Mendesain sebuah rumah tidak melulu soal estetika dan visualnya saja, tapi perlu mengutamakan kenyamanan dan keberlanjutan. Kini, masyarakat mulai sadar akan hunian yang menghadirkan pengalaman lebih sehat dan nyaman.
Sayangnya, masih ada beberapa rumah yang lebih mengutamakan desain estetis dan minimalis, tapi tidak memikirkan soal keberlanjutan untuk masa depan. Padahal, rumah dibangun agar bisa dihuni dengan nyaman selama bertahun-tahun.
Marketing Director LIXIL Water Technology Indonesia Arfindi Batubara mengatakan kualitas hunian yang baik dapat dicapai ketika desain dan teknologi bersinergi, sehingga bisa saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain.
"Prinsip gotong royong merupakan fondasi masyarakat kita dalam bertumbuh dan hidup berdampingan. Kemajuan pembangunan saat ini juga sangat bergantung pada kekuatan ide dan kebersamaan," kata Arfindi dalam keterangan resminya yang diterima detikcom, Jumat (17/4/2026).
Arfindi menyebut LIXIL akan terus berkomitmen menjadi mitra yang tidak hanya menawarkan solusi yang fungsional, tapi turut membuka akses terhadap perspektif dan peluang baru bagi para profesional di industri.
"Melalui semangat kolaborasi lintas sektor, LIXIL berkomitmen menjadi mitra strategis yang menghadirkan ruang agar kami dan para profesional di industri ini dapat terus berkembang bersama, sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional dalam mewujudkan kualitas ruang hidup yang lebih baik bagi masyarakat," ujarnya.
Komitmen LIXIL tersebut berhasil diwujudkan lewat berbagai upaya yang dijalankan secara konsisten, mulai dari partisipasi dalam beragam platform edukasi, diskusi komunitas, dan inisiatif perusahaan yang mengintegrasikan desain arsitektur dengan inovasi teknologi dalam proyek nyata.
Dalam ajang pameran arsitektur ARCH:ID, LIXIL datang dengan menghadirkan instalasi Paviliun "OASE: Architecture in the Water Cycle" yang merupakan hasil kolaborasi dengan arsitek Adi Purnomo dan Mamostudio, serta sejumlah pakar lintas disiplin.
Instalasi pameran ini turut menggambarkan komitmen LIXIL dalam menerapkan prinsip keberlanjutan (sustainability) dalam sebuah bangunan. Seluruh elemen utama, seperti air dan tanaman, dirancang agar dapat dialihfungsikan kembali (repurposed) sebagai bagian dari komponen pendukung lanskap untuk proyek lainnya.
Lewat pendekatan berbasis riset dan kolaborasi dengan para peneliti, paviliun ini diharapkan menjadi ruang edukasi yang menarik bagi pengunjung untuk mengetahui soal bangunan keberlanjutan dan ramah lingkungan.
"Melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan banyak pihak, bahkan hingga peneliti lingkungan dan sosial, paviliun ini akan memperkaya pengalaman pengunjung dalam memahami relasi antara air, sanitasi, lingkungan, dan sejarah perkembangannya, terutama di kawasan urban. Proyek ini sekaligus membuktikan bagaimana sinergi lintas disiplin dapat menciptakan 'OASE', baik secara arti kiasan maupun harafiah," ujar Founder Mamostudio, Adi Purnomo.
Paviliun LIXIL juga akan menghadirkan berbagai aktivitas selama pameran ARCH:ID, seperti "Step into the Oasis" yang merupakan sesi open house pada 23 April 2026. Acara ini menjelaskan konsep arsitektur di balik terciptanya paviliun ini.
Ada juga "Alun-alun Talks" dengan topik 'From Data to Design: Rethinking Architecture Through Environmental Intelligence' pada 24 April 2026. Acara ini menjadi kesempatan berdiskusi langsung bersama pakar mengenai data lingkungan yang bisa diolah menjadi sumber inspirasi desain yang adaptif dan solutif.
Lewat kehadiran paviliun, LIXIL mendorong terciptanya kolaborasi yang lebih luas serta memperkuat komitmen perusahaan dalam mendukung ekosistem arsitektur Indonesia yang semakin adaptif, berkelanjutan, dan relevan untuk masa depan.
Simak Video "Video: Hunian Murah di Tebing Tinggi, Rusunawa Ini Disewa Rp 2.000 per Hari"
(ilf/zlf)