Kenapa Nggak Semua Rumah di RI Pakai Genteng?

Kenapa Nggak Semua Rumah di RI Pakai Genteng?

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Kamis, 05 Feb 2026 07:32 WIB
Kenapa Nggak Semua Rumah di RI Pakai Genteng?
Ilustrasi genteng. Foto: Pexels/Miguel Á. PadriñÑn
Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto menggalakkan program baru bernama Gentengisasi. Maksudnya Prabowo ingin rumah-rumah di Indonesia memakai genteng dibandingkan seng yang mudah berkarat dan sering membuat hunian panas.

"Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek Gentengisasi seluruh Indonesia," ujarnya dalam Taklimat Presiden RI pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, dikutip dari Youtube Sekretariat Presiden, Senin (2/2/2026).

Lalu, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2021, genteng bukan material atap yang dipakai setiap daerah. Masih ada jenis material lain yang digandrungi seperti seng, asbes, bambu/kayu/sirap, atau jerami/ijuk/daun/rumbia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika dilihat secara nasional, genteng tetap paling banyak dipakai di Indonesia sekitar 55,86 persen. Di mana pemakai terbesarnya berada di DI Yogyakarta sekitar 94,38 persen, Jawa Timur 91,56 persen, hingga Jawa Tengah 86,35 persen.

Lantas, kenapa masih banyak rumah tidak memakai genteng?

ADVERTISEMENT

1. Mudah Berubah Bentuk

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Bahan Bangunan Indonesia (IPBBI) Gomas Harun mengatakan salah satu alasan genteng tidak dipakai di semua rumah adalah sifat genteng yang bisa berubah karena faktor cuaca. Genteng tanah liat mudah berlumut dan berubah warna dari yang sebelumnya terakota menjadi coklat kehitaman.
Lumut pada genteng tersebut bisa berpengaruh pada kualitasnya jadi mudah retak dan menyebabkan bocor.

"Kalau tanah liat saja itu lama kelamaan bisa berubah karena faktor cuaca, seperti kehitaman dan lumut," kata Gomas pada Rabu (4/2/2026).

Oleh karena itu, sekarang dibuat inovasi produk genteng keramik dan atap logam seperti galvalum yang tidak mudah berubah bentuk dan tidak berkarat.

2. Terlalu Banyak Celah

Gomas menjelaskan alasan atap sering bocor, salah satu penyebabnya adalah terdapat banyak celah di atas. Semakin sedikit celah yang terbentuk pada bagian atas, berarti tidak ada jalan masuk air. Cara mengetahuinya adalah jika tidak ada cahaya yang terlihat dari atap berarti atap terpasang dengan rapat dan minim celah.

Sementara itu, pemasangan keramik bertumpuk, tidak semua rata. Antara tumpukan tersebut terdapat celah yang tidak begitu terlihat dari luar. Apabila pemasangannya tidak rapi dan hati-hati celah itu bisa jadi celah masuk air.

"Terus permasalahan atap kita itu, apalagi atap genteng. Atap genteng kita itu kan kadang nggak presisi," sebutnya.

Oleh karena itu, sekarang banyak jenis material baru, seperti atap flat bitumen.

3. Jika Rusak, Banyak yang Diperbaiki

Ketika ada keramik yang rusak, seperti pecah, retak, atau geser, perbaikannya perlu berhati-hati. Sering kejadian genteng yang diganti bukan hanya pada bagian yang rusak, melainkan sekitarnya ikut retak. Penyebabnya genteng lain tertimpa beban berlebih. Sebagai contoh hendak memperbaiki genteng rusak malah salah injak. Seharusnya menginjak tulangan atap, justru menginjak gentengnya.

4. Mahal

Saat ini banyak material atap yang tersedia di pasaran. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Terkadang kelebihan dari satu produk merupakan kekurangan dari produk lain. Semakin bagus produknya, harganya bisa semakin mahal.

Sebagai contoh genteng tanah liat biasa lebih terjangkau dari genteng keramik. Alasannya genteng keramik memiliki lapisan tambahan di permukaannya sehingga tidak mudah menyerap air dan nggak cepat berlumut.

Lalu, banyak rumah subsidi tidak memakai genteng, lebih memilih seng, galvalum, spandek, atau atap beton karena harganya lebih murah dari genteng.

5. Budaya

Rumah di Indonesia tidak seragam memakai genteng karena dipengaruhi oleh budaya. Seperti yang kita ketahui rumah tradisional di Indonesia bentuknya berbeda-beda. Banyak atap yang memakai bahan seadanya, seperti bambu/kayu/sirap atau jerami/ijuk/daun/rumbia.

Daya tahannya memang jauh di bawah genteng. Namun, materialnya lebih cocok dengan struktur atap pada masa itu. Sebagai contoh rumah di Sumba, dikutip dari jurnal Struktur Rangka Atap Rumah Tradisional Sumba yang ditulis oleh Esti Asih Nurdiah dan Agus Dwi Hariyanto mahasiswa Universitas Kristen Petra Surabaya, penutup atap rumah Sumba memakai ilalang, salah satu jenis rumput liar.

Berdasarkan data BPS pada 2021, Sumba yang berada di Nusa Tenggara Timur masih ada 5,19 persen rumah yang memakai atap dari Jerami/Ijuk/Daun/Rumbia. Ini merupakan material terbesar kedua setelah seng yang dipakai oleh 92,86 persen rumah di sana. Sementara itu, genteng hanya 0,93 persen saja.

Kenapa Genteng Tetap Dominan Dipakai di RI?

Meskipun genteng bukan material atap yang sempurna, genteng banyak dipercaya karena cocok untuk rumah di negara tropis. Tanah liat yang dipakai tidak menyerap panas sehingga rumah bisa tetap adem sepanjang hari meskipun di luar panas terik.

Selain itu, produksinya pun mudah. Menurut Gomas, saat ini produsen terbesar genteng adalah produsen lokal hanya sekitar 5 persen yang diimpor. Produksi genteng di Indonesia juga punya sejarah panjang.

Awalnya produsennya adalah petani-petani di luar masa panen atau pada saat sawah tidak produktif. Mereka memproduksi genteng hingga batu bata. Namun, seiring kebutuhannya yang besar, muncullah berbagai perusahaan genteng tanah liat yang memiliki pabrik dan bisa memproduksi secara masif.

(aqi/das)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads