Raut wajah cemas nampak terlihat dari Ahyar Af'al Imanudin (31) ketika menceritakan pengalaman dirinya menjadi generasi sandwich. Sebab, dirinya harus menanggung tanggung jawab agar dapat memastikan 'tiga dapur tetap ngebul' yakni keluarga kecilnya, bapak, dan ibunya yang sudah bercerai.
Belum lagi, statusnya yang menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) menambah permasalahan tersendiri. Sejumlah hal itu membuat dirinya harus memutar otak lebih keras agar tantangan kehidupan yang tengah dijalani bisa dilalui.
"Saya juga harus ngebiayain adik (ke dua) juga kan, adik kuliah. Yang satu, tapi alhamdulillah yang satu lagi karena udah kerja jadi nggak saya biayain lagi, cuman yang satu lagi nih yang paling bontot lah. Saya biayai kuliahnya, biayain jajannya, biayain kontrakannya segala macemnya," kata Ahyar Af'al Imanudin kepada detikcom di Sawangan, Kota Depok, Rabu (25/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orang tua nggak ngasih apa-apa lah buat adik lah, jadi all in saya semua itu. Terus saya juga masih ngebiayain ayah, kan udah pindah (cerai), sudah pisah rumahnya. Jadi dapur rumah tiga jadinya akhirnya, jadi double-double aja," sambungnya.
Ahyar Af'al Imanudin yang juga generasi milenial ini mengatakan tantangan kehidupan yang dialami tidak hanya sebatas itu saja. Badai PHK pun sempat dialami beberapa waktu lalu. Menurutnya, hal membuat dirinya sempat mengalami kesulitan dalam mengatur finansial.
"Jadi mulai terasa, oh ternyata ini loh yang namanya sandwich generation itu ini. Engap, karena benar-benar ke mental itu kena," tuturnya.
Ahyar Af'al Imanudin mengatakan badai PHK yang melanda startup tempatnya bekerja membuat perekonomiannya terganggu. Bahkan tak jarang, dia bersama istri harus menggunakan uang tabungan untuk menanggung kebutuhan rumah tangga dan orang tuanya.
Dia mengatakan musibah tersebut membuat penghasilannya berkurang 50-45% dari total keseluruhan bekerja di 2 perusahaan. Menurutnya, pengurangan tersebut memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi ekonomi rumah tangga.
"Kalau pas 2 (perusahaan) itu kira-kira 30% (dari total penghasilan bulanan dari 2 perusahaan) itu ibu lah. Karena di rumah ibu itu ada adik, saya dua-duanya. Kalau bapak itu paling sekitar 10-15%. Yang sisanya tuh kayak cicilan segala macem baru tuh. Buat saya hidup juga di rumah sini juga," ungkapnya.
Dia mengatakan penghasilan yang harus dibagi tak jarang membuat dirinya bersama sang istri berbeda pandangan. Bahkan, hingga mengarah pada perdebatan yang cukup serius.
"Awalnya tuh malah saya tuh sering berantem sama istri gara-gara ini," ujarnya.
Meskipun kerap berbeda pendapat, Ahyar Af'al bersyukur sang istri akhirnya mengerti dengan keadaan yang sedang dialami.
"Cuma pada akhirnya mau tidak mau ya mungkin istri juga ngerasa ya bagaimana lagi di sana juga nggak bisa hidup kalo nggak dihidupi gitu dari sini," jelasnya.
Rela Kerja di 2 Tempat untuk Bahagiakan Istri dan Orang Tua
Foto: Dea Duta Aulia |
Ahyar Af'al mengatakan dirinya rela bekerja di dua tempat untuk membahagiakan istri dan orang tua. Bahkan kebiasaan tersebut sudah dilakukan sejak dirinya belum menikah dan terkena PHK.
Sebelum kena PHK, dirinya mendapatkan dua penghasilan dari dua pekerjaan yakni bekerja di startup Indonesia dan bidang UI/UX design di perusahaan Singapura. Khusus UI/UX design di Singapura dikerjakan secara remote di Indonesia. Ketika masa itu, dirinya tidak terlalu merasakan beban ketika menyandang status generasi sandwich.
"Gaji ya alhamdulillahnya banyak pada saat itu. Dan untuk ngasih pun jadi yaudah ngasih-ngasih aja, kita gak ngerasa kesulitan soal itu. Tapi karena kayak badai segala macam layoff kemarin, kan kerjaannya di satu doang gitu kan. Ekonomi di rumah jadi agak engap gitu, agak sulit," tuturnya.
Dia mengatakan ketika masih bekerja di 2 perusahaan, dirinya mampu untuk membeli rumah dengan skema Kredit Perumahan Rakyat (KPR) PT Bank Tabungan Negara (BTN). Adapun rumah yang dibeli yakni di daerah Pasir Putih, Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat.
Ahyar Af'al bercerita saat pengajuan KPR BTN pun tergolong mudah. Sebab dia hanya perlu memanfaatkan surat keterangan bekerja dari perusahaan di Indonesia sebagai syarat pengajuan KPR untuk skema single income.
