Dalam beberapa jam terakhir, konflik antara Iran dan Israel terus memanas. Bahkan, konflik ini menyebabkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas akibat serangan udara.
Dilansir situs Aljazeera, Senin (2/3/2026), Israel dan AS telah mengincar kompleks kediaman Ali Khamenei di Iran. Rumah tersebut telah dijatuhkan puluhan bom dan tepat mengenai keluarga Khamenei yang sedang berada di dalam sebuah bangunan.
Dari sejumlah foto yang beredar di media, terlihat kepulan asap hitam muncul dari salah satu bangunan di kompleks kediaman Khamenei. Tampak juga puing-puing bangunan yang hancur usai dihantam bom.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, bangunan di sekitar kompleks masih tetap berdiri kokoh. Namun diyakini kondisinya juga mengalami kerusakan pasca ledakan bom yang menghantam bangunan di sebelahnya.
Sebagai informasi, kompleks kediaman Ali Khamenei terletak di Teheran, ibu kota Iran, yang merupakan salah satu kota terpadat di sana.
Sebelum tinggal di kompleks tersebut, Khamenei pernah menempati sebuah hunian yang sangat sederhana. Padahal, ia memiliki jabatan sebagai pemimpin tertinggi Iran kala itu.
Semasa hidupnya, Khamenei lebih memilih tinggal di antara penduduk Iran. Bahkan, kediaman awal Khamenei disebut sangat jauh dari kata mewah dan canggih.
Dikutip dari NDTV, tempat tinggal Khamenei hanya terdiri dari satu lantai saja. Di dalamnya terdapat dua kamar tidur dan berada di jalan yang sempit.
Rumah tersebut dahulu dimiliki oleh Hujjal al-Islam Sayyid Mahdi Imam Jamah. Kala itu, ia memberikan rumahnya kepada Khamenei secara cuma-cuma. Namun, Khamenei mengolak dan memilih untuk membayar rumah tersebut sebesar 1.000 riyal Iran atau saat ini setara dengan Rp 400 (kurs Rp 0,400).
Yap, kalian tidak salah dengar. Rumah tersebut dibeli dengan harga tak sampai gopek atau 500 rupiah. Meski begitu, Khamenei tetap menempati properti tersebut untuk dijadikan tempat tinggalnya.
Pintu masuk di rumahKhamenei terbilang sempit dan langsung mengarah ke ruang duduk, lengkap dengan sofa kecil dan ada tirai putih. Ada juga sebuah mikrofon di atas meja di sebelahnya.
Rumah tersebut kental akan dekorasi khas Mesir pada bagian interiornya. Meski terbilang kecil, tetapi banyak pejabat pemerintahan dan tamu-tamu penting yang datang ke rumah Khamenei.
Di dalam rumahnya terdapat sebuah lorong yang menghubungkan rumah utama dengan sebuah aula tempat ia berjumpa para pendukungnya dan menyampaikan pidato.
Ruangan aula juga tak terlihat megah dan mewah. Sebab, para pemimpin di Iran enggan menghabiskan uang rakyat untuk keinginan diri sendiri.
Saking sederhananya, dinding aula cuma terdiri dari batu merah tanpa penutup atau lapisan apa pun. Para pendukung Khamenei sempat menawarkan untuk memasang ubin di sana, tetapi ia menolak.
Pasca tewasnya Khamenei, rezim ulama Iran kini tengah menghadapi tantangan besar untuk mencari penggantinya. Pemerintah akan segera mencari sosok yang tepat untuk menjadi penerus Khamenei.
(ilf/das)










































