Gedung Pusat Kepresidenan Barack Obama di Chicago kembali banjir sorotan. Kali ini, karena desain menara utamanya dianggap membingungkan dan sulit dipahami oleh publik. Proyek ini sejak awal memang sudah penuh kontroversi, mulai dari biaya pembangunan yang membengkak hingga konsep desain yang dinilai tak lazim.
Dilansir dari Fox News, Senin (6/4/2026), kompleks yang berdiri di kawasan South Side Chicago ini menampilkan menara setinggi 225 kaki. Bangunannya dilapisi marmer, menyerupai monumen batu tunggal yang menjulang tinggi.
Bentuk unik ini bahkan memunculkan julukan 'Obamalisk' dari para pengkritiknya. Julukan tersebut kemudian menjadi bahan ejekan di kalangan politikus konservatif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kritik semakin kuat setelah teks pidato Obama pada tahun 2015 di Selma, Alabama diukir mengelilingi bagian atas menara. Banyak warga mengeluhkan bahwa tulisan tersebut sulit dibaca dan justru membingungkan secara visual.
Gedung Pusat Kepresidenan Obama. Foto: Getty Images |
"Surat-surat baru itu (sebuah kutipan dari pidato Obama di Selma) sulit dibaca bagi saya, memberikan kesan seperti lorem ipsum," ujar kritikus arsitektur Chicago, Lee Bay seperti dikutip dari Fox News.
Tidak hanya dari kalangan arsitektur, kritik tajam juga datang dari warganet di media sosial. Beberapa bahkan menyindir desain tersebut dengan berbagai perbandingan ekstrem, mulai dari bangunan fiksi hingga struktur bangunan militer.
"Saya berhenti membaca karena sudah pusing saat baru sampai baris ketiga dari atas," tulis salah satu warganet.
Di tengah kritik tersebut, pihak arsitek gedung tersebut, Tod Williams dan Billie Tsien menjelaskan bahwa desain menara dimaksudkan sebagai simbol gerakan akar rumput, dengan empat sisi yang melambangkan tangan-tangan yang bersatu. Selain itu, teks pidato dipilih untuk merepresentasikan perjuangan hak sipil.
Proyek bangunan kompleks terpadu yang juga difungsikan sebagai perpustakaan kepresidenan ini turut menuai kritik karena tidak mengikuti model perpustakaan kepresidenan tradisional. Arsip tidak disimpan secara fisik, melainkan secara digital, dan pengelolaannya diserahkan kepada yayasan pribadi, bukan lembaga arsip nasional.
Selain aspek desain, penggunaan lahan Jackson Park sebagai lokasi pembangunan turut memicu perdebatan. Taman publik yang sebelumnya menjadi ruang terbuka hijau kini dialihfungsikan menjadi kompleks besar, sehingga memunculkan perdebatan tentang privatisasi ruang publik.
Sejumlah warga juga menyoroti dampak sosial dari proyek ini, termasuk potensi perubahan lingkungan perkotaan di kawasan South Side. Pembangunan pusat megah dinilai dapat mengubah karakter lingkungan dan mendorong naiknya biaya hidup bagi penduduk lama.
Gedung Pusat Kepresidenan Obama Berdampak pada Pasar Perumahan Sekitar Kompleks
Melansir CoStar, proyek Pusat Kepresidenan Obama disebut sebagai yang termahal dalam sejarah Amerika Serikat. Estimasi biaya mencapai US$ 850 juta atau sekitar Rp 14 triliun (kurs Rp 16.900).
Kompleks ini telah direncanakan selama satu dekade dan mengalami berbagai hambatan, termasuk gugatan hukum serta peninjauan federal.
Pembangunan yang berlokasi di sekitar Universitas Chicago ini dikhawatirkan akan mendorong kenaikan harga properti di wilayah sekitarnya. Kekhawatiran ini terutama dirasakan oleh warga di kawasan Woodlawn dan South Shore yang berdekatan dengan lokasi proyek.
Sejumlah agen properti memperkirakan bahwa nilai rumah di kawasan tersebut akan meningkat signifikan setelah pusat ini dibuka. Bahkan, kenaikan harga sudah mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir seiring berkembangnya proyek.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan perubahan lingkungan yang kurang berkembang menjadi wilayah mewah menengah ke atas, serta pergeseran penduduk akibat meningkatnya harga properti dan biaya hidup.
Pemerintah kota pun merespons dengan kebijakan perumahan terjangkau, termasuk bantuan pajak dan penyediaan lahan bagi warga lokal.
(zlf/zlf)












