Adapun tenor yang diambil yakni 25 tahun dan flat 2 tahun. Menurutnya, tenor tersebut membuat cicilan bulanan menjadi lebih ringan. Apalagi 2 tahun pertama cicilannya masih tergolong flat dan bunganya pun masih rendah.
Apalagi saat itu, KPR BTN memberikan kemudahan kepada nasabah untuk memanfaatkan layanan DP 0%. Menurutnya, layanan tersebut memberikan kemudahan bagi dirinya untuk memiliki hunian pribadi.
"Dengan kebutuhan yang benar-benar cepat pada saat itu dan ada DP 0% dan segala macem. Jadi oke lah. Oke nih. Bisa diusahakan nih kayaknya. Yaudah akhirnya mengambil (KPR BTN) di sini (Sawangan). Waktu itu DP 0% kayanya bunganya dikasih masih 6% kalau nggak salah," jelasnya.
Menurutnya, keputusan untuk mengambil KPR itu tidak terlepas dari wujud rasa sayang dirinya ke sang istri. Ahyar Af'al bercerita bahwa pasangannya memberikan syarat agar dirinya harus punya rumah sebelum menikah.
Dia mengatakan ketika punya rumah sendiri, dirinya bersama istri mampu membangun rumah tangga secara mandiri. Membesarkan sang anak yang saat ini baru berusia 2 tahun secara bersama-sama. Menurutnya, hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri dalam membangun keluarga kecil.
"Karena pertama syarat dari istri itu kita harus punya rumah," tuturnya.
Sebelum ditempati, dia mengatakan rumah tersebut terlebih dahulu dilakukan renovasi pada bagian belakang dan halaman depan. Hal itu sengaja dilakukan agar keluarga kecilnya bisa nyaman untuk tinggal.
"Akhirnya ya renovasi dulu lah belakangnya," jelasnya.
Dia mengatakan kerja di 2 perusahaan juga untuk membantu orang tua dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, hal tersebut menjadi bakti anak kepada orang tua.
"Yang namanya anak mau tidak mau harus membantu orang tua kalau mereka butuh lah ya," ungkapnya.
Dia menambahkan setelah PHK pun, dirinya tetap berupaya untuk mencari pekerjaan tambahan. Berbagai pekerjaan pun dilakukan mulai dari joki antri emas hingga mencari freelance lainnya. Hal itu dilakukan agar dirinya tetap bisa memberikan hunian yang aman serta nyaman bagi keluarga kecil dan membantu orang tuanya.
"Ya sekarang kayak contohnya saya cari freelance buat apa nambah-nambahin gitu kan kayak gitu. Atau bantu orang jual apa gitu kan biar dapet tambahan income gitu," tuturnya.
BTN Berikan Kemudahan untuk Generasi Muda Bisa Punya Rumah
Sementara itu, Direktur Risk Management PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Setiyo Wibowo menjelaskan pihaknya mempunyai sejumlah program dan inovasi yang bisa mendorong anak muda untuk memiliki rumah pribadi. Dia mengakui salah saat ini segment perumahan yakni menargetkan generasi milenial dan gen Z.
"Justru sekarang ini segmen perumahan kita adalah mostly milenial dan gen Z, jadi lebih dari 75% new customer di sisi pembeli rumah dan KPR ini," kata Setiyo Wibowo kepada detikcom akhir Januari 2026 lalu.
Setiyo Wibowo menjelaskan pihaknya turut memaksimalkan layanan digital untuk memberikan kemudahan kepada para nasabah muda yang sedang mencari rumah, salah satunya melalui Bale by BTN. Apalagi, generasi milenial dan gen Z tergolong sudah akrab dengan dunia digital.
Tidak hanya mencari rumah, Bale by BTN memiliki sejumlah fitur layanan seperti pembelian pulsa, token listrik, tiket kereta, transfer dana, dan lain sebagainya.
"Kita juga merubah prosesnya, jadi nggak cuma channel secara konvensional lewat cabang tapi justru melalui channel digital, jadi kita memiliki balik properti, jadi pembelian rumah itu sekarang bisa online. Jadi pembelian rumah nggak cuma harus melihat fisik tapi secara online dan saat ini per bulan atau setahun lalu kita sudah bisa pencairan lewat online itu Rp 2,8 triliun, jadi lebih dari 10% bookingnya BTN itu sudah bisa online secara digital," jelasnya.
"Full digital dan itu lebih cepat prosesnya segala macem. Jadi ini ada tren perubahan behavior baru di mana para millennial gen Z itu mulai bergeser dari channel yang konvensional sekarang beli rumahnya secara online secara digital semua," sambungnya.
Selain itu, pihaknya juga memiliki sejumlah skema KPR untuk memberikan kemudahan kepada para nasabah yang baru terjun ke dunia kerja yakni tenor KPR hingga 30 tahun dengan bunga berjenjang. Program ini juga cocok dimanfaatkan untuk generasi sandwich.
Lewat program tersebut, para nasabah bisa mendapatkan cicilan lebih ringan dengan tenor panjang. Hal itu tentu membuat nasabah bisa lebih mudah untuk mengatur keuangan mereka.
