Pasca Pandemi, Tren Hunian di Semarang Bergeser ke Rumah Sehat

Pasca Pandemi, Tren Hunian di Semarang Bergeser ke Rumah Sehat

Wildan Alghofari - detikProperti
Kamis, 05 Feb 2026 16:51 WIB
Pasca Pandemi, Tren Hunian di Semarang Bergeser ke Rumah Sehat
Foto: Ilustrasi lingkungan rumah sehat
Jakarta -

Preferensi masyarakat dalam memilih hunian di Kota Semarang menunjukkan pergeseran dalam beberapa tahun terakhir. Pasca pandemi Covid-19, faktor lingkungan seperti kualitas udara, ketersediaan ruang terbuka hijau, serta kenyamanan mikroklimat mulai menjadi pertimbangan penting, melengkapi faktor klasik seperti lokasi dan aksesibilitas.

Sejumlah pengembang mencatat meningkatnya minat terhadap hunian berkonsep ramah lingkungan, khususnya di wilayah Semarang Barat. Kawasan ini dinilai memiliki kepadatan yang relatif lebih rendah serta potensi pengembangan ruang hijau yang lebih besar dibandingkan area pusat kota.

General Manager CitraLand BSB City, Dessaf Setia Permana, menyebut pandemi berperan sebagai katalis perubahan preferensi konsumen. "Ada pergeseran fokus dari sekadar kedekatan dengan pusat aktivitas menuju kualitas lingkungan dan kesehatan jangka panjang," ujarnya di dalam keterangan, Kamis (5/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu pendekatan desain yang mulai banyak diterapkan adalah inner court, yaitu ruang terbuka di dalam bangunan yang berfungsi untuk meningkatkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami. Secara konseptual, pendekatan ini dinilai dapat menekan konsumsi energi serta meningkatkan kenyamanan ruang, terutama di iklim tropis.

Dari sisi permintaan pasar, hunian dengan pendekatan bangunan hijau tetap menunjukkan daya serap meskipun berada pada rentang harga menengah atas. Hal ini mengindikasikan bahwa faktor lingkungan tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan bagian dari nilai utama hunian bagi segmen tertentu.

ADVERTISEMENT

Dessaf menambahkan, standar bangunan hijau juga semakin relevan seiring meningkatnya aktivitas perusahaan multinasional dan keberadaan warga negara asing (WNA) di kawasan penyangga perkotaan. "Bagi sebagian konsumen, terutama ekspatriat, sertifikasi lingkungan sudah menjadi standar evaluasi," katanya.

Di sisi lain, kebijakan pemerintah turut memengaruhi dinamika pasar. Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian hunian baru hingga 31 Desember 2026 dinilai memberi stimulus tambahan, meskipun bukan faktor utama dalam keputusan pembelian.

Head of Marketing CitraLand BSB City Semarang, Aditya Wibowo, menyebut insentif fiskal cenderung dimanfaatkan oleh konsumen yang telah memiliki rencana pembelian sebelumnya. "Insentif lebih berperan sebagai akselerator keputusan, bukan pemicu awal," ujarnya.

Selain desain bangunan, pengembangan kawasan hunian di Semarang Barat juga diarahkan pada penyediaan ruang terbuka hijau dan fasilitas dasar yang terintegrasi. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pengembangan kawasan berkelanjutan yang mulai diadopsi di sejumlah kota besar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, wilayah barat Semarang termasuk dalam area dengan pertumbuhan ekonomi yang ditopang sektor properti, jasa, dan pendidikan. Perkembangan infrastruktur, termasuk konektivitas Tol Trans Jawa, turut memperkuat pergeseran aktivitas ekonomi dan permukiman ke kawasan tersebut.

Secara umum, tren ini mencerminkan perubahan pola pikir konsumen perkotaan yang semakin menempatkan kesehatan lingkungan dan kualitas hidup sebagai variabel penting dalam keputusan hunian, di samping pertimbangan finansial dan lokasi.




(zlf/zlf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads