Umumnya sebuah perusahaan memiliki kantor di pusat bisnis atau gedung perkantoran di tengah perkotaan. Ada yang gedungnya milik perusahaan sendiri atau bercampur dengan perusahaan lainnya.
Namun, kini ditemukan fenomena baru ada perusahaan-perusahaan kecil yang karyawannya tidak sampai 30 orang, memilih berkantor di sebuah rumah di tengah permukiman. Lingkungan lokasi kantor ini bukan area komersial, melainkan di tengah perumahan.
Biasanya perusahaan yang memanfaatkan bangunan tempat tinggal menjadi kantor ini adalah perusahaan agency, tim kecil yang dibentuk untuk project khusus, pekerja kreatif, hingga UMKM yang produksinya masih skala kecil. Kenapa fenomena perusahaan berkantor di rumah ini semakin marak ditemukan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal ini, Co-Head of Office Services CBRE Indonesia Judy Sinurat mengungkapkan salah satu alasannya adalah masalah biaya.
Untuk perusahaan yang baru saja naik, ada banyak sekali pengeluaran yang harus diprioritaskan. Sementara, untuk menyewa ruang kantor di gedung perkantoran misalnya, biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit.
Selain itu, ruang yang tersedia cukup besar, sedangkan jumlah karyawan belum begitu banyak sehingga kebutuhan ruangnya tidak begitu besar.
Meski begitu, tidak sedikit perusahaan yang kondisinya mulai naik dan stabil akhirnya pindah ke tempat yang lebih nyaman dan sesuai dengan perusahaannya. Bagaimana pun memiliki kantor di lokasi yang tepat pasti mempermudah pekerjaan.
"Biasanya sih sebenarnya mereka itu awalnya dari cost (biaya), maksudnya dalam arti kayaknya untuk mulai di office agak mahal, akhirnya kita mulai dulu deh misalnya di ruko atau area-area yang sudah komersial tapi bangunan-bangunan kecil gitu. Nanti kalau misalnya bisnisnya mereka berkembang, akhirnya mereka pindah juga ke tempat yang mungkin komersial, office space di mana dari sisi pelayanan dan segala macam lebih proper gitu sih," kata Judy saat dihubungi detikcom pada Kamis (26/3/2026).
Lalu, untuk tipe perusahaan agency banyak membuka kantor di area perumahan, menurut Co-Head of Office Services CBRE Indonesia Albert DW, untuk mempermudah pekerjaan mereka. Umumnya agency dibebankan dengan pekerjaan yang banyak dan tenggat waktu yang singkat. Hal ini dibutuhkan ruang gerak yang cepat agar lebih menghemat waktu.
"Karakter dari agensi ini adalah deadline, dia butuh deadline yang banyak. Sehingga dia butuh cepat dan dia butuh overtime, maksudnya (bekerja sampai) di luar dari jam kantor. Ada karena kalau misalnya di gedung-gedung tertentu, mereka itu kan harus parkir dulu," ungkapnya.
Kemudian, lokasi perumahan juga biasanya berada di luar Central Business District (CBD) dan lebih dekat dengan konsumen sehingga lebih mudah dijangkau.
Berkantor di rumah-rumah juga bukan hal yang aneh saat ini. Bahkan beberapa pemilik gedung telah melihat hal ini sebagai peluang bisnis. Akhirnya bangunan tersebut dibuat khusus untuk area komersial yang bisa menampung beberapa pelaku usaha.
"Developer sekarang juga very smart. Mereka sekarang itu tidak hanya memfokuskan pada satu bukaan pintu. Jadi mereka ada 4 lantai, ada 4 pelaku bisnis. Di atasnya cafΓ©, di bawahnya salon sehingga agak memudahkan mereka dari sisi pergerakan dan juga bisnisnya mereka, tapi mereka tidak saling terganggu. Jadi tidak harus masuk ke dalam satu gate tertentu, mereka sudah punya akses sendiri (masing-masing bisnis punya akses masuk ke gedung)," ujar Albert.
(aqi/abr)











































