Ketua Umum Ikatan Pengusaha Bahan Bangunan Indonesia (IPBBI) Gomas Harun mengungkapkan produksi genteng tanah liat di Indonesia saat ini masih dipimpin oleh produsen lokal. Hanya sekitar 5 persen di antaranya diimpor dari Cina.
"Kalau tanah liat sih mayoritas sudah industri lokal, baik yang produksi rumahan atau pabrikan. Impor sepertinya sedikit sekali persentasenya paling 5 persen dan sudah tidak bisa bersaing (dengan produk lokal)," kata Gomas saat dihubungi detikcom pada Rabu (4/2/2026).
Produsen genteng tanah liat terbesar berada di beberapa titik, di antaranya adalah Jatiwangi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perlu diketahui jenis genteng saat ini sudah beragam. Bukan hanya yang konvensional, melainkan ada genteng keramik (permukaan berglasir). Jenis satu ini juga terbuat dari tanah liat, tetapi permukaannya tidak menyerap air karena permukaannya dilapisi keramik sehingga tampak licin dan keras. Namun, jenis satu ini lebih mahal dan lebih berat dari genteng tanah liat konvensional.
Menurut Gomas, untuk jenis genteng keramik masih banyak yang diimpor. Sebab, permintaan pasar cukup besar, bukan hanya untuk perumahan, banyak yang dipakai pada rumah ibadah, seperti vihara dan klenteng. Lalu, bangunan Kedutaan Besar Cina juga memakai genteng keramik.
Ilustrasi genteng keramik. Foto: Unsplash/Willy the Wizard |
Baca juga: Membaca Arah Gagasan Gentengisasi Prabowo |
Banyak yang beralih ke genteng keramik karena genteng tanah liat yang konvensional mudah lembap karena menyerap air. Apabila selalu basah dan lembap, permukaannya mudah berlumut sehingga terjadi perubahan tampilan dari yang semula berwarna terakota menjadi coklat kehitaman.
Gomas mengungkapkan Indonesia masih bisa memproduksi genteng tanah liat karena pada awalnya produsen terbesarnya berasal dari petani-petani yang menunggu musim panen atau saat sawah sedang tidak produktif. Mereka akan memproduksi genteng hingga batu bata. Namun, seiring kebutuhannya yang besar, muncullah berbagai perusahaan genteng tanah liat yang memiliki pabrik dan bisa memproduksi secara masif.
Ia berharap dengan adanya program dari Presiden Prabowo Subianto, Gentengisasi, para pengusaha genteng tanah liat bisa mengajak petani-petani untuk membuat genteng. Dengan begitu di luar musim panen, petani-petani bisa mendapatkan penghasilan dari produksi genteng.
"Pabrik-pabrik turunan dari keramik itu harus kasih kesempatan ke mereka, bila perlu mereka edukasi, dan hasil produk dari desa ini mereka beli. Nah, pabrik itu kan cukup bikin keramik, bikin granit. Kalau kooperasi desa orang di pedesaan industri kecil kan nggak mungkin bikin keramik. Jadi biar ada CSR-nya juga, jadi dibina. Kemudian dikasih teknologi," tutur Gomas.
Sementara itu, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2021, genteng merupakan material atap yang paling banyak dipakai di Indonesia sekitar 55,86 persen. Di mana pemakai terbesarnya berada di 94,38 persen, Jawa Timur 91,56 persen, hingga Jawa Tengah 86,35 persen.
(aqi/das)











































