Pasar properti residensial di Surabaya sepanjang 2025 berada dalam fase konsolidasi di tengah tekanan ekonomi nasional. Namun, sejumlah indikator menunjukkan bahwa pasar ini masih memiliki prospek yang relatif cerah bagi pelaku usaha dalam jangka menengah, seiring membaiknya arah siklus properti menuju 2026.
Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia, penjualan properti residensial primer secara nasional pada triwulan III 2025 tercatat terkontraksi sebesar -1,29 persen secara tahunan (yoy). Meski masih negatif, capaian tersebut membaik dibandingkan kontraksi -3,80 persen (yoy) pada triwulan II 2025, yang mengindikasikan tekanan pasar mulai mereda.
Di Surabaya, perlambatan pasar terutama terjadi pada segmen rumah menengah yang paling sensitif terhadap daya beli dan biaya pembiayaan. Meski demikian, kondisi ini lebih mencerminkan fase penyesuaian dan konsolidasi pasar, bukan penurunan struktural, mengingat Surabaya tetap berperan sebagai salah satu pusat ekonomi dan hunian utama di Jawa Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi harga, SHPR Bank Indonesia mencatat rumah tipe kecil dan menengah menjadi segmen yang paling terdampak perlambatan sepanjang 2025. Sebaliknya, rumah tipe besar relatif lebih stabil, dengan pertumbuhan harga nasional sekitar 0,72 persen (yoy) pada triwulan III 2025. Stabilitas tersebut menunjukkan bahwa segmen konsumen berdaya beli mapan masih menopang permintaan di kota-kota besar, termasuk Surabaya.
Beberapa faktor yang memengaruhi kinerja pasar sepanjang 2025 antara lain pelemahan daya beli masyarakat, tingginya suku bunga KPR pada awal tahun, serta ketidakpastian ekonomi makro yang membuat konsumen menunda keputusan pembelian. Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk sektor perumahan dinilai membantu menjaga minat, meski belum sepenuhnya mendorong lonjakan transaksi.
Meski berada dalam fase konsolidasi, pasar properti Surabaya tetap dipandang menarik bagi pelaku usaha. Hal ini tercermin dari langkah sejumlah perusahaan properti dan platform pemasaran yang tetap melakukan ekspansi dan penguatan operasional di kota ini.
Salah satunya ditunjukkan oleh Linktown yang pada Rabu (4/2/2026) merelokasi kantor regional Surabaya dari kawasan Surabaya Utara ke Surabaya Pusat. Langkah ini dilakukan untuk mendekatkan pusat operasional dengan kawasan pertumbuhan hunian dan bisnis serta memperkuat penetrasi pasar Jawa Timur.
Co-Founder Linktown, Juniarki Davin, menyatakan bahwa Surabaya masih memiliki potensi pasar yang kuat meskipun pergerakan properti saat ini cenderung lebih selektif. "Pasar tidak sedang ekspansif, tetapi tetap berjalan. Ini justru menjadi momentum bagi pelaku usaha untuk memperkuat fondasi dan kesiapan ketika siklus mulai membaik," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (6/2/2026).
Menurut Co-Founder Linktown lainnya, Deryan Nataniel, Surabaya memiliki karakter pasar yang relatif resilien dengan basis permintaan yang luas. Dengan dukungan agen aktif dan penguatan layanan berbasis teknologi, perusahaan menargetkan kontribusi Surabaya yang lebih signifikan terhadap kinerja nasional dalam jangka menengah.
Bank Indonesia memproyeksikan pasar perumahan nasional berpotensi memasuki fase pemulihan bertahap pada 2026, seiring peluang pelonggaran suku bunga, perbaikan daya beli, serta berlanjutnya dukungan kebijakan pemerintah. Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan kebutuhan hunian yang tetap tinggi, Surabaya dinilai memiliki modal yang cukup untuk kembali mencatatkan pertumbuhan yang lebih sehat dalam beberapa tahun ke depan.
(zlf/zlf)











































