Kerajaan Inggris berencana membangun ribuan rumah dengan harga murah meriah untuk masyarakat. Namun, rencana tersebut tidak berjalan mulus karena mendapat protes dari warga.
Dilansir BBC, Kamis (12/3/2026), Kerajaan Inggris berencana akan membangun 2.500 unit rumah di lahan pertanian milik Pangeran William. Rencana tersebut diajukan oleh Kadipaten Cornwall (DoC) dan telah disetujui oleh Dewan Borough Swale (Swale Borough Council atau SBC).
Usulan pembangunan rumah tersebut awalnya diajukan ketika Raja Charles III masih bergelar Adipati Cornwall. Lahan pertanian itu sendiri terletak di wilayah Kent, Inggris, yang telah dibeli oleh pihak kerajaan pada 1999.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencananya, dari 2.500 rumah yang dibangun sekitar 800 unit merupakan rumah sewa bersubsidi dan 475 unit rumah dijual dengan harga murah. Di dalam kompleks ini juga akan dibangun pusat daur ulang air, area terbuka, tempat penyimpanan sampah daur ulang, serta jalur pejalan kaki.
Lahan yang diusulkan untuk menjadi perumahan memiliki luas mencapai 137,7 hektare. Saat ini, sebagian besar lahan telah digunakan sebagai pertanian bagi warga setempat.
Kompleks perumahan yang bernama South East Faversham itu rencananya mulai dibangun antara 2027 atau 2028. Meski punya niat baik untuk menyediakan rumah yang nyaman dan terjangkau bagi masyarakat, tapi proyek ini justru diprotes warga setempat.
Potret kompleks perumahan South East Faversham yang dibangun Kerajaan Inggris, tepatnya di atas lahan pertanian milik Pangeran William. Foto: Dok. RGB via BBC |
Dewan Borough Swale telah menerima lebih dari 460 surat keberatan mengenai pembangunan perumahan tersebut. Surat itu berisi keluhan dan kekhawatiran warga dari pembangunan perumahan yang akan berdampak pada lingkungan.
Selain itu, beberapa warga juga khawatir akan meningkatnya arus lalu lintas, hilangnya lahan pertanian yang berkualitas tinggi, potensi kerusakan terhadap satwa liar, kebudayaan lokal, karakter daerah tersebut, dan infrastruktur yang kurang memadai.
Jonnie Reeves selaku Dewan Paroki Gereja Selling mengatakan pembangunan kompleks di atas lahan pertanian hanya akan merusak pemandangan. Selain itu, luas perumahan tersebut juga terlalu besar untuk daerah tersebut.
"Proyek ini jelas merusak pemandangan, terlalu besar dan tidak proporsional. Ini akan menyebabkan kemacetan lalu lintas yang parah," kata Reeves kepada Independent UK.
Di sisi lain, penasihat Kadipaten Cornwall Roger Hepher menyebut pembangunan perumahan ini harus dilakukan karena ketersediaan rumah murah di Inggris jumlahnya sangat menipis, sehingga banyak warga kesulitan memiliki hunian sendiri.
"Pembangunan perumahan ini justru akan mengatasi masalah perumahan di Inggris, dengan fase pertama yang sebagian besar berupa perumahan sewa sosial akan siap dibangun dalam waktu singkat," tutur Hepher.
Rencananya, kompleks perumahan South East Faversham akan dibangun lebih luas lagi pada fase kedua yang mencakup penambahan sejumlah fasilitas umum, seperti sekolah dasar, rumah sakit, terminal, dan akses jalan yang lebih luas.
Sebagai informasi, Pangeran William mewarisi wilayah Kadipaten Cornwall, termasuk tanah dan properti di sana yang nilainya lebih dari 1 miliar pound sterling atau mencapai Rp 22,7 triliun (kurs Rp 22.630). Ia mewarisi tanah ini dari sang ayah, Raja Charles III.
(ilf/das)











































