Bisnis kos-kosan semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Bagaimana tidak, kini tak hanya hadir kos-kosan murah yang harganya ramah di kantong, tapi ada juga kosan eksekutif untuk kalangan atas.
Kebutuhan kos-kosan juga terus meningkat terutama di kota besar seperti Jakarta. Di beberapa kawasan seperti Kuningan, Bendungan Hilir, dan Setiabudi kini ada banyak kos-kosan untuk para pekerja kantoran.
Di sisi lain, bisnis kontrakan juga tak kalah menguntungkan. Sebab, banyak masyarakat yang kini memilih tinggal di kontrakan karena harga rumah tapak yang semakin mahal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua bisnis di bidang properti ini sama-sama menggiurkan. Pada akhirnya, beberapa orang justru kebingungan ini memulai bisnis kos-kosan atau kontrakan. Lantas, mending pilih yang mana ya?
Pengamat properti sekaligus Director of Investment Global Investment Steve Sudijanto menyarankan agar memulai bisnis kos-kosan. Sebab, modal yang dibutuhkan lebih kecil dan bisa mendapatkan cash flow alias arus kas lebih cepat.
"Kami usulkan memulai dengan bisnis kos-kosan karena modalnya lebih kecil dan bisa cepat mendapatkan cash flow yang lebih cepat setelah kos-kosan berdiri," kata Steve saat dihubungi detikcom, Jumat (13/2/2026).
Steve menyebut bisnis kontrakan dinilai lebih rumit karena modal awalnya sudah besar. Modal tersebut digunakan untuk mendirikan kontrakan beberapa petak dengan spesifikasi tertentu, mulai dari standar atau ekonomis.
Lalu, ia menilai tidak banyak orang yang berminat untuk membayar kontrakan dalam waktu 1-2 tahun secara di muka. Beberapa orang lebih memilih membayar kontrakan dalam hitungan per bulan.
"Contohnya ada 1 rumah kontrakan biaya sewanya per tahun sekitar Rp 100 juta, ditambah deposit kerusakan Rp 10 juta maka total Rp 110 juta. Di angka tersebut, banyak yang mikir-mikir untuk mengeluarkan uang sebesar itu," ujar Steve.
Steve menyebut bisnis kos-kosan lebih menguntungkan karena jumlah peminatnya saat ini sangat banyak. Maka dari itu, kos-kosan sangat menjamur di kota-kota besar.
Bisnis ini juga tidak harus dimulai dengan membangun kosan baru, tapi bisa menggunakan aset properti yang ada saat ini. Rumah tersebut bisa direnovasi dengan cara diperluas atau ditingkatkan agar dapat membangun beberapa pintu kamar kos.
"Contohnya ada rumah keluarga besar yang lumayan luas di Menteng. Nah itu kita renovasi untuk dioptimalkan menjadi kos-kosan eksekutif dengan fasilitas kamar mandi dalam, water heater, parkiran mobil tersedia, dan fasilitas laundry yang bisa pakai jasa pihak ketiga alias laundry kiloan," tutur Steve.
Meski bisa mendatangkan cuan, tetapi bisnis kosan perlu dikelola secara tepat. Salah satu hal yang harus perlu diperhatikan adalah lokasi kos-kosan yang berada di tempat strategis, seperti dekat perkantoran atau kampus.
Karena pada dasarnya, kos-kosan dibangun untuk memudahkan orang agar bisa mencapai ke tempat tujuannya dengan cepat. Bayangkan jika kosan dibangun jauh dari perkantoran atau transportasi umum, tentu tidak ada yang minat.
"Perlu dicatat, lokasi kos-kosan harus strategis seperti di dekat lingkungan perkantoran, kampus, dan TOD atau Transit Oriented Development, sehingga kos-kosan tersebut bisa dijangkau dengan mudah," paparnya.
Penting juga untuk menentukan segmen kos-kosan itu sendiri, apakah untuk kalangan mahasiswa, pekerja kantoran, atau kos-kosan elite yang banyak dijadikan sebagai tempat tinggal. Tentu, harga sewanya juga berbeda tergantung dari golongan kosan.
"Misalnya, kos-kosan eksekutif di Jakarta harganya bisa Rp 2,5 sampai dengan Rp 3 juta per bulan, kalau kos-kosan karyawan sekitar Rp 1 sampai dengan Rp 2 juta per bulan, lain halnya dengan kos-kosan mahasiswa yang harganya sekitar Rp 750 ribu sampai Rp 1,5 juta per bulan," pungkas Steve.
(ilf/abr)











































