Industri properti nasional diperkirakan masih akan tumbuh pada 2026. Sejumlah pelaku usaha menilai transaksi berpotensi meningkat seiring stabilitas ekonomi yang relatif terjaga, dukungan kebijakan pemerintah, serta kebutuhan hunian yang tetap tinggi.
Sepanjang 2025, pasar properti menunjukkan tren yang cenderung stabil. Berdasarkan paparan manajemen ERA Indonesia dalam ajang National Business Conference ke-34 di Jakarta, transaksi tahun lalu tercatat tumbuh sekitar 9% dibandingkan 2024.
Presiden Direktur ERA Indonesia, Darmadi Darmawangsa, mengatakan pasar sekunder alias rumah seken masih menjadi penopang utama transaksi. "Sepanjang 2025, sekitar 90% transaksi berasal dari pasar sekunder, sementara pasar primer sekitar 10%. Namun pasar primer mulai menunjukkan pergerakan positif berkat insentif pemerintah dan promosi pengembang," ujar Darmadi dalam keterangannya, Jumat (12/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darmadi beralasan, pasar rumah seken masih mendominasi lantaran karakteristiknya lebih fleksibel. Masyarakat masih menaruh kepercayaan besar terhadap produk properti yang sudah ready stock, kawasannya sudah terbentuk, dan yang tak kalah penting adalah punya ruang negosiasi harga. Di sisi lain, pasar primer mulai terdorong oleh insentif fiskal, termasuk kebijakan pajak pertambahan nilai (PPN) yang sebelumnya digulirkan pemerintah untuk mendukung sektor perumahan.
Tak hanya jual beli, tren sewa juga disebut mengalami peningkatan, terutama untuk properti komersial seperti restoran dan gudang. Kondisi ini dipengaruhi oleh sikap konsumen dan pelaku usaha yang cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian jangka panjang.
Dari sisi produk, rumah tapak masih mendominasi transaksi sepanjang 2025. Segmen lain seperti ruko, apartemen, dan gudang juga mencatat aktivitas, terutama di kota-kota besar dengan dukungan infrastruktur yang memadai. Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung, dan Surabaya disebut sebagai wilayah dengan pergerakan transaksi yang relatif kuat.
Memasuki 2026, sejumlah pelaku industri menargetkan pertumbuhan yang lebih agresif. ERA Indonesia, misalnya, membidik kenaikan transaksi hingga 25% tahun ini. Namun perusahaan tetap mewaspadai sejumlah faktor, mulai dari pergerakan suku bunga, daya beli masyarakat, hingga dinamika ekonomi global.
"Peluang tetap ada, tetapi tantangan juga harus diperhitungkan. Stabilitas ekonomi dan dukungan kebijakan akan sangat menentukan arah pasar," kata Darmadi.
(zlf/zlf)











































