Harga rumah di Jakarta Utara (Jakut) tercatat mengalami penurunan. Penurunan harga itu tidak hanya terjadi pada rumah seken saja, rumah baru atau primer pun turut berdampak.
Dalam laporan Pinhome yaitu Indeks Harga Jual Properti Kuartal 4 2025, secara kuartal ke kuartal, Jakarta Utara mencatat koreksi harga jual rumah terutama di kawasan pesisir seperti Tanjung Priok dan Cilincing. Rumah tipe 55-120 di Tanjung Priok turun 5%, sementara tipe 121-200 terkoreksi 3% di Tanjung Priok dan Cilincing.
Di Tanjung Priok untuk tipe 55-120 turun dari Rp 2,1 miliar menjadi Rp 2 miliar atau turun 5 persen. Hal yang sama juga terjadi pada rumah tipe 121-200 dari Rp 3,4 miliar turun jadi Rp 3,3 miliar atau turun 3 persen. Sementara di Cilincing, untuk rumah tipe 121-200 indeks harganya turun dari Rp 1,75 miliar menjadi Rp 1,7 miliar atau turun 3 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CEO-founder Pinhome, Dayu Dara Permata, mengatakan penurunan harga itu berlaku untuk rumah baru dan bekas. Namun, belum diketahui pasti terkait cara pembayaran untuk pembelian rumah tersebut.
"Penurunan harga tersebut berlaku baik untuk rumah baru maupun rumah seken. Namun demikian, untuk saat ini belum ada data yang lebih mendalam terkait korelasi antara cara bayar pembelian rumah terhadap perubahan (kenaikan /penurunan) harga," katanya dalam keterangan tertulis kepada detikcom, Jumat (13/3/2026).
Walau demikian, secara umum, pembelian rumah dilakukan melalui KPR dibandingkan cash keras atau cicilan bertahap.
Di sisi lain, Ia menjelaskan bahwa penurunan harga rumah tersebut bukan karena jual cepat atau panic selling akibat isu Jakarta tenggelam. Tapi merupakan reaksi pasar yang bersifat sementara terhadap cuaca ekstrem.
"Koreksi harga jual pada rumah tipe menengah di Jakarta Utara, khususnya Tanjung Priok dan Cilincing ini lebih merupakan reaksi pasar yang bersifat sementara terhadap cuaca ekstrem sepanjang akhir tahun 2025, bukan indikasi panic selling akibat isu Jakarta tenggelam," ungkapnya.
"Berdasarkan indeks kami, pergerakan ini mungkin berkorelasi dengan tingginya kewaspadaan masyarakat merespons peringatan BMKG dan BPBD DKI Jakarta terkait potensi pasang maksimum air laut pada akhir 2025," tambahnya.
Dara menuturkan, kekhawatiran masyarakat pesisir utara Jakarta sudah ditanggapi oleh berbagai pihak. Contohnya, sektor swasta telah mengadaptasi rekayasa tata air berstandar global seperti penerapan Polder System ala Belanda di kawasan PIK 2.
"Di saat yang bersamaan, Pemprov DKI Jakarta bersama pemerintah pusat juga terus memperkuat sistem pertahanan berlapis di kawasan lama seperti Pluit dan Tanjung Priok melalui optimalisasi rumah pompa serta percepatan proyek Tanggul Pantai (NCICD) dan tanggul mitigasi darurat," ujarnya.
Dara menilai, pembangunan infrastruktur pelindung menjadi salah satu faktor yang bisa menetralisir kekhawatiran terkait risiko lingkungan di kawasan pesisir. Dengan demikian, prospek nilai properti di Jakarta Utara tetap terjaga dalam jangka panjang.
(abr/das)










































