Konflik Iran Vs AS-Israel Bisa Bikin Sektor Properti RI Suram Tahun Ini

Konflik Iran Vs AS-Israel Bisa Bikin Sektor Properti RI Suram Tahun Ini

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Kamis, 05 Mar 2026 16:45 WIB
Ilustrasi rumah subsidi
Ilustrasi rumah. Foto: Dok. Kementerian PKP
Jakarta -

Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) (PT SMF) Martin Daniel Siyaranamual mengatakan prospek properti di 2026, terutama pada awal tahun ini tampak kelabu. Bahkan prediksi ini sudah terlihat dari tanda-tanda yang mereka temukan sebelum adanya konflik yang terjadi antara Israel-AS dengan Iran beberapa hari terakhir.

"Sebetulnya 2026 itu bukan tahun yang penuh bunga dan pelangi buat sektor perumahan," kata Martin dalam acara konferensi pers Kinerja Full Year 2025 PT SMF (Persero) di Artotel Gelora Senayan, Jakarta, pada Rabu (4/3/2026).

Martin mengingatkan saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia baru menyentuh angka 5 persen. Angka ini belum mampu mendorong Indonesia keluar dari lingkaran negara-negara berpenghasilan menengah (middle income countries). Hal ini yang membuat pemerintah tengah gencar mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menyentuh angka 7 persen yang tentu prosesnya tidak bisa dalam waktu singkat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sayangnya, kini proses tersebut akan lebih berat dengan adanya perang di kawasan teluk imbas serangan dari Israel-AS ke Iran.

ADVERTISEMENT

"Tantangannya akan semakin berat ketika sudah barang tentu ada ketegangan, ada ketidakpastian yang meningkat akibat tensi geopolitik atau perang yang terjadi di Timur Tengah. Kenapa itu bisa terjadi? Alasannya cuma satu. Timur Tengah itu salah satu kantong energi. Iran itu terkenal dengan salah satu pengekspor utama gas bumi. Dia itu adalah substitusi terdekat dari minyak bumi dan batu bara," ungkap Martin.

Saat harga minyak naik, beban subsidi pasti naik, serta kemampuan fiskal negara akan semakin berat. Lantas, apa pengaruhnya pada sektor properti?

Kondisi ini bisa berpengaruh pada lesunya daya beli masyarakat. Kondisi perekonomian yang tidak menentu atau tidak ada jaminan di masa depan akan membuat masyarakat enggan mengeluarkan uang untuk kebutuhan yang tidak mendesak, seperti membeli rumah.

"Saya akan menunda pembelian saya. Implikasinya apa? Implikasinya itu tadi. Bahwa penyaluran kredit, dia akan terhambat. Tapi pada saat yang sama, banyak orang yang berlomba-lomba untuk menaruh uangnya. Ketika posisinya penuh ketidakpastian. Jadi ketika ada ketidakpastian, sinyal-sinyal dasar itu sudah menyalak," ujarnya.

Masalahnya bukan hanya dari terhambatnya pertumbuhan ekonomi saja. Kenaikan harga minyak juga bisa membuat rupiah semakin melemah. Sektor manufaktur nantinya yang akan paling terdampak.

Apabila sektor manufaktor oleng atau mengalami masalah, taruhannya adalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Alhasil angka pengangguran dapat meningkat yang mana akan berpengaruh pada daya beli masyarakat dalam membeli rumah.

"Kalau sampai di sektor manufaktur terpukul, dia nggak bisa beroperasi, angka pengangguran naik. Angka pengangguran naik akan (membuat masyarakat) melupakan berbicara soal perumahan. Perumahan itu (akan) jadi pilihan yang terakhir. Karena (utamanya) bicara soal bagaimana saya makan hari ini," terangnya.

Di satu sisi, Martin menemukan juga sektor properti yang disebut memiliki multiple effect dan dapat menggerakkan perekonomian Indonesia justru posisinya masih jauh dari harapan. Hingga saat ini, properti belum benar-benar menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Sektor real estate sayangnya masih belum menjadi sektor primadona dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia," sebutnya.

"Negara-negara yang lebih maju, itu menunjukkan bahwa sektor real estate-nya itu adalah sektor yang besar. Sektor yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi. Kita harus berani bilang, kita harus mengatakan bahwa ini belum kejadian," lanjutnya.

Mengenai Program 3 Juta Rumah yang merupakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto, ternyata belum bisa menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional.

"Bagaimana dengan Program 3 Juta Rumah? Apakah dia mampu? Sayangnya belum kelihatan. Katakanlah masih belum, ini kan Program 3 Juta Rumah masih baru mulai," tuturnya.

Imbas kondisi yang tak menentu ini, PT SMF mengatakan harus bekerja dua kali lebih keras agar dapat mempertahankan capaian kinerja yang sudah ada atau bahkan agar bisa melampaui capaian tahun sebelumnya. Visi ini juga diharapkan juga tertanam bagi semua pelaku di sektor properti Tanah Air.



(aqi/aqi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita detikcom Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads