Bayangkan berada di Tiongkok, tetapi suasana di sekitar justru menyerupai desa klasik Inggris yang lengkap dengan jalan berbatu, bangunan Tudor, dan kotak telepon merah yang khas. Itulah Thames Town, kawasan kota yang menyerupai gaya kota Inggris. Alih-alih dipenuhi kehidupan dan aktivitas warga, kawasan ini justru menjadi kota yang sunyi dan minim penduduk.
Thames Town terletak di Distrik Songjiang, sekitar 30 kilometer dari pusat Shanghai. Thames Town berdiri sebagai salah satu eksperimen arsitektur paling unik di Tiongkok. Kawasan ini dirancang menyerupai kota pasar Inggris, menghadirkan nuansa Eropa yang kontras dengan lanskap perkotaan modern China.
Meski secara visual memukau dan sering dijadikan lokasi foto pernikahan, Thames Town kerap disebut sebagai kota hantu. Target populasi ribuan penduduk tak pernah tercapai, menyisakan pertanyaan besar tentang keberhasilan konsep kota bertema dalam perencanaan urban modern.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thames Town di China Foto: Dok. BBC |
Dibangun dengan Ambisi Global dalam Skala Lokal
Dilansir dari BBC, Senin (26/1/2026), Thames Town dibangun sebagai bagian dari program ambisius Shanghai bertajuk One City, Nine Towns yang diluncurkan pada tahun 2001. Program ini bertujuan mengurangi kepadatan pusat kota dengan membangun kota-kota satelit di pinggiran, masing-masing mengusung tema arsitektur internasional.
Dalam program, tersebut, Thames Town dirancang sebagai kota dengan representasi Inggris. Kawasan ini ditargetkan menjadi lingkungan hunian dan komersial modern dengan nuansa Eropa, sekaligus simbol Shanghai sebagai kota global yang terbuka terhadap pengaruh budaya luar.
Pembangunan Thames Town rampung pada tahun 2006 dengan luas sekitar satu kilometer persegi dan target populasi sekitar 10.000 orang. Namun sejak awal, kawasan ini lebih banyak menarik investor ketimbang penghuni tetap, sehingga fungsi kota sebagai komunitas hidup tidak pernah benar-benar terwujud.
Arsitektur Kota Inggris dalam Versi Replika
Thames Town dirancang oleh arsitek Inggris, Tony Mackay yang direkrut untuk menghadirkan nuansa Inggris secara autentik. Jalanan berbatu, bangunan bergaya Tudor, gereja bergaya Gotik, pub khas Inggris, hingga bilik telepon merah menjadi elemen utama kawasan ini.
Sejumlah bangunan bahkan meniru langsung arsitektur Inggris, seperti gereja yang terinspirasi dari Christ Church di Bristol, serta deretan rumah dengan bangunan setengah kayu ala desa Cotswolds. Nama jalan dan tata ruang publik, sengaja dibuat menyerupai kota pasar Inggris dengan alun-alun sebagai pusat aktivitas.
Namun, Mackay sendiri mengkritik hasil akhirnya. Ia menyebut proporsi bangunan, material batu, hingga bangunan Tudor bertingkat tinggi membuat kawasan ini terasa seperti lokasi syuting film, bukan kota yang tumbuh secara alami. Banyak pengamat menyebut arsitekturnya sebagai plagiat yang indah secara visual, tetapi kehilangan konteks sosial dan budayanya yang khas.
Thames Town di China Foto: Dok. BBC |
Thames Town Menjadi Kota Sepi Penduduk
Melansir New Cities Atlas, salah satu penyebab utama sepinya Thames Town adalah tingginya harga properti. Sebagian besar rumah dibeli sebagai investasi atau rumah kedua oleh warga kelas menengah atas Shanghai, bukan sebagai tempat tinggal permanen.
Lokasi Thames Town yang relatif jauh dari pusat bisnis Shanghai juga membuatnya kurang efisien bagi pekerja harian. Minimnya penduduk tetap berdampak langsung pada aktivitas ekonomi. Banyak toko dan restoran tutup karena kekurangan pelanggan.
Akibatnya, Thames Town lebih berfungsi sebagai destinasi wisata arsitektur dan lokasi foto pernikahan ketimbang kota hunian. Pada akhir pekan kawasan ini bisa ramai, tetapi pada hari biasa, kawasan bergaya Inggris itu kembali sunyi.
Kisah Thames Town menunjukkan bahwa membangun kota tidak cukup hanya mengandalkan keindahan arsitektur dan konsep global yang menarik. Tanpa perencanaan sosial dan ekonomi yang matang. Kota dengan desain seindah apa pun berisiko berubah menjadi kota sepi dan minim kehidupan.
(das/das)


