Hotel mewah yang ikonik di Dubai, Burj Al Arab, akan tutup selama 18 bulan ke depan. Penutupan ini dilakukan untuk renovasi besar-besaran untuk pertama kalinya sejak 1999.
Dilansir dari Reuters, pemilik hotel yang menjadi ikon Dubai itu, Jumeirah, pengerjaan renovasi itu dilakukan selama 18 bulan dan dipimpin oleh arsitek interior yang berbasis di Paris, Tristan Auer.
Seorang staf hotel tersebut mengatakan, para tamu yang sudah memesan kamar di Hotel Burj Al Arab akan diberikan alternatif menginap di hotel-hotel terdekat. Periode penutupan hotel dapat berubah sewaktu-waktu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hotel ikonik berbentuk perahu layar ini menjadi salah satu landmark di Dubai dan menjadi properti unggulan dari grup Jumeirah. Memang, saat terjadi perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, bangunan tersebut sempat mengalami beberapa kerusakan akibat terkena puing-puing drone dari Iran yang menghantam fasadnya pada Maret lalu.
Walau demikian, renovasi besar-besaran yang dilakukan ini bukan karena hal tersebut. Jumeirah tidak mengaitkan proyek ini dengan perang dalam pernyataannya.
Waktu renovasi ini patut diperhatikan karena konflik tersebut telah merugikan perjalanan ke Dubai, mulai dari penerbangan yang tertunda hingga turunnya wisatawan yang datang ke sana.
Sebagai informasi, pada awal Maret 2026, Hotel Burj Al Arab sempat rusak ringan akibat serangan drone Iran. Beruntung drone tersebut masih bisa dicegat, tapi puing-puingnya memicu kebakaran kecil pada fasad Burj Al Arab.
Hotel bintang lima yang dibangun di atas pulau buatan ini resmi dibuka pada 1999. Memiliki tinggi 321 meter, hotel ini memiliki kamar yang sangat luas yaitu sekitar 170-700 m2, lalu material yang digunakan adalah marmer berkualitas tinggi dan beberapa furniture berlapis emas 24 karat, menjadikannya salah satu hotel termewah di dunia.
