Ketika cuaca sedang panas terik, suhu panas di luar terkadang bisa masuk ke dalam rumah melalui genteng. Kondisi ini bikin interior terasa panas dan pengap sehingga bikin tidak nyaman.
Salah satu solusinya adalah dengan menyalakan kipas angin atau AC. Namun, menghidupkan AC secara terus-menerus tentu boros listrik dan tidak hemat energi.
Untuk mengatasi suhu panas yang masuk ke dalam rumah, para ilmuwan menemukan cat genteng yang dapat menangkal panas matahari. Seperti apa ya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir situs New Atlas, Rabu (4/3/2026), para peneliti di Sydney University dan ahli di perusahaan Dewpoint Innovations menciptakan sebuah lapisan polimer seperti cat yang mampu meredam suhu panas matahari.
Lapisan itu merupakan hasil rekayasa nano yang dapat memantulkan hingga 97 persen sinar matahari. Dalam tahap pengujian, lapisan polimer itu mampu menjaga suhu di dalam ruangan hingga 6 derajat Celcius lebih dingin daripada suhu di luar rumah.
Lapisan polimer yang diaplikasikan ke genteng rumah memiliki warna putih. Sekilas mirip seperti genteng berwarna putih pada umumnya yang dijual bebas di pasaran.
Meski mirip seperti cat putih, tapi lapisan ini punya keunggulan dari sisi daya pelindung melalui strukturnya. Terdapat lapisan berpori yang terbuat dari polivinilidena fluorida-ko-heksafluoropropena (PVDF-HFP), sehingga memantulkan sinar matahari lewat pori-pori mikroskopis.
Pori-pori kecil itu dapat menyebarkan sinar matahari ke segala arah tanpa memberikan efek silau, sehingga tidak perlu lagi menggunakan bahan kimia penyerap ultraviolet (UV) yang dapat berkurang seiring waktu.
Lewat pengujian yang dilakukan, lapisan polimer yang diterapkan pada genteng dapat mendinginkan ruangan dan tahan terhadap cuaca panas terik.
"Desain kami mencapai reflektivitas tinggi lewat struktur berpori, sehingga memberikan daya tahan terhadap panas dan memiliki lapisan berbasis pigmen," kata Dr Ming Chiu, Kepala Teknologi Dewpoint Innovations.
"Dengan menghilangkan material penyerap UV, kami mengatasi batasan tradisional dalam reflektivitas matahari sekaligus menghindari silau lewat refleksi difus. Keseimbangan antara kinerja dan kenyamanan visual ini membuat genteng lebih mudah diintegrasikan dan lebih menarik untuk aplikasi di dunia nyata," tutur Chiu.
Di sisi lain, lapisan polimer juga dapat menyerap air lebih dari 30 persen sepanjang tahun, menghasilkan air sebanyak 390 ml per meter persegi setiap hari. Air yang terserap nantinya bisa digunakan untuk kebutuhan seperti menyiram tanaman.
"Teknologi ini tidak hanya memajukan ilmu pelapis pada genteng agar rumah tetap dingin, tapi juga membuka pintu bagi sumber air yang berkelanjutan dan berbiaya rendah, sebuah kebutuhan penting dalam menghadapi perubahan iklim dan meningkatnya kelangkaan air," ujar Chiara Neto, profesor di Nano Institute dan Sekolah Kimia Sydney University.
Para ilmuwan baru-baru ini telah menyelesaikan uji coba lapisan polimer pada genteng selama enam bulan di Sydney Nanoscience Hub. Hasilnya, lapisan polimer mampu bertahan di tengah kondisi matahari terik di Australia, lalu tidak ditemukan adanya tanda-tanda degradasi selama enam bulan meski terpapar suhu panas.
Berkat pengujian itu, pihak Dewpoint berencana akan mulai memproduksi lapisan polimer untuk genteng dalam skala besar. Namun, para ahli masih perlu melakukan penelitian lebih lanjut sebelum produk dirilis secara komersial.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
(ilf/zlf)











































