Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah merenovasi sayap timur Gedung Putih yang diubah menjadi ballroom besar. Proyek tersebut mendapat kritik dari sejumlah pengamat karena desainnya dinilai kurang bagus. Namun kritikan ini justru picu kemarahan di Gedung Putih.
Dilansir dari Independent UK, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengecam keras terhadap sebuah artikel yang dimuat di New York Times. Artikel itu mengkritik soal desain ballroom Gedung Putih yang digagas oleh Donald Trump.
Leavitt merujuk pada dua pakar di dalam artikel itu, yakni Larry Buchanan yang telah mempelajari seni rupa dan Emily Badger yang memiliki pengalaman soal perencanaan tata kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalam artikel itu juga terdapat kutipan dari seorang arsitek berpengalaman bernama Junho Lee. Namun, Leavitt lebih mengecam kutipan dari Larry dan Emily karena dinilai belum punya pengalaman untuk mengkritik desain ballroom Gedung Putih.
"The New York Times menugaskan tiga orang secara acak yang disebut telah mempelajari seni rupa, telah lama menulis tentang perencanaan kota, dan belum pernah membangun apa pun untuk menulis artikel yang mengkritik ballroom Gedung Putih yang baru," tulis Leavitt dalam sebuah unggahan di media sosial, dikutip Senin (30/3/2026).
Leavitt pun turut membela Donald Trump. Menurutnya, Trump dan arsitek utama yang mendesain ballroom Gedung Putih, Shalom Baranes telah lama membangun dan mendesain gedung berkelas di seluruh dunia, sehingga desain ballroom Gedung Putih dipastikan mengusung konsep yang bagus.
"Presiden Trump dan arsitek utamanya telah membangun gedung-gedung kelas dunia di seluruh dunia, dan mereka memastikan Gedung Putih Akhirnya memiliki ruang dansa yang indah yang telah diimpikan selama beberapa dekade, serta tanpa membebani pembayar pajak," tuturnya.
Render desain ballroom Gedung Putih yang digarap Presiden AS, Donald Trump Foto: Dok. Truth Social/@realDonaldTrump |
Dalam artikel yang dimuat di New York Times, pengamat menyebut kalau desain ballroom Gedung Putih terlalu dominan jika dilihat dari sisi selatan. Hal itu membuat ruangan ballroom tampak 60 persen lebih besar daripada bangunan utama Gedung Putih, sehingga mengurangi kesan simetri.
Selain itu, ketiga pengamat juga mengkritik adanya tangga besar di depan ballroom. Mereka menilai tangga tersebut tidak akan berfungsi secara optimal karena tidak ada pintu yang menuju ke ruang ballroom dari sisi bangunan tersebut.
Lalu, sisi selatan ballroom juga akan dilapisi dengan kolom-kolom besar khas bangunan di era Romawi. Para pengamat menilai kolom besar itu justru akan menghalangi pemandangan dari dalam ruang dansa serta menghambat masuknya cahaya matahari ke dalam ruangan.
Mereka juga mengkritik arsitek Shalom Baranes yang mendesain ballroom Gedung Putih. Sebab, Shalom lebih mengutamakan estetika daripada fungsi utama bangunan pada bagian serambi selatan ballroom.
Sebagai informasi, Trump menyebut proyek ballroom ini tidak memakai uang pajak sama sekali, melainkan dana dari para donatur. Namun, biaya pembangunannya terbilang sangat fantastis karena mencapai US$ 400 juta atau Rp 6,79 triliun (kurs Rp 16.987).
"Semua uang yang dibayarkan berasal dari saya sendiri dan para donatur... semuanya dari donatur," ungkap Trump dilansir dari Fox News.
"Tidak ada satu sen pun uang pemerintah yang masuk ke ballroom," imbuh Trump.
(ilf/das)