Sepanjang tahun 2025, BTN mencatat pertumbuhan kredit perumahan yang solid, di mana total penyaluran kredit perumahan mencapai Rp 328,4 triliun hingga Desember 2025 tumbuh mencapai 7,5% secara tahunan (yoy). KPR Subsidi tumbuh 10% menjadi Rp 191,2 triliun, sementara KPR Non-Subsidi tumbuh 6,7% menjadi Rp 113 triliun, menopang total aset BTN mendekati Rp 500 triliun.
"Para first jobber millennial gen Z (dan generasi sandwich) itu namanya juga baru kerja ya, dia butuh fitur yang berbeda. Jadi kenaikan suku bunganya berjenjang. Jadi nanti pada saat karirnya meningkat dan lain-lain itu di awal tidak terlalu berat dan kita bisa kasih jangka waktu lebih panjang, mungkin BTN salah satu-satunya bank yang bisa ngasih jangka waktu sampai 30 tahun. Jadi panjang sesuai dengan harapannya nanti dia meningkat terus penghasilannya sehingga tentunya sijilan rumah itu jadi lebih ringan," ungkapnya.
Perlunya Peran Pemerintah Bantu Generasi Sandwich Punya Rumah
Pengamat Properti sekaligus Director Investment PT Global Asset Management, Steve Sudijanto mengatakan untuk mendorong generasi sandwich punya rumah impian bukan perkara yang mudah untuk dilakukan. Apalagi penghasilan generasi tersebut harus terbagi-bagi menjadi sejumlah pos.
Untuk itu, dia berpendapat pemerintah harus turut membantu generasi tersebut agar bisa memiliki rumah impian. Salah satunya caranya dengan menjalankan skema pembayaran uang muka atau DP bisa dicicil.
"Kalau saya bilang selama tahun pertama itu tidak dikenakan bunga. Karena pihak sandwich generation ini debitur sandwich generation ini itu masih nyicil uang muka. Jadi generasi sandwich ini di tahun pertama perlu diberikan grace spirit yaitu bebas bunga KPR dan DP-nya bisa diangsur selama 1-2 tahun," kata Steve kepada detikcom beberapa waktu lalu.
"Kenapa? Karena di tahun pertama itu generasi sandwich ini masih nyicil DP. Itu solusinya. Baru di bulan ke-13 mulai dimasukkan bunga KPR yang tidak diskonto. Bunga KPR diskonto. Bunga KPR diskonto itu artinya begini. Pada tahun ke-2 ke-3 itu bunga KPRnya atau ke-4 itu di diskonto artinya disubsidi oleh pemerintah," sambungnya.
Dia mengatakan skema tersebut bisa dijalankan kalau sudah terprogram dengan baik. Lewat skema tersebut diharapkan pada tahun ke 5 generasi sandwich sudah lebih mapan dari tahun sebelumnya.
"Nah floating-nya itu juga di-fix. Umpamanya tidak melebihi 9% atau tidak melebihi 10%. Jadi semuanya itu sudah terprogram dengan baik yang penting jabatan bunga penghasilan generasi sandwich itu di tahun ke-5 ke atas itu sudah mapan," tuturnya.
Selain itu, dia berpandangan skema DP 0% dengan tenor panjang mencapai 25 sampai 30 tahun juga bisa memberikan kemudahan kepada generasi tersebut untuk mendapatkan rumah impian.
"Bisa, yang penting kalau dengan skema yang ada DP 0% terus sampai 20-35 tahun bisa. Terpenting grace periodnya itu diperpanjang dari bulan ke-0 sampai bulan ke-24 ditambahin ada grace period. Jadi selama bulan ke-0 sampai bulan ke-24 hanya bayar pokoknya. Tanpa harus bayar bunganya," ungkapnya.
Selain itu, dia berpesan potensi untuk terciptanya generasi sandwich masih sangat terbuka lebar di masa depan. Menurutnya, hal tersebut perlu diwaspadai agar kehidupan generasi mendatang tidak menjadi lebih berat.
Menurutnya, ada sejumlah faktor yang menyebabkan potensi generasi sandwich tumbuh subur di masa mendatang, salah satunya pola konsumtif yang kerap dilakukan oleh anak muda saat ini.
Dia berpandangan banyak anak muda yang saat ini cenderung lebih mengutamakan status sosial seperti memiliki barang mewah hingga liburan ke tempat-tempat yang kerap menguras isi kantong. Di satu sisi, tidak sedikit juga orang tua yang menghabiskan uang pensiun mereka untuk memaksimalkan pendidikan anak-anaknya.
"Lifestyle, consumerism yaitu yang mendorong anak-anak itu menjadi boros tidak mementingkan yang pertama yaitu education sebagai sarana untuk jenjang karirnya. Generasi sandwich itu tidak melulu yang salah orang tuanya," jelasnya.
"Itu yang membuat cara berpikir mereka keuangan mereka itu kocar kacir. Kalau keuangannya mereka kocar kacir yang disalahkan siapa orang tuanya," tutupnya.
(anl/ega)

