Sebuah penelitian terbaru mengungkap teori tentang cara tersembunyi yang digunakan untuk membangun Piramida Agung Khufu di Giza, Mesir. Studi ini menunjukkan bahwa teknik konstruksi yang dipakai ternyata jauh lebih maju dibandingkan perkiraan sebelumnya tentang cara konstruksi bangunan di era Mesir Kuno.
Selama ini, proses pembangunan Piramida Agung menjadi misteri besar bagi para arkeolog. Tidak adanya catatan kuno yang menjelaskan secara detail bagaimana jutaan balok batu berukuran sangat besar bisa diangkat dan disusun dalam waktu relatif singkat membuat banyak misteri belum terjawab.
Selama puluhan tahun, teori yang paling umum menyebutkan bahwa piramida dibangun dengan jalur landai dari luar, disusun sedikit demi sedikit dari bawah ke atas. Namun, teori ini dinilai kurang masuk akal karena sulit menjelaskan bagaimana balok batu seberat hingga 60 ton bisa diangkat hingga ratusan meter hanya dalam waktu sekitar 2 dekade.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature menawarkan penjelasan berbeda. Studi ini menyebut Piramida Agung kemungkinan dibangun dari dalam ke luar dengan memanfaatkan sistem internal berupa pemberat dan mekanisme yang mirip katrol, yang tersembunyi di dalam struktur piramida.
Jejak Jalur Landai Internal di Balik Galeri Agung Piramida
Dikutip dari Daily Mail, Kamis (22/1/2026), penelitian ini dilakukan oleh Dr. Simon Andreas Scheuring dari Weill Cornell Medicine, New York. Ia menghitung bahwa dengan sistem pemberat yang bisa meluncur, para pekerja saat itu mampu mengangkat dan menempatkan balok batu dengan sangat cepat, bahkan dalam kondisi tertentu bisa mencapai satu balok per menit.
Menurut Scheuring, tenaga sebesar itu tidak mungkin dihasilkan hanya dengan cara menarik batu secara manual. Ia menilai, alat berat yang meluncur menuruni lorong miring di dalam piramida akan menciptakan gaya angkat yang cukup kuat untuk menaikkan balok batu ke bagian atas bangunan.
Studi tersebut juga mengarah pada Galeri Agung dan Lorong Naik yang dinilai berfungsi sebagai jalur landai internal. Bekas goresan dan permukaan dinding yang halus dianggap sebagai tanda adanya kereta luncur besar yang bergerak bolak-balik untuk mengangkut beban berat.
Mekanisme Mirip Katrol Tersembunyi di Ruang Depan Piramida
Selain itu, Ruang Depan yang berada sebelum Kamar Raja juga ditafsirkan ulang. Ruangan yang selama ini dianggap sebagai bagian pengaman makam, diduga sebenarnya berfungsi sebagai alat pengangkat mirip katrol. Pola pahatan di dinding granit, struktur penyangga, dan pengerjaan ruangan yang terlihat kasar dinilai lebih menunjukkan fungsi teknis daripada fungsi ritual.
Dalam rekonstruksi yang dibuat Scheuring, tali dipasang pada balok kayu untuk mengangkat batu granit dengan berat mencapai 60 ton. Sistem ini bahkan diyakini bisa disesuaikan untuk meningkatkan daya angkat sesuai kebutuhan.
Temuan ini menunjukkan betapa canggihnya kemampuan rekayasa dan teknik bangunan yang dimiliki peradaban Mesir Kuno. Bahkan, susunan bagian dalam piramida yang tidak sepenuhnya simetris, seperti posisi Kamar Raja dan Kamar Ratu yang sedikit bergeser dari pusat, dinilai sebagai dampak keterbatasan sistem pengangkatan internal, bukan kesalahan perancangan.
Penelitian ini juga sejalan dengan hasil studi muon terbaru yang tidak menemukan ruang besar tersembunyi di dalam piramida, meski masih ada kemungkinan sisa jalur landai kecil di bagian atas bangunan.
Teori konstruksi internal dengan sistem katrol tersembunyi ini membuka sudut pandang baru yang lebih masuk akal dalam memahami bagaimana Piramida Agung Khufu dibangun dengan tingkat efisiensi dan ketepatan yang luar biasa.
Meski masih memerlukan pembuktian lanjutan melalui penelitian arkeologis dan teknologi pemindaian modern, temuan ini memperkuat anggapan bahwa peradaban Mesir Kuno memiliki pengetahuan teknik yang jauh melampaui zamannya.
(zlf/zlf)











































