The Witch House dikenal sebagai satu-satunya bangunan yang masih berdiri dan memiliki keterkaitan langsung dengan Pengadilan Penyihir Salem tahun 1692. Bangunan ini sering disebut sebagai 'Rumah Penyihir' karena hubungannya dengan peristiwa eksekusi massal akibat tuduhan sihir.
Rumah ini merupakan bekas kediaman Hakim Jonathan Corwin. Adalah salah satu tokoh penting dalam pengadilan sihir di Salem, Massachusetts, Amerika Serikat.
The Witch House menjadi simbol fisik terakhir dari histeria sosial yang menewaskan puluhan orang tak bersalah. Selain itu, bangunan tersebut juga menjadi satu-satunya bangunan yang tersisa dengan hubungan langsung ke persidangan, menjadikannya situs sejarah utama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari situs resmi Pemerintah Kota Salem, Corwin membeli rumah tersebut pada tahun 1675 saat berusia 24 tahun dan menempatinya selama lebih dari 40 tahun. Ia tinggal di sana hingga akhir hayatnya pada tahun 1718 dan dimakamkan di Pemakaman Broad Street yang lokasinya berdekatan.
Peran Corwin dalam Pengadilan Sihir
Corwin adalah seorang pedagang kaya yang kemudian diangkat menjadi hakim dalam Court of Oyer and Terminer pada tahun 1692. Court of Oyer merupakan pengadilan khusus yang dibentuk karena penjara mulai penuh akibat membeludaknya tuduhan sihir di Salem dan wilayah sekitarnya. Nama Oyer and Terminer berasal dari bahasa Prancis kuno yang berarti mendengar dan memutuskan.
Court of Oyer and Terminer hanya menangani perkara sihir dan tidak mengurusi kejahatan umum lainnya. Pengadilan ini menerima bukti spektral, yakni kesaksian seseorang yang mengaku diserang roh terdakwa dalam mimpi atau penglihatan. Praktik inilah yang kemudian dianggap sebagai salah satu kesalahan hukum paling fatal dalam sejarah Amerika.
Sebagai salah satu hakim, Jonathan Corwin duduk bersama John Hathorne dalam memimpin pemeriksaan para terdakwa. Corwin dan Hathorne dikenal tak kenal lelah dalam mencari pengakuan dan sejak awal meyakini bahwa para terdakwa bersalah. Keduanya berperan penting dalam interogasi tokoh-tokoh utama, termasuk mantan pendeta Salem Village, George Burroughs.
Dalam waktu singkat, pengadilan tersebut menjatuhkan hukuman mati kepada 19 orang yang dieksekusi dengan cara digantung di Gallows Hill. Seluruh korban bersikeras bahwa mereka tidak bersalah dan menolak mengakui tuduhan melakukan sihir. Selain itu, seorang pria lanjut usia bernama Giles Corey tewas setelah disiksa dengan cara ditindih batu besar karena menolak memberikan pengakuan.
Beberapa catatan menyebutkan bahwa pemeriksaan awal terhadap para tersangka diduga tidak hanya dilakukan di gedung resmi. Proses interogasi tersebut dipercaya turut berlangsung di rumah pribadi milik Hakim Jonathan Corwin. Namun, hingga kini klaim tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.
Arsitektur dan Pelestarian The Witch House
Secara arsitektural, The Witch House merupakan contoh autentik rumah New England abad ke-17. Bangunan ini menampilkan struktur kayu, atap curam, serta tata ruang yang mencerminkan gaya hidup kalangan elite Puritan. Rumah ini juga menggambarkan posisi sosial Corwin sebagai pejabat dan saudagar berpengaruh pada masanya.
Pada tahun 1940-an, The Witch House sempat terancam dihancurkan akibat rencana pelebaran jalan di pusat kota Salem. Namun, sekelompok warga mengumpulkan dana lebih dari US$ 42 ribu atau sekitar Rp 706 juta (kurs Rp 16.830) untuk memindahkan dan merestorasi bangunan tersebut. Upaya ini menjadi awal gerakan pelestarian sejarah yang melahirkan Historic Salem, Inc.
Saat ini, The Witch House resmi dibuka sebagai museum pada tahun 1948. Museum ini menyajikan informasi tentang arsitektur, perabotan, dan kehidupan sosial abad ke-17 sekaligus menjadi saksi kelam Pengadilan Penyihiran Salem. Hingga kini, rumah ini berdiri sebagai pengingat nyata bahaya ketakutan massal dan kegagalan keadilan dalam sejarah.
(das/das)










































