Di tanah suci Makkah, ada satu bangunan ikonik yang berdiri di sekitar Ka'bah, yaitu menara jam yang dikenal Makkah Royal Clock Tower. Letaknya tepat di samping Masjidil Haram. Namun, siapa sangka bahwa menara yang merupakan bagian dari kompleks Abraj Al Bait ini dulunya merupakan sebuah benteng pertahanan Mekkah yang dirobohkan.
Benteng Ajyad dikenal sebagai kubu pertahanan peninggalan era Kesultanan Utsmaniyah. Bangunan ini pernah berdiri kokoh di perbukitan yang menghadap langsung ke Masjidil Haram, Makkah. Namun, benteng berusia lebih dari dua abad itu kini tinggal catatan sejarah setelah dihancurkan pada 2002 untuk memberi ruang bagi pembangunan kompleks pencakar langit Abraj Al Bait.
Keberadaan benteng ini dahulu bukan sekadar bangunan militer, melainkan bagian penting dari sistem pertahanan kota suci Makkah. Posisinya yang strategis membuat Benteng Ajyad menjadi simbol perlindungan bagi Ka'bah dan jamaah haji dari berbagai ancaman, terutama pada masa kekuasaan Ottoman di wilayah Hijaz.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Transformasi kawasan Benteng Ajyad menjadi pusat pembangunan modern kemudian memunculkan perdebatan panjang. Di satu sisi, proyek tersebut ditujukan untuk meningkatkan fasilitas jamaah, tetapi di sisi lain memicu kritik keras terkait penghapusan warisan sejarah Islam yang bernilai tinggi.
Sejarah Benteng Ajyad
Dilansir dari Arab News yang tayang pada 2002, Benteng Ajyad dibangun sekitar tahun 1775 hingga 1780 Masehi oleh pemerintahan Kesultanan Utsmaniyah di atas Bukit Bulbul, sebuah kawasan perbukitan yang menghadap langsung ke Masjidil Haram. Benteng ini mencakup area sekitar 23.000 meter persegi dan menjadi bagian dari sistem pertahanan bersama benteng lain di sebelah barat dan utara, Benteng Lala dan Hindi.
Benteng Ajyad berfungsi melindungi kota suci dari serangan pemberontak dan ancaman eksternal hingga awal abad ke 20. Setelah Raja Abdul Aziz Al-Saud memasuki Makkah pada tahun 1923, benteng tersebut kemudian diwakafkan untuk kepentingan Masjidil Haram dan tetap berdiri sebagai penanda sejarah Ottoman di Makkah selama beberapa dekade berikutnya.
Benteng Dirobohkan Untuk Perluasan Fasilitas Jamaah
Pihak berwenang Arab Saudi mulai merobohkan Benteng Ajyad pada Januari 2002 setelah mendapat persetujuan dari Raja Fahd. Pembongkaran dilakukan untuk membuka jalan bagi proyek pembangunan komersial dan perhotelan bernilai miliaran riyal Saudi.
Berdasarkan publikasi The International Committee of the Fourth International, penghancuran benteng tersebut sempat memicu kecaman internasional, terutama dari Turki, yang memandang tindakan itu sebagai penghapusan warisan sejarah Ottoman. Meski sempat ada wacana pelestarian atau rekonstruksi benteng, rencana tersebut akhirnya dibatalkan dan benteng dihancurkan sepenuhnya.
Benteng Digantikan Proyek Menara Jam
Proyek pengganti Benteng Ajyad mencakup pembangunan 11 menara hunian, hotel bintang lima menara kembar, pusat perbelanjaan, dan apartemen mewah. Proyek ini merupakan bagian dari King Abdulaziz Endowment yang bertujuan mendukung pembiayaan dan pemeliharaan Masjidil Haram.
Kompleks tersebut kemudian dikenal sebagai Abraj Al Bait atau Menara Jam Makkah. Konstruksi dimulai pada tahun 2004 dan rampung sekitar tahun 2011 hingga 2012. Berdirinya proyek megah ini menjadikannya salah satu kompleks bangunan terbesar dan paling mencolok di dunia Islam, sekaligus menandai peralihan lanskap
Kini, kisah Benteng Ajyad menjadi pengingat penting tentang persimpangan antara pelestarian sejarah dan tuntutan modernisasi di kota suci Makkah. Meski fisiknya telah tiada, jejak sejarah benteng ini tetap hidup dalam sejarah dunia Islam sebagai simbol warisan yang pernah mengawal Ka'bah dan para jamaah haji.
(das/das)










































