Pasar hunian di wilayah Tangerang sepanjang 2025 hingga awal 2026 berada dalam fase penyesuaian seiring dinamika ekonomi makro dan perubahan perilaku konsumen. Meski penjualan belum ekspansif, aktivitas pengembangan hunian masih terus digenjot oleh pengembang.
Tangerang tetap menjadi salah satu wilayah utama pengembangan properti residensial di Jabodetabek. Pertumbuhan penduduk, kedekatan dengan pusat aktivitas ekonomi, serta dukungan infrastruktur transportasi menjadi faktor yang menjaga relevansi kawasan ini sebagai lokasi hunian jangka menengah dan panjang.
Dari sisi produk, rumah tapak dua lantai masih menjadi tipe hunian yang banyak dikembangkan. Model ini dinilai mampu menjawab keterbatasan lahan di kawasan perkotaan, sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga urban akan ruang yang lebih fungsional. Selain itu, pengembangan dalam kawasan terpadu dengan fasilitas yang telah terbentuk menjadi pendekatan yang umum diterapkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PT Modernland Realty Tbk, salah satu pengembang yang beroperasi di Tangerang, baru-baru ini memperkenalkan rumah contoh untuk salah satu produk huniannya di kawasan Kota Modern Tangerang. Kegiatan ini mencerminkan strategi pengembang dalam menjaga kesinambungan pasokan hunian di tengah pasar yang bergerak lebih selektif.
Direktur Residensial dan Komersial PT Modernland Realty Tbk, Sami Miettinen, menyebut bahwa pengenalan rumah contoh menjadi bagian dari upaya memberikan gambaran yang lebih jelas kepada konsumen di tengah proses pengambilan keputusan yang kini cenderung lebih berhati-hati.
"Konsumen saat ini membutuhkan kepastian yang lebih tinggi sebelum mengambil keputusan. Dengan melihat langsung unit terbangun dan lingkungan kawasan, mereka bisa menilai apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhan jangka panjang," ujar Sami dalam keterangannya, Senin (9/2/2026).
Ia menambahkan, dalam kondisi pasar yang tidak sepenuhnya ekspansif, konsumen cenderung lebih rasional dan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari lokasi, fungsi ruang, hingga kematangan kawasan.
Kondisi tersebut sejalan dengan kecenderungan pasar hunian secara umum, di mana konsumen semakin selektif dalam memilih properti. Faktor pembiayaan, stabilitas pendapatan, serta prospek ekonomi menjadi pertimbangan utama, sehingga waktu pengambilan keputusan relatif lebih panjang dibandingkan periode sebelum pandemi.
Di sisi lain, keberadaan kawasan hunian yang telah dilengkapi fasilitas dasar seperti pusat komersial, layanan kesehatan, pendidikan, dan akses transportasi dinilai tetap menjadi daya tarik utama. Kawasan yang telah berkembang memberikan kepastian fungsi lingkungan dan mengurangi risiko bagi konsumen dalam jangka panjang.
Menurut Sami, pendekatan pengembangan hunian ke depan perlu menyesuaikan ritme pasar yang lebih realistis.
"Pasar saat ini bukan tentang pertumbuhan cepat, tetapi tentang keberlanjutan. Pengembang perlu menyesuaikan produk dengan kebutuhan riil dan kondisi daya beli masyarakat," katanya.
(zlf/zlf)











































