada kayu tersebut terdapat ukiran rumit bergambar prajurit dan satwa liar yang menghiasi pintu masuk. Ukiran tersebut merupakan bagian dari warisan Konyak.
Selain bebatuan, dindingnya dipenuhi tengkorak hewan, gong tradisional, dan senjata kuno, yang merupakan peninggalan sejarah suku. Pada masa itu, para penduduk memang aktif berburu.
Meskipun statusnya kini sudah jadi Museum Budaya Konyak Naga, rumah tersebut masih digunakan oleh warga setempat bahkan mereka bersama-sama memasak dan makan di dalamnya.
Swati dan Prateek mengungkapkan saat berkunjung ke rumah ini, mereka diperbolehkan untuk mencoba pakaian tradisional agar dapat sepenuhnya merasakan layaknya warga lokal. Mereka juga boleh menyentuh beberapa barang pusaka yang dipajang di sana, seperti gong, tameng, dan lainnya.
Menurut Times of India, warga di sana juga memegang kewarganegaraan ganda sehingga sangat mudah untuk berpindah tempat.
Fakta unik lainnya selama berada di sana, Swati dan Prateek menunjukkan bahwa pembagian waktu di rumah tersebut juga berbeda. Ponsel Applenya menunjukkan pukul 5.40 waktu Myanmar, sementara ponsel androidnya menunjukkan 4.40 waktu India.
Meskipun berada di dua wilayah kekuasaan berbeda. Rumah ini tetap dapat berdiri, bahkan jadi lokasi wisata di sana. Warga juga diberikan kebebasan dan rasa aman untuk tetap bertahan di desa mereka.
(aqi/das)











































