Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) kembali melakukan peninjauan atas persiapan kawasan Menteng Tenggulun untuk ditata menjadi kawasan layak huni dan produktif. Kawasan ini tak hanya disiapkan untuk program bedah rumah, tetapi diarahkan menjadi model nasional penataan kawasan kumuh yang berkelanjutan.
Direktur Jenderal Perumahan dan Perkotaan, Sri Haryati menyatakan pemerintah memandang bahwa perbaikan fisik rumah semata tak cukup untuk menyelesaikan persoalan kawasan kumuh. Oleh karena itu, penataan Menteng Tenggulun dilakukan dengan pendekatan kawasan yang menyeluruh, mencakup hunian, lingkungan, hingga penguatan ekonomi warga.
"Renovasi rumah saja tidak cukup untuk menuntaskan persoalan kawasan kumuh. Perbaikan hunian harus disertai dengan penguatan ekonomi masyarakat, sehingga UMKM di kawasan tersebut perlu dibina agar warga memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan," ujar Sri kepada Media, dalam kegiatan peninjauan ulang Kawasan Menteng Tenggulun, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sri menjelaskan, berdasarkan hasil identifikasi awal terdapat 52 rumah yang masuk dalam rencana penataan kawasan, dengan 2 rumah telah lebih dulu selesai direnovasi, sementara 50 rumah lainnya masih dalam tahap pengecekan untuk persiapan renovasi dan penataan hunian secara terpadu. Program ini dirancang berbasis kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat sebagai percontohan yang ke depannya akan direplikasi di berbagai wilayah perkotaan Indonesia.
Direktur Jenderal Perumahan dan Perkotaan, Sri Haryati saat melakukan peninjauan ulang Menteng Tenggulun Foto: Wildan Alghofari/detikcom |
"Insyaallah setelah lebaran akan mulai dibangun (kawasan layak huni), desain sudah dibantu oleh IAI dengan 50 arsitek. Ini konsepnya adalah penataan kawasan secara gotong royong, maka nanti juga kita sebutnya kawasan gotong royong Menteng Tenggulun," ujar Sri.
Selain renovasi rumah, penataan kawasan juga dikembangkan, mencakup beautifikasi lingkungan melalui pengecatan rumah, penataan koridor gang, serta pembuatan mural di sepanjang jalan.
Dalam program ini, pemerintah juga memberi perhatian khusus pada penguatan UMKM warga. Dari 52 rumah yang terdata, sebanyak 23 rumah merupakan pelaku UMKM yang akan mendapatkan perbaikan hunian sekaligus pendampingan usaha. Namun, setelah peninjauan dilakukan per hari ini (26/2) terdapat tambahan 12 UMKM lain yang rumahnya tidak direnovasi, namun tetap akan dibina dan rumahnya dilakukan beautifikasi ringan.
Desain Rencana Penataan Kawasan Menteng Tenggulun Foto: Wildan Alghofari/detikcom |
"Jadi yang 12 ini (UMKM) sebetulnya rumahnya masih layak, tapi ada UMKM-nya juga. UMKM-nya kita akan bina, rumahnya kita beautifikasilah dengan pengecatan dan lain-lain," ujar Sri.
Terkait anggaran, pemerintah masih melakukan penghitungan anggaran secara detail dari dana CSR dan akan menyampaikan pihak-pihak pendukung program tersebut dalam waktu dekat.
Di tempat yang sama, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Teguh Aryanto menyatakan, keterlibatan arsitek dalam program ini tidak hanya berfokus pada desain rumah, tetapi juga penataan kawasan secara menyeluruh.
"Yang dibenahi adalah sekitar 50-an rumah yang memang kurang sehat, kemudian beberapa kawasan atau penataan gang koridor, penataan kali, dan juga penataan sisi sungai," ujar Teguh.
Teguh menyebut tantangan utama perancangan terletak pada keterbatasan lahan dan kepadatan hunian, dengan rumah berukuran sangat kecil yang dihuni banyak orang. Bahkan, terdapat rumah berukuran 2 x 4 meter dihuni hingga enam orang, serta rumah 4 x 5 meter ditempati lebih dari satu keluarga Kondisi kawasan yang padat juga menuntut perencanaan khusus dalam distribusi material bangunan.
"Disitulah tantangan arsitek dengan lahan yang terbatas, dengan biaya yang efisien, tapi harus mengakomodir kebutuhan banyak keluarga," ujarnya.
Ia menambahkan, fokus utama renovasi diarahkan pada pemenuhan standar rumah sehat, mulai dari sanitasi, penghawaan, pencahayaan, hingga kekuatan struktur bangunan. Beberapa rumah yang sebelumnya tidak memiliki toilet juga akan didesain ulang agar memiliki fasilitas sanitasi yang layak.
Terkait program gentengisasi, Teguh menegaskan tidak lagi menggunakan material berbahaya seperti asbes dan seng berkarat. Namun, pemilihan atap akan disesuaikan dengan kondisi struktur rumah melalui kajian teknis, dengan alternatif material ringan seperti uPVC, genteng bitumen, dan galvalum, mengingat tidak semua struktur rumah di Kawasan tersebut mampu menopang beban genteng.
Selain rumah dan koridor, penataan kawasan juga mencakup desain ulang jembatan lingkungan yang direncanakan memiliki nilai estetika dan fungsional, serta mendukung citra kawasan sebagai lingkungan hunian yang tertata dan berdaya tarik.
Melalui penataan Menteng Tenggulun, Kementerian PKP berharap dapat menghadirkan contoh penanganan kawasan kumuh yang komprehensif, kolaboratif, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi rujukan bagi daerah lain dalam meningkatkan kualitas permukiman perkotaan.
Sebelumnya diberitakan, kawasan padat Menteng Tenggulun disiapkan menjadi 'Kampung Kuliner' untuk menciptakan kawasan produktif layak huni, dengan 52 rumah direnovasi dan puluhan UMKM dibina melalui skema gotong royong tanpa APBN. Selain itu, program gentengisasi juga pertama kali diterapkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hunian yang sehat di lingkungan warga.
(das/das)












































