Mal pada umumnya digunakan masyarakat untuk berbelanja kebutuhan atau sekadar jalan-jalan. Namun, bagaimana jadinya jika sebuah mal malah disulap menjadi apartemen?
Yap, detikers tidak salah dengar. Sebuah mal di Amerika Serikat (AS) telah berubah fungsi menjadi apartemen. Mal itu bernama Arcade Providence yang terletak di Rhode Island, AS.
Mal tersebut bukan sekadar pusat perbelanjaan biasa, melainkan mal indoor tertua di Negeri Paman Sam yang telah berdiri sejak 1828. Desain arsitektur mal ini mengusung gaya Yunani klasik yang dipadukan dengan Victorian, sehingga terlihat megah dan mewah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arcade Providence saat masih ramai dikunjungi masyarakat. Foto: Wikimedia Commons/Public Domain |
Dahulu, Arcade Providence merupakan salah satu mal yang paling ramai di AS dan berlangsung selama puluhan tahun. Sayangnya, kebiasaan orang berbelanja online membuat mal ini perlahan mulai sepi pengunjung.
Arcade Providence semakin ditinggalkan karena sudah banyak mal lebih modern yang di bangun di sekitar Rhode Island. Di sisi lain, tidak adanya lift pada mal 3 lantai itu membuat jumlah pengunjung semakin turun dan akhirnya banyak toko retail tutup.
Pada 2008, Arcade Providence akhirnya ditutup karena sudah tidak ada lagi pengunjung. Bangunan berusia ratusan itu terancam dibongkar karena sudah tidak lagi berfungsi sebagai pusat perbelanjaan.
Bagian dalam Arcade Providence. Foto: Dok. Sotheby's Realty |
Namun, sebuah ide muncul dengan menyulap mal tersebut menjadi sebuah apartemen. Dengan begitu, bangunan mal bisa dialih fungsikan menjadi hunian yang nyaman dengan harga terjangkau.
Di sisi lain, permintaan hunian di tengah kota semakin meningkat karena urbanisasi, sedangkan lahan di kota sangat terbatas dan harganya mahal. Alhasil, ide mengubah Arcade Providence menjadi apartemen bukan lagi isapan jempol belaka.
Dikutip dari Business Insider, Rabu (11/2/2026), bangunan mal Arcade Providence kemudian disulap menjadi apartemen. Bangunan yang dinyatakan sebagai Landmark Bersejarah AS itu tidak dirobohkan, hanya saja toko-toko retail diubah menjadi 48 unit apartemen studio dengan luas sekitar 28-65 m2.
Salah satu unit apartemen di Arcade Providence. Foto: Dok. Sotheby's Realty |
Proses renovasi itu dimulai sejak 2012 dan rampung pada 2016. Bagian mal yang direnovasi termasuk memasang lift dan memperbanyak jumlah tangga, sehingga penghuni dapat dengan nyaman naik dan turun.
Untuk unit apartemen sudah full furnish lengkap dengan tempat tidur, lemari pakaian, sofa, TV, kulkas mini, dishwasher, microwave, dan kitchen sink. Sayangnya, tidak ada kompor atau oven sehingga penyewa harus membelinya sendiri.
Karena keterbatasan tempat dan peraturan perumahan di Rhode Island, apartemen ini tidak punya pembatas antara kamar tidur dan dapur. Kamar tidurnya juga tidak memiliki pintu karena dinilai akan menciptakan tempat tidur yang terlalu sempit oleh Dewan Kota.
Menariknya, hanya lantai 1 dan 2 mal saja yang diubah menjadi apartemen. Sementara area lantai dasar tetap digunakan sebagai pusat perbelanjaan dengan hadirnya sejumlah tenant baru.
"Atrium di area tengah mal tidak hanya menyediakan cahaya yang bisa masuk ke setiap unit apartemen, tapi juga menjadi 'jalan umum' yang menghubungkan para tetangga," kata ketua pengembang The Arcade Providence saat itu, Evan Granoff.
Saat pertama kali dibuka pada 2016, harga sewa satu unit apartemen di Arcade Providence sekitar US$ 800-1.800 per bulan, tergantung dari luas apartemen yang dipilih. Kini, harga sewanya sudah naik menjadi US$ 1.000-2.000 atau sekitar Rp 16 juta-33 juta per bulan (kurs Rp 16.780).
(ilf/das)













































