Di tengah kota suci Madinah yang penuh sejarah Islam, berdiri sebuah masjid yang menyimpan kisah penting perjalanan dakwah Rasulullah SAW, yakni Masjid Al-Ghamamah. Tak hanya sekadar tempat ibadah, masjid ini adalah digunakan Nabi Muhammad SAW untuk menggelar salat Id bersama umatnya.
Dilansir dari Arab News, Kamis (19/1/2026), masjid ini diyakini sebagai lokasi Rasulullah SAW melaksanakan salat Id serta salat jenazah ghaib untuk Raja Najashi dari Ethiopia. Letaknya yang tidak jauh dari Masjid Nabawi menjadikan kawasan ini sebagai salah satu pusat penting dalam sejarah Islam.
Sebelum berdiri masjid, lokasi ini awalnya merupakan tanah lapang yang digunakan untuk melaksanakan salat Id karena kapasitas Masjid Nabawi saat itu tak sanggup mampu menampung seluruh jamaah. Dari sinilah tradisi pelaksanaan salat Id di ruang terbuka bermula, kemudian diikuti oleh generasi selanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama 'Ghamamah' sendiri memiliki arti 'awan' yang berasal dari peristiwa turunnya hujan. Saat itu, Rasulullah SAW memimpin salat istisqa di tanah lapang tersebut untuk meminta hujan. Awan yang datang menaungi beliau menjadi simbol rahmat dan keberkahan bagi penduduk Madinah yang saat itu dilanda kekeringan.
Sebelum Dibangun Masjid, Awalnya Cuma Tanah Lapang
Masjid Al-Ghamamah di Madinah, Arab Saudi.. Foto: Wikimedia Commons/CCA 4.0/Khshoggi |
Masjid Al-Ghamamah terletak sekitar 300-500 meter di sebelah barat daya Masjid Nabawi, tepatnya dekat area Bab As-Salam. Lokasi ini dulunya merupakan musala atau lapangan terbuka yang digunakan Rasulullah SAW untuk melaksanakan salat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain itu, tempat ini juga menjadi lokasi pelaksanaan salat istisqa serta salat jenazah ghaib untuk Raja Najashi, penguasa Abesinia yang dikenal melindungi kaum muslim.
Bangunan masjid sendiri baru didirikan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz sekitar tahun 86 hingga 93 Hijriah untuk mengabadikan lokasi bersejarah tersebut. Sebelumnya, area ini hanya berupa tempat terbuka yang memiliki nilai spiritual tinggi bagi umat Islam.
Arsitektur dan Bangunan Masjid
Arsitektur Masjid Al-Ghamamah. Foto: Wikimedia Commons/CCA 4.0 International |
Dilansir dari Madain Project, secara arsitektural, Masjid Al-Ghamamah memiliki bentuk persegi panjang yang terbagi menjadi area pintu masuk dan ruang salat. Dindingnya didominasi batu basal hitam yang memberikan kesan kokoh dan klasik, dipadukan dengan kubah putih yang mencolok di bagian atas. Masjid ini juga memiliki enam kubah, dengan kubah utama berada di atas mihrab.
Renovasi besar pernah dilakukan pada masa Kesultanan Utsmaniyah oleh Sultan Abdul Majid I. Renovasi itu membentuk tampilan masjid seperti sekarang. Pemugaran kemudian dilanjutkan pada era modern, termasuk pada masa Raja Fahd dan Raja Salman, dengan tetap mempertahankan ciri khas arsitektur historisnya. Pintu kayu berukir, menara di sudut barat laut, serta pelataran yang asri menambah keindahan sekaligus ketenangan bagi para jamaah.
Masjid Al-Ghamamah tidak hanya menjadi destinasi ziarah, tetapi juga pengingat kuat akan keteladanan Rasulullah dalam memimpin umat dan beribadah. Dari tanah lapang sederhana hingga menjadi bangunan bersejarah, masjid ini terus menghubungkan umat Islam dengan jejak spiritual masa lalu yang penuh makna.


